Air Hujan

Air Hujan
bab 101


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"Ay..."


Air yang sedang fokus memainkan ponselnya Langsung menoleh kearah suara yang memanggil namanya tadi.


"Dee.." sahutnya sedikit terkejut.


Diandra langsung memberikan senyum terbaiknya dan duduk di sebelah Air, berondong incarannya.


"Mau ketemu siapa?" tanya Air yang masih mencoba berfikir positif jika kedatangan Diandra tak ada urusannya dengan dirinya.


"Ketemu Lo" jawab Diandra jujur.


Air mengernyitkan dahinya bingung karna ia merasa tak punya sangkut paut apapun dengan wanita itu dan ia lebih terkejut lagi saat pelayan kantin membawa dua gelas minuman dan satu piring cemilan ke meja mereka.


"Kakak gak pesen, Mbak" ucap Air pada pelayan kantin yang sudah sangat akrab dengannya.


"Si Non ini yang pesen, kak"


Air menoleh kearah Diandra lagi dengan wajah datar.


"Lo suka banget ya kayanya bertindak tanpa bertanya?" Sindir Air yang merasa mulai tak nyaman dengan sikap wanita di sebelahnya itu.


"Cuma masalah makanan, kenapa ribet sih, Ay" godanya sambil mengusap lengan Air.


Air menghela nafasnya lalu menggeser sedikit duduknya agar bisa menjauh.


"Lo selesai kuliah kapan?, jalan yuk"


Air menggelengkan kepalanya, ia kembali fokus pada ponselnya hanya untuk menunggu balasan pesan dari adik kembarnya.


Lama banget sih, Dek.


"Kenapa, Lo gak mau?" tanya Diandra, ia butuh kepastian bahkan ia dengan sangat lancangnya menyentuh dagu Air agar menoleh padanya.


Belum sempat Air menepis tangan Diandra, namanya sudah kembali di panggil seseorang yang sudah sangat ia hafal.


"Kak..."


Hujan ternyata sudah berdiri dibelakang suaminya, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat bagian tubuh pria halalnya itu di sentuh wanita lain selain dirinya.


"Hujan" gumam Air pelan sambil menepis tangan Diandra dari dagunya.


"Nih, dari Bumi" Hujan menyerahkan tas suaminya yang sebenarnya ia yang membawanya sendiri dari apartemen.


Mata gadis itu berkaca-kaca, ia bingung harus berbuat apa saat ini, ia ingin marah dan pergi tapi ia juga ingin memeluk prianya karna tak sanggup lagi menahan rindu.

__ADS_1


Air meraih tas yang Hujan berikan padanya, ia langsung meletakkannya di atas meja sambil bangun dari duduknya.


Cup.


Satu kecupan mendarat di kening sang istri seperti biasanya saat mereka bertemu kapanpun dan dimana pun itu, Hujan menunduk sedikit membuang nafas lega karna nyatanya suaminya masih masih mau melakukan kebiasaannya walau semalam ia tak pulang dan lebih-lebih di hadapan seorang wanita lain yang tak Hujan sama sekali.


"Lo kuliah jam berapa?" tanya Air yang merasa aneh di jam segini sang istri ada di luar kelas.


"Gue bolos, Kesiangan!" alasan yang sungguh tak masuk akal membuat Air berdecak pinggang.


"Hem..enak ya suami gak pulang tidurnya nyenyak sampe kesiangan, gada yang gangguin ya?" bisik Air ditelinga kanan Hujan sampai bulu halus gadis itu meremang.


"Eh, gak gitu!" elak Hujan panik, ia takut suaminya salah paham dengan ucapannya lagi.


"Kok pucat? Lo sakit?" tanya Air yang panik saat melihat wajah istrinya tak seperti biasa. Matanya begitu sayu dan sembab juga ada lingkaran hitam di bawahnya serta bibir kering sedikit pecah-pecah.


"Enggak, gak apa-apa kok, Ay"


"Lo duduk sini ya, gue beliin teh anget sama obat" titah Air yang langsung mendudukkan sang istri di kursi yang tadi ia tempati.


Sepeninggal Air, kini tinggal Hujan dan Diandra yang duduk berdampingan. Terlihat begitu jelas bagaimana wanita itu tadi sangat tak suka melihat Air memperlakukan Hujan dengan begitu manisnya seperti tak terjadi apapun diantara mereka.


"Lo siapanya Air?" tanya Diandra yang merasa kesal saat pemuda incarannya mencium kening Hujan.


"Ada juga gue yang tanya! Lo siapanya Ay?" ucap Hujan penuh penekanan.


"Gue temennya, baru kenalan kemarin" jawab Diandra dengan sorot mata tajam menatap Hujan untuk mencari kilat mata kekesalan.


"Oh, temen baru sehari kenal?" balas Hujan dengan senyum ramah.


Diandra memicingkan matanya semakin tak suka karna merasa Hujan menghina nya.


"Temen sehari atau berapa hari kayanya jauh lebih menjamin dari pada seorang pacar yang bisa putus kapan saja" sindir Diandra yang tak mau kalah.


"Pacar?, Lo kira gue pacarnya, gitu?" kekeh Hujan membuat Diandra semakin geram.


Lo salah!


Gue ini partner ranjangnya, tiap malem tidur dibawah selimut yang sama dalam keadaan polos, yang tiap pagi kita selalu berendam di satu bathtub yang sama juga, abis itu gue sama dia mandi di bawah guyuran Air shower buat bersihin badan kita yang kecapean sehabis melakukan penyatuan tubuh..


"Hah?, murahan juga ya Lo!" ejek Diandra saat mendengar pengakuan Hujan yang di salah artikan olehnya.


Kali ini Hujan tak sanggup lagi menahan emosinya, iapun menggebrak meja sampai membuat Diandra dan yang ada di sekitar mereka terlonjak kaget.


"Lo bilang apa? gue murahan!" sentak Hujan yang langsung bangun dari duduknya. Nafasnya sudah tak beraturan karna menahan kesal.


Namun tak lama dari itu ia sedikit terkejut saat ada tangan yang melingkar di perutnya, ternyata Air tengah memeluknya dari belakang dengan sangat mesra.

__ADS_1


Lalu membalikkan tubuhnya hingga akhirnya kini mereka saling berhadapan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Gak apa-apa murahan sama suami sendiri, sayang!


Dari pada murahan di depan suami orang...



πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Wih.. co cweet ya Cebong 🀣🀣🀣


Pembalasan Luar biasa 🀭🀭


Jangan kasih celah πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›


Jewer laki Lo Jan, bawa pulang dan jangan kasih ampunπŸ˜† gue nyimak sambil makan batagor dipojokan πŸ™„


Like komen nya yuk ramai kan ❀️

__ADS_1


__ADS_2