
π»π»π»π»π»
Dasar bayi buaya cengeng... begini aja udah seneng banget kayanya...
Air yang langsung memejamkan matanya tak sadar jika Hujan masih memperhatikannya dengan seksama.
Keringat yang membanjiri leher dan keningnya ia usap dengan tissue yang ada di atas nakas, sentuhan lembut itu semakin membuat pemuda yang baru merasakan pelepasan semakin terbuai.
"Jan..."
"Apa?" jawab Hujan yang sudah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Gak jadi deh" ucap Air sambil tersenyum kecil.
"Kenapa?, ngomong aja" kata Hujan yang terlanjur di buat penasaran.
Air menggeleng, ia tak berniat meneruskan ucapannya cukup ia dan bantal Pisangnya yang tahu.
"Wah, main rahasia-rahasiaan ya?" goda Hujan, kini ia tidur dengan posisi menyamping membuat Air ikut melakukan hal yang sama.
Keduanya kini saling berhadapan, dibawah selimut yang sama tangan mereka saling menggenggam lembut.
"Gue takut Lo ninggalin gue, Jan" lirih Air, entah kenapa ia tiba-tiba ia mengatakan hal itu.
"Gue gak kemana-mana, Ay. cuma rumah sama kampus aja" jawab Hujan santai, ia mencoba menghibur buaya Cengengnya yang mendadak serius.
"Jangan pergi ya!" pintanya dengan suara parau.
"Kenapa sih, Ay?" Hujan semakin di buat penasaran saat suaminya justru sudah menitikan air mata.
"Gak tau, pengen nangis aja"
Pemuda itu kembali pada kebiasaannya yang sering menangis tanpa sebab, rasa sedih yang mengaduk aduk perasaannya secara tiba-tiba selalu membuat ia tak kuasa menahan emosi yang berakhir deraian air mata.
"Sini gue peluk"
__ADS_1
Hujan mengubah posisinya Lebih keatas agar Air bisa Lebih nyaman dalam dekapannya, ia usap kepala imamnya itu dengan lembut, keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing.
Hingga tak terasa dengkuran halus menjadi tanda jika bayi cengeng itu sudah terlelap.
"Kenapa?, kenapa nanya gitu, Ay?" bathin Hujan sebelum ia pun ikut terlelap.
.
.
.
.
Pagi menjelang seperti biasa, jam lima alarm di ponsel gadis itu sudah berdering dua kali, tanya tak ada satupun yang bangun sampai akhirnya Bunda menggedor pintu kamar.
"Jan! udah siang loh" suara wanita berkaca mata itu membuat Hujan terlonjak kaget tapi sulit untuk bergerak.
"Ya ampun! ini muka Lo ngapain ada disini sih!" sentak Hujan yang tak habis pikir saat sadar wajah tampan imut polos bayi buaya Cengengnya tepat di depan dua bukit mungilnya.
"Ay, geser dikit, gue mau bangun"
Hujan terus berusaha menggeser tubuhnya dan mengangkat kaki sang suami darinya saat Bunda kembali mengetuk pintu.
"Iya, Bun" sahut Hujan.
"Ay, awas dulu" Gadis itu tak pantang menyerah namun saat ia hampir bisa lepas dari pelukan Air tanpa sengaja menyentuh milik sang suami.
"Ya ampun! orangnya masih tidur ini ekor buayanya malah udah bangun" kekeh Hujan yang langsung turun dari kasur memakai kembali bajunya.
Jika di kamar Air ia akan leluasa keluar masuk kamar mandi meski harus dengan tubuh polos, tapi tidak dengan dirumahnya, letak kamar mandi di dapur membuatnya harus dengan serapih mungkin keluar dari kamarnya.
"Suamimu belum bangun lagi?"
"Belum, Bun" jawab Hujan sambil berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
.
.
Usai membersihkan diri dengan hanya memakai bathrobe ia kembali masuk kedalam kamarnya, niat hati ingin membangunkan Air namun pemuda itu ternyata sudah bangun dan duduk bersandar.
"Udah bangun?" tanya Hujan.
"Udah, nih bangun dua duanya" jawabnya dengan nada kesal, sedang kan Hujan langsung membuang muka.
"Tadi nyenggol kan?" tanya Air.
"Gak sengaja, Ay!" ucap Hujan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ayo tanggung jawab!!!!
ππππππππππππ
Udah siang Ganteng...
__ADS_1
ntar rejekinya di patok ayam kalo nambah lagi π€
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ