
ππππππππ
"Binun.. dede mahu Miong apa Jajah?" sahutnya dengan wajah sangat menggemaskan.
"Ya ampun! ternyata drama si kucing masih berlanjut" kata Hujan yang baru sadar.
"Kenapa kucingnya?" tanya Air penasaran, pasalnya mereka langsung pulang kerumah utama saat Air baru saja sampai jadi tak obrolan lebih saat masih di rumah Bunda.
"Dede mahu awa Miong olen, tapi Moy Nda boyeh. Ntal Appa syedih" jelas Sam, ia benar benar galau tingkat dewa.
"Appa syedih apa? tatut didit Miong?" tanyanya lagi pada Reza.
"Enggak, kan disini udah banyak, ada burung, ikan sama kura kura" kata Reza memberi pengertian.
"Tapi dede mahu Miong, Miong Nda puna papAy, kesihan"
Uhuk.. uhuk...
Air yang baru saja memasukan kerupuk udang kesukaannya harus rela tersedak saat mendengar ucapan Samudera.
"Emang papAynya kemana?" tanya Oppa yang ikut terkekeh.
"Abul"
Kini semua orang yang berada di meja makan Langsung tertawa mendengar cerita Sam tentang Kucing beranak empat yang tak memiliki papAy sepertinya, dan itu adalah salah satu alasan ia ingin membawa kucing kucing tersebut ke rumah utama tapi saat Hujan mengatakan jika Appanya akan sedih tentu Sam langsung mengurung kan niatnya itu, karna baginya Appa tetap nomer SATU.
"Nanti kita beli kelinci aja ya, jangan Kucing, Ok" rayu Reza yang langsung di jawab gelengan kepala.
"Kenapa? kan lucu kaya dede" kata Melisa ikut merayu.
"Walnanya Nda olen, cinci Nda buni Miong Miong" kata Sam masih merengut.
"Beli Abing ocong aja de' kalo bosen, kita potong jadiin kambing guling" timpal Air.
"Uling icang papAy noh otong" sahutnya makin kesal.
Kini gantian Air lah yang mendengus kesal.
__ADS_1
"Pisang papAy tuh enaknya di goreng kalau gak di rebus" balas Omma.
Hujan langsung menyikut dada suaminya agar berhenti menggoda, Ia tahu jika sang putra sedang tak ingin di ledek. Rumah utama akan berantakan jika sang putra mahkota sudah mengamuk karna jengkel dan marah.
"Ya udah, besok kita cari kelinci orange ya, sekarang dede makan dulu, Amma bikin ikan Teri nih" kata Melisa sambil menggeser piring kecil ke hadapan cucunya.
"Ini Teli taya Undah?"
"Iya, ini ada kacangnya juga, ayo makan"
"Telulnya banak banet ya"
Sam mencoba mencicipi satu persatu si Teri tanpa nasi, ia memang baru saja menghabiskan satu botol besar susu dan sedikit cemilan sebelum pulang tadi.
Usai makan malam, Sam tentu langsung ikut Reza ke kamarnya. Ia akan melepas rindu dalam dekapan Sang Gajah hingga batas waktu yang tak bisa di tentukan.
Melisa yang melihat suami dan cucunya itu sedang berpelukan di balik selimut hanya bisa tertawa kecil, ia teringat dengan puluhan tahun silam saat Reza mendekap semua anak anaknya penuh kasih sayang.
.
.
.
.
"Lagi mandi, dede mandi sana" sahut Melisa sambil menyisir rambut basahnya, pasangan yang tak lagi muda itu memang baru saja melakukan hal yang menyenangkan.
"Appa Nda jajak Dede" protesnya sembari turun dari tempat tidur, Sam yang sudah di janjikan Reza mencari kelinci tentu ingin segera pergi usai sarapan nanti.
Braaak.
Sam membuka pintu kamar mandi dan langsung masuk sambil marah marah, dengan berdecak pinggang bocah menggemaskan itupun semakin berjalan mendekat.
"Appa udah banun? Nda jajak Dede mandi"
"Kan dede masih bobo, sini Appa bukain bajunya dulu, kita mandi sama sama ya" ujar Reza yang lalu berjongkok di hadapan tubuh kecil kesayangannya itu.
__ADS_1
Selesai membuka baju, Reza kembali berdiri. Namun, Sam malah mendongakkan wajahnya kearah pria yang jauh lebih tinggi darinya.
"Kenapa? masih bingung?" ledek Reza.
"Ekol Appa besal ama Panjang, napa puna dede tecil?" tanya Sam polos membandingkan belalainya dan juga belalai Appa gajahnya.
"Punya Appa kan sering di tiup Sama Amma jadinya besar, hahahaha" Reza menjawab sambil tertawa, ia tak menyangka jika Tutut Jajah nya akan bertanya hal konyol seperti itu.
Sam yang awalnya mengernyitkan dahinya karna tak paham malah menjerit dan menangis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Huaaaaaaaa....
Tapa yang mahu iyup puna dede?
Asik asik jos π€π€π€π€π€
Enggak ah.. mak Othor mahu iyup puna Appa aja πππππ
__ADS_1
Like komennnya yuk ramaikan.