Air Hujan

Air Hujan
bab 219


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Oh, jadi ini istri pewaris istri Rahardian yang sempat depresi itu?" ujar Farisha dengan sangat lantang sampai membuat Air dan Hujan tersentak kaget begitu pun dengan Daniel.


Selama Hujan sakit, memang keluarga Rahardian menutupinya dengan sangat rapat karna takut hal seperti ini terjadi di kemudian hari namun nyatanya kabar menyedihkan itu sampai juga di telinga para manusia yang tak berhati.


"Ah tidak! mungkin lebih tepatnya itu, dia GILA"


"Gila?, siapa? Hujan maksudmu?" tanya Air sambil tersenyum.


"Iya, itu yang aku dengar. Menantu pertama Rahardian mengalami gangguan jiwa Alias depresi atau gila dua tahun lalu" balas Farisha dengan nada bicara yang sangat tenang.


"Hujan gak gila dari dua tahun lalu, tapi di gila sejak pertama kali kita bertemu. Lebih tepatnya mungkin dia tergila gila" kekeh Air yang lalu mencium pipi istrinya.


"Hey! kamu bilang aku gila?, bukannya kamu yang lebih tergila-gila padaku?" cetus Hujan dengan tangan melipat didada.


"Hahaha, Iya iya. Aku sangat tergila gila padamu, Sayang" timpalnya pada Hujan lagi.


"Jadi saya rasa di sini bukan hanya istri saya yang gila, justru saya yang tergila-gila padanya. Bahkan saya jauh lebih gila saat mengejarnya dulu hanya untuk mendapatkan cintanya. Jadi saya pikir kamu salah informasi" ujar Air di hadapan Farisha yang tak percaya dengan apa yang di katakan pria tampan di depannya itu.


"Jangan pernah tinggalin aku ya, kalo kamu gak mau liat aku makin Gila, sayang." goda Air pada Hujan yang membuat Farisha akhirnya malu sendiri.


"Justru aku mau liat kamu akan segila apa tanpaku" balas Hujan sambil tertawa kecil karna Air merengut manja padanya saat Hujan menangkupkan wajah tampan Air dengan kedua tangannya.


"Yuk, kita makin Gila bareng"

__ADS_1


Air dan Hujan tertawa bersama sebelum akhirnya saling memeluk satu sama lain bagai tak perduli jika disana ada Daniel dan Farisha dengan raut wajah berbeda ketika melihat sikap santai pasangan suami istri itu.


"Anak kita ikutan Gila gak ya?" seru Air di sela gelak tawanya.


"Bisa jadi.. bisa jadi"


Farisha yang jengkel langsung meraih tasnya yang ia simpan di sofa single di sebelahnya.


"Urusan pekerjaan kita rasanya sudah cukup, sampai bertemu lagi di hari mendatang, Permisi" pamit wanita itu tanpa mengulurkan tangan lebih dulu, Daniel yang sadar langsung bergegas untuk membuka pintu ruangan sang direktur.


"Silahkan" jawab Air masih dengan tangan memeluk sang istri dalam dekapannya.


Sepeninggal Farisha dan Daniel yang juga ikut keluar kini tinggal Air Dan Hujan dalam ruangan.


"Maaf." ucap Hujan dengan sangat pelan bahkan hampir tak terdengar.


"Untuk apa?"


"Karna trauma ku, kalian jadi memiliki Aib yang memalukan"


"Aib?, kamu bukan aib sayang" rayu Air saat buliran cairan bening sudah lolos begitu saja melewati pipi Hujan.


Air langsung menarik tubuh sang istri agar bisa menumpahkan tangisnya didalam pelukannya karna ia tahu jika Hujan hanya butuh itu saat ini.


"Aku yang seharusnya minta maaf sebab ini semua salahku di masa lalu dan ku mohon jangan pernah kita ungkit semua itu lagi" pinta Air yang juga ikut meneteskan air mata sedihnya.

__ADS_1


"Aku semakin tak pantas bersanding denganmu, Ay"


.


.


.


.


.


.


.


Kamu pikir ada yang akan lebih sabar darimu?


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Cium Abang Daniel boleh?


#Eh...


Like komennya yuk ramaikan😘😘

__ADS_1


__ADS_2