
ππππππππππ
Air yang baru turun dari lantai atas langsung di hadang oleh Bumi, ia meraih Baby Bear dari gendongan kakaknya.
"Pinjem ya sebentar" ucapnya sebelum membawa sang keponakan ke ruang tengah.
"Pinjem mulu, bikin woy!" pekik Air sambil berlalu kedapur.
Bumi yang tak ingin menimpali hanya sibuk bermain dengan keponakan montoknya itu, ia begitu gemas dengan dua pipi bulat Samudera yang jika tertawa akan merah merona
"Lecet awas ya" teriak Air dari arah meja makan, ia senang sekali menggoda adik kembarnya itu.
"Mah, Samudera kalo udah gede bisa bedain kakak sama Bumi gak ya?" tanya Air pada Melisa yang kini bingung karna wajah mereka yang begitu mirip.
"Bisalah, kami aja bisa bedain kalian" jawab Melisa.
"Apa yang beda?" tanya Air lagi.
"Bedanya kakak pecicilan sedangkan Bumi itu kan introvert"
Air mendengus kesal karna semua orang selalu berkata yang sama jika ditanya tentang perbedaan mereka.
"Tapi yang jelas aku lebih ganteng" protes si sulung yang di abaikan oleh Melisa juga Bumi.
#Kantor
Semenjak memiliki Baby Bear, Air selalu berangkat lebih lama satu jam dari biasanya, ia ingin lebih puas dulu bermain dengan putra mahkota Rahardian itu sebelum ia merindukannya saat siang hari.
Selain senyum mama dan istrinya, kini senyum Samudera adalah yang paling meneduhkan hatinya, ketiga senyum orang itu menjadi obat dari segala lelahnya selama satu hari bekerja dan bergelut dengan segala aktivitas di luar rumah.
"Ada yang lain?" tanya Air pada Daniel saat map terakhir ia tanda tangani.
"Sudah, Tuan, hanya ini saja" jawabnya sambil mengambil tumpukan map dan kertas di atas meja sang direktur.
"Siapkan supir untuk mengantar saya pulang" titah Air yang sepertinya sore ini enggan membawa mobilnya sendiri.
"Baik, Tuan" ucap Daniel sembari meraih kunci mobil yang di sodorkan Air.
Daniel menunduk sedikit lalu mundur satu langkah sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan sang Tuan Muda.
__ADS_1
Sedangkan Air yang masih menyandarkan tubuhnya langsung menutup laptop kemudian mengendurkan tali dasinya, penat sedang ia rasakan saat ini.
.
.
"Silahkan, Tuan"
"Terimakasih" jawab Air saat sang supir mempersilahkan ia masuk kedalam mobil mewahnya.
"Langsung pulang ke apartemen ya, Pak"
Kereta besi mewah milik Sang Tuan Muda pun melesat dengan kecepatan sedang menuju gedung tinggi pencakar langit.
Air yang sedari tadi memejamkan matanya sedikit tersentak saat supir mengatakan jika mobil sudah sampai di lobby apartemen.
Ia langsung turun menuju lift yang akan mengantarnya sampai di lantai tempat ia tinggal.
.
.
Cek lek..
"Hallo ganteng" ucapnya yang ingin mencium Baby bear tapi langsung di cegah oleh Melisa.
"Cuci tangan dulu sana!"
Air hanya mengulum senyum sebelum ia berlalu ke dapur.
"Hujan mana?" tanya Si sulung saat kembali ke ruang tengah.
"Ada di kamar, kayanya gak enak badan" jawab Melisa meski ia tak begitu yakin.
"Hujan sakit?"
"Coba aja kamu lihat sendiri" timpal Reza yang sedang memangku cucu pertamanya itu (Nyesek gue nulis ini).
__ADS_1
Air hanya mengangguk paham dan bangun dari duduknya bergegas menuju tangga.
Cek lek
"Jan, Jan Hujan deres"
Air menautkan kedua alisnya saat masuk kamar dan melihat sang istri meringkuk di atas kasur.
"Kamu kenapa, Sakit?" tanya Air yang di jawab gelengan kepala.
"Terus ini, kenapa?"
"Sakit perut, Ay" jawabnya meringis.
"Kok bisa?"
Hujan diam tak menjawab, ia memilih jalur aman dari pada kena omelan suaminya yang pasti merambat kemana-mana dan itu pastinya panjang kali lebar.
"Aku ambilin obat dulu"
"Udah, aku udah minum ini juga udah mendingan kok" sahut Hujan, rasa sakitnya memang tak separah sebelum ia meminum obatnya.
"Yakin?"
"Ya udah aku mandi dulu ya" sambungnya lagi saat Hujan menganggukan kepalanya.
"Ajak dede mandi juga ya"
Air yang bangun dari duduknya kembali keluar kamar untuk mengambil Samudera, sore ini keduanya akan mandi bersama seperti biasa meski tak sering.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Gemoy banget sih si DUIT...