
ππππππ
"Makan apa, Tut?" tanya Air sembari duduk di sisi putranya.
"Nda tahu, telas banet" ucapnya sambil berusaha mengigit apa yang tadi ada di atas meja.
"Kamu jangan salah makan, nanti batu koral di gigit" Air yang khawatir meminta Sam untuk memberikan apa yang kini di tangannya.
"Ya Ampun, Tut!"
Sam hanya melihat serius kearah papAynya yang sedang menepuk keningnya sendiri sambil menggelengkan kepala, raut wajah si sulung jelas sekali antara marah, gemas dan lucu.
"Apa?" tanya Sam.
"Ini biji kelingking kenapa di makan, Oey?!" serunya saat memperlihatkan kembali biji buah berwarna coklat tua.
Sam hanya menggelengkan kepala, biasanya semua buah yang diberikan padanya sudah siap makan, berbeda dengan kali ini yang sepertinya bocah itu mengambil sendiri di lemari pendingin.
Air yang untung saja cepat tahu hal tersebut tentu langsung mewanti wanti semua pekerja di rumah utama tak terkecuali istrinya, Hujan.
__ADS_1
"Aku tadi cuma bikinin susu, kak. Habis itu dede main ya aku tinggal kerjain tugas lagi" jelas Hujan saat sang suami menceritakan tentang si biji kelengkeng yang sedang di gigit oleh putranya.
Air tak bisa membayangkan jika Reza sampai tahu, pria yang kebetulan hari ini sedang keluar pasti akan marah besar.
Perdebatan kecil pun berakhir saat Sam tiba-tiba datang membuka pintu kamar, semarah apapun mereka tapi jika sang buah hati datang tentu perasaan jengkel itu akan di buang jauh jauh lebih dulu demi anak mereka.
"Dede ngantuk, jajah dede belum puwang ya?" tanyanya dengan raut wajah sedih dan mata sedikit merah.
"Bobo sama gajah dulu ya, Appanya belum pulang"
Sam hanya bisa mengangguk pasrah, menolakpun tak berguna karna matanya tak kuasa lagi menahan kantuk. Air yang sebisa mungkin bersikap biasa langsung menggendong Sam menuju kamarnya sendiri.
Cek lek.
"Bobo ya, papAy temenin"
Air mendekap hangat tubuh mungil putranya, Ia usap punggung Sam dengan lembut sampai tertidur pulas. Dirasa sudah terbuai mimpi, Air pun perlahan turun dari ranjang kecil Sam. Ia tinggalkan anaknya menuju kamarnya sendiri.
Hujan yang masih duduk di karpet bawah sofa masih dengan posisinya seperti saat ia di tinggalkan tadi. Menunduk dengan menenggelamkan wajahnya di atas lutut yang ia peluk sedangkan di depannya begitu banyak tugasnya yang belum selesai dengan laptop yang masih menyala.
"Jan..." panggil Air yang duduk di sisi istrinya yang sudah ia nikahi selama hampir sepuluh tahun.
__ADS_1
"Jan Hujan deres yang takut petir" ulangnya mencoba menggoda.
Tak adanya jawaban, membuat Air meraih bahu Hujan agar masuk kedalam dekapannya. Ia menangis kecil dengan mata terpejam.
"Maafin kakak ya, Kakak gak nyalahin kamu kok. Harusnya Sam memang tanggung jawab kita, maaf ya sayang" ucap Air penuh sesal karna sampat memarahi Hujan karna perkara biji kelengkeng yang di gigit Samudera.
Meski tak sampai membentak tapi Air tahu jika wanita tak suka disalahkan meski kadang sebenarnya memang salah. Tapi karna cemas dan Khawatirnya lah ia sampai mengomel kesemua orang yang ada di rumah utama termasuk ibu yang sudah melahirkan putranya.
"Aku juga salah, terlalu sibuk kerjain tugas sampe gak perhatiin dede" ucapnya yang sama-sama penuh sesal.
"Aku maafin, Jan" balas Air.
"Tapi aku cuma maafin doang loh" tambahnya lagi yang membuat Hujan langsung mendongakkan wajah.
"Kok maafin doang? emang harusnya gimana?" tanya Hujan yang kini bergantian ia lah yang panik.
Kasih HUKUMAN enak di kamar mandi.
πππππππππ
Eh.. Balik lagi ke bayi buaya cengeng ππ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.