
πππππππππππ
Iya, tapi papah cepet kesini ya, kakak takut..
"Iya, mamamu baru saja tidur, dua jam lagi Papa kesana ya" jawab Reza.
"Gak mau! itu kelamaan, Pah. Bunda serem banget" rengek nya memohon..
"Iya.. Papa mandi dulu"
"Kakak tunggu di kantin ya"
Reza mengakhiri sambungan teleponnya dengan sang putra, ia membuang nafas kasar sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.
Senyum tersungging di ujung bibirnya saat melihat KHUMAIRAHnya terlelap dalam dekapannya kini.
"Aku tuh pengen piknik, Ra" bisiknya sambil menciumi leher sang istri.
Reza yang sudah sangat pusing dengan masalah berat si sulung mungkin akan di buat lebih pusing lagi jika penyakit Melisa kambuh, Lima tahun terakhir ini wanita belahan jiwanya itu sudah di wanti-wanti oleh dokter pribadinya agar jauh dari kata stres. Melisa harus tenang tanpa beban pikiran yang berlebihan.
Reza memeluk erat sang istri yang tidur terlelap diatas dadanya, setelah mereka sampai di apartemen tadi ia memang sengaja memberikan Melisa obat tidur agar wanitanya itu bisa lebih tenang saat bangun nanti.
"Aku mencintaimu, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Yang sabar ya sayang, Tuhan sedang menguji kita lewat anak-anak" bisik Reza sebelum ia bangun mengurai pelukan istrinya.
.
.
Usai mandi dan merapihkan diri, Reza bergegas kembali ke rumah sakit. Sebelum meninggalkan Melisa ia tentu akan melakukan drama CapCipCup seperti biasanya.
"Maaf, aku pergi gak bilang sama kamu, Ra." ucapnya sambil mengusap pipi kanan Melisa lalu menciumi seluruh wajahnya.
Reza menutup pintu dengan sangat pelan takut KHUMAIRAHnya terbangun karna terkejut, dan itu biasanya akan membuat ia sakit kepala dalam waktu berjam-jam lamanya.
__ADS_1
"Kak, Papa balik ke rumah sakit ya. Kamu temenin mama disini" pintanya pada si tengah yang berada di ruang makan.
"Iya, Pah."
Setelah berpamitan ia langsung menuju parkiran mobilnya, menjalankan kereta besi mewahnya itu menuju rumah sakit miliknya yang dua tahun kedepan akan jatuh pada anak-anak nya kelak.
Dua puluh lima menit berselang akhirnya ia sampai, Ia bergegas menghampiri si sulung yang masih berada di kantin menunggunya.
"Lama banget, sampe abis teh manis tiga gelas" cetus Air saat Reza datang.
"Lah.. dasarnya aja kamu haus, kenapa salahin papa" protes Reza sambil menarik kursi.
"Kan kakak bilang jangan Lama-lama, ini udah mau dua jam kakak nunguin Papa"
"Kak, kamu pas telepon itu Papa belom mandi, masih peluk-peluk mama. Sebelum bangun kan cium cium dulu biar mandinya semangat" jawab Reza masih membela diri.
"Papa mau mandi apa mau perang? pake butuh penyemangat segala!" dengus Air kesal.
"Apapun yang mau Papa lakuin itu harus dapet penyemangat dari mamamu"
"Ayo.. Pah! kakak udah kangen Hujan" ajaknya memaksa.
"Papa laper, makan dulu ya sebentar "
Air menghela nafas dan kembali duduk, ia juga harus memikirkan keluarganya yang juga ikut berkorban waktu dan tenaga untuknya juga Hujan.
Dua piring nasi goreng komplit kini terhidang di atas meja siap di santap.
"Makan yang banyak, ngadepin perempuan itu harus extra tenaga buat neken rasa sabar" kekeh Reza sambil menyuapkan satu sendok ke mulutnya.
Hanya dengan cara ini ia bisa membuat putranya mau mengisi perutnya yang kosong, karna jika hanya menyuruh makan saja tentu Air akan menolaknya.
Maka jalan satu-satunya adalah dengan cara ikut makan meski ia sendiri pun sebenarnya enggan menikmatinya.
__ADS_1
"Tapi gak enak, Pah" keluh si sulung sembari mengunyah dengan malas.
"Enak di telen gak enak juga di telen kan?, Abisin semua biar kamu bisa punya tenaga buat cium Hujan" goda Reza yang langsung membuat anak kesayangannya itu tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafin papa ya, kak....
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Bang... cium atuh ih π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯Ί
Udah gue siksa anaknya masih pelit bae ππ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikanπ