Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 132


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚.


"Tuuuuuuuuut... tutut jajah..oey!"


Reza berteriak di tengah ranjang dalam kamarnya, Usai mengantar Sam sampai depan pintu dua jam lalu ia hanya berguling tak jelas di tempat tidur sampai Melisa harus terekeh gemas melihat kelakuan suaminya.


"Ra, aku kangen tutut" lirih Reza sambil memeluk boneka gajah milik sang cucu.


"Baru juga pergi tadi, Mas"


" Tapi ini rasanya lama banget oey! tanen banak banak sama tutut" Reza membuang napas kasar, keduanya yang memang jarang berpisah selain akhir pekan tentu membuat Reza merasa kehilangan, karna pria baya itu benar benar mengurus Samudera dengan sangat baik seharian.


"Satu jam lagi pulang, Mas"


Reza hanya mengangguk paham, ia akan sabar menunggu sang tutut pulang kembali ke pangkuannya seperti biasa. Belum adanya cucu lain yang hadir sudah di pastikan seluruh waktu dan perhatiannya kini hanya berpusat pada Samudera seorang, Reza tak akan membuang waktunya sia sia tanpa sang Tutut.


"Aku gak sabar denger dia cerita, soalnya tadi banyak nanya katanya di sekolah nanti ngapain aja" ujar Melissa, ia yag sama rindunya hanya bisa tenang menunggu berbeda dengan sang suami yang malah uring uringan.


"Tapi perasaan aku gak enak, Ra"


******


Hujan yang datang ke sekolah putranya melangkah menghampiri Air dengan sangat tergesa di salah satu kursi khusus untuk para wali murid menunggu.


"Kak.." sapa Hujan yang langsung duduk di sisi suaminya.

__ADS_1


"Udah dateng? katanya nanti" tanya Air yang nampak sedikit kebingungan.


"Iya, aku bolos di jam kedua. Aku mikirin dede terus takut nangis di hari pertamanya masuk sekolah"


"Anak aku mana nangis sih, Jan Hujan deres!" godanya pada sang istri sembari mencium pipi kanan Hujan. Perlakuan manis para pria Rahardian yang tak pernah tau waktu dan tempat, tak perduli siapa yang melihat.


"Ish, kebiasaan!" oceh Hujan yang merasa malu sendiri seraya menahan rona merah di wajahnya.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Samudera keluar paling awal dari teman temannya, bocah berwajah bulat itu tak mau berdiri antri di belakang temannya, ia keukeh ingin berada di depan dan pulang lebih dulu.


"Wah, jagoan Moy nangis enggak nih?" tanya Hujan saat memeluk putranya.


"Nda, olang yang angis noh" ucapnya lemas.


"Dede kenapa?" Air yang melihat anaknya nampak sedikit murung langsung menggendong Baby Bearnya.


Air dan Hujan langsung terkekeh mendengar jawaban dari sang putra mahkota Rahardian, ia yang memang belum bisa berhenti menyusu tentu akan mengamuk jika belum menikmati minuman kesukaannya itu.


"Ya udah, kita pulang sekarang ya"


Ketiganya menuju mobil Air yang terparkir, gedung sekolah sedikit heboh dengan kedatangan keluarga konglomerat itu, bukan hanya terkenal kekayaanya tapi juga ketampanan juga kecantikan seluruh anggota keluarga.


Mobil melesat dengan kecepatan tinggi karna belum masuk jam makan siang, lalu lintas pun tak begitu macet meski ramai lancar.


Air bergantian menggendong anaknya masuk kerumah utama dengan Hujan berjalan di sisi suaminya.

__ADS_1


"Dede mahu cini aja" pintanya saat berada di ruang keluarga lantai dua.


"Ya udah, Moy bikin susu ya"


Samudera hanya mengangguk sambil duduk bersandar di sofa, ia yang bagai tak bertenaga itu hanya menoleh saat gajahnya datang menghampiri.


"Dede udah pulang? kok lemes banget, kenapa?" tanya reza yang malah sangat khawatir.


.


.


.


.


.


Duh.. Dede apek banet nih puwang tekoyah, pucing benel oey!!



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Fix... gue penasaran ini tutut dalem kelas ngapain sih 🀣🀣

__ADS_1


Bikin adonan cilok kah? πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2