Air Hujan

Air Hujan
Bab 170


__ADS_3

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾


"Kak... ponsel kamu ketinggalan nih" teriak Reza dari depan pintu kamar anaknya sambil tertawa kecil.


Air yang sudah menempelkan miliknya langsung mendengus kesal karna saat itu kebun kecilnya sudah sangat siap ia obrak abrik.


"Kaaaak... bunyi nih" terisk Reza lagi untuk kedua kalinya.


"Telen aja sama Papa, biar sekalian geter dalem perut" jawabnya tak kalah berteriak.


Reza menutup mulutnya sambil berjongkok menahan tawa, ia tahu pasti kini putra sulungnya itu sedang melakukan penjelajahan ke area yang membuat ia bagai terbang ke langit ketujuh.


"Mas Reza ngapain?" tanya Melisa.


"Aku mau balikin ponsel kakak, eh malah di suruh di telen. Jahat banget anak kamu, Ra" Adunya manja meminta pembelaan dari sang istri.


"Jahatan mana sama orang yang udah gangguin anak mantu lagi cari pahala?" Sindir Melisa yang langsung membuat si Gajah tak berakhlaq itu menelan salivanya kuat kuat.


"Aku gak ngapain ngapain, Ra" ucapnya sambil mengekor si belakang KHUMAIRAHnya.


BRAAAAKKKK..


"Ra.. buka sayang"


"Ra...... ampun, Ra. Aku nggak akan iseng lagi" Reza terus menggedor pintu kamarnya yang susah di kunci oleh sang istri dari dalam.


Karma dibayar tunai ya bang


*******


"Kak, Papa diluar" ucap Hujan sambil memegang tangan suaminya.


"Biarin, udah di hukum sama mak othor" jawabnya dengan senyum puas.


Air mencium kembali bibir Hujan agar gadis di bawah kungkungan nya itu bisa kembali tenang setelah ada drama Gajah didepan pintu.


Sebisa mungkin Air pun harus ikut tenang tak lagi terburu-buru seperti sebelumnya.


Ia tak boleh lupa jika Hujan yang sekarang tentu berbeda dengan Hujan yang dulu.

__ADS_1


Disini hanya ia yang akif bergelut lidah, sedangkan Hujan sibuk mengatur nafasnya yang sering tersengal karna Air jarang sekali memberi kesempatan Hujan untuk berhenti sejenak.


Puas bermain di bibir kini ia merambah ke leher, Air mulai memberiikan tanda merah lagi disana setelah sekian lama ia tak mengukir jejak petualang.


Tak hanya satu atau dua, karna hampir semua leher Hujan penuh dengan mahakaryanya yang luar biasa.


Dua bukit yang kini malah semakin membesar padat dan menantang itu pun tak luput dari incarannya. Air benar benar sudah tak bisa lagi membendung hasrat untuk di layani lagi oleh istrinya.


Gigitan lembut pada kerikil kecil di puncak bukit pun membuat Hujan harus menahan gejolak dalam tubuhnya.


"Lepasin aja, gak apa-apa" bisik Air yang tahu jika istrinya sudah sampai di puncaknya lebih dulu sebelum ia melakukan permainan yang sebenarnya.


Air menghela nafas dalam dalam saat ia bangkit dari atas tubuh sang istri. Ia biarkan Hujan beristirahat sebentar mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang bagai berlari puluhan kilo meter.


" Cape ya" godanya sambil mengusap kening Hujan yang terdapat begitu banyak buliran keringat.


Hujan hanya mengangguk karna tak bisa berkata apapun lagi, suaranya bagai tercekat karna masih merasakan sisa sisa kenikmatan yang suaminya berikan.


"Lanjut, boleh?"


"Ya, janji gak sakit, kan?" tanya Hujan meyakinkan Air.


Air mulai mengarahkan miliknya yang sudah tegak berdiri bagai tugu MONAS ke arah gerbang kebun kecil yang lama tak terjamah olehnya.


Perlahan namun pasti, miliknya masuk tanpa hambatan meski hanya baru setengah.


Air mendiamkannya sejenak saat rasa hangat ia rasakan menjalar ke seluruh tubuhnya.


Satu tetes Air mata lolos begitu saja ke pipinya karna rasa haru yang begitu menyesakkan dada.


"Kak..." De sah lembut Hujan saat melihat sang suami menggigit bibit bawahnya sambil berderai air mata.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku mencintaimu...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Akhirnya..


bisa bilang alapenyu juga kak πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Bahagia ya sayang...


like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2