Air Hujan

Air Hujan
bab 133


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Biasakan angkat telepon di hadapan istrimu, kak!


Air yang tadinya hendak bangun akhirnya mengurungkan niatnya, ia kembali duduk lalu meletakkan lagi ponselnya yang sudah lebih dulu ia tolak panggilan yang entah dari siapa, sikapnya membuat semua mata masih tertuju padanya. Semua menatap aneh sikap tak biasa Air.


"Aku siap siap dulu" pamit Hujan pada mertua, suami dan adik iparnya.


Air mendesah kesal, suasana pagi yang tak mengenakan baginya, apalagi saat melihat Hujan bangun dan pergi begitu saja.


Cek lek..


Air membuka pintu kamarnya dengan cukup keras namun ternyata itu tak membuat Hujan menoleh sama sekali.


Pemuda tampan itu mendekat dan memeluk sang istri dari belakang saat ia sedang membereskan barangnya di meja belajar.


"Masih pagi" bisik Air sambil menciumi leher Hujan.


"Aku mau ke perpus, ada tugas yang mau aku selesai in sekarang" jawabnya masih sibuk memasukan beberapa buku ke dalam tas.


"Kamu juga punya tugas yang harus di selesai in sama aku sekarang"


Air membalikkan tubuh sang istri agar bisa saling berhadapan dengannya, tangan jahilnya mulai menarik ujung kaos Hujan untuk ia buka namun dengan cepat di cegah.


"Kalo gak mau berangkat sekarang, biar aku duluan" tegas Hujan sambil menepis tangan sang suami.


"Berangkat bareng nanti, tapi mau nerusin yang semalem dulu, boleh?"


Hujan menggelengkan kepalanya, ia membuang pandangan tak ingin menatap kedua manik mata Air yang seakan memohon padanya.

__ADS_1


"Aku buat salah?" tanya Air.


"Menurut mu?" Hujan balik bertanya.


"Kakak ngapain?, perasaan gak ngapa ngapain" tambahnya lagi sambil semakin merapatkan tubuhnya.


"Apa orang yang tadi telepon sama yang semalem telepon kakak?" tanya Hujan langsung. Ia tak suka menunggu penjelasan.


"Emang semalem ada yang telepon?"


Hujan membuang nafas kasar, sepertinya Air memang tak mengecek lagi ponselnya.


Gadis cantik yang sedang di rundung ketakukan dan rasa curiga itu langsung mendorong Suaminya sampai Air mundur selangkah dari hadapannya.


"Apa sih!" sentak Air.


Hujan yang tadinya ingin pergi sontak menoleh kearah sang suami yang menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.


"Aku kan tanya! yang telepon kamu orang yang sama apa bukan?" tanya Hujan lagi tak kalah menaikan nada bicaranya.


Air merogoh kantong celananya untuk meraih ponselnya, ia mengecek semua panggilan masuk dan tak terjawab.


"Ya, ini orang yang sama" jawab Air kemudian. lalu Ia memasukkan lagi ponselnya kedalam saku.


"Siapa?, mau apa dia telepon kamu tengah malam sama pagi-pagi begini? sepenting apa,, Kak! " Suara Hujan kini mulai parau untuk menahan emosinya, dengan sekuat tenaga Hujan berusaha tak mengeluarkan tangisnya di depan Air.


"Gak ada yang lebih penting dari kamu, percaya ya"


Lagi-lagi Hujan menepis tangan Air yang mencoba ingin meraih tubuhnya.

__ADS_1


"Aku selalu percaya sama kamu, apapun itu. Aku yang gak bisa bungkam banyaknya mulut orang lain yang berbicara buruk tentang hubungan kita cuma bisa tutup dua telingaku biar gak denger apa-apa!" ucap Hujan lirih dengan mata berkaca kaca.


"Lalu?, cuma masalah telpon kaya gini aja di Permasalahin?, biasanya juga kamu cuek, gak pernah perduli sama urusanku, gak pernah cek ponselku apalagi banyak tanya dari siapa dan mau apa, kan?!"


.


.


.


.


.


.


.


.


Udahlah..


mau aku jaga kamu kaya gimanapun kalo dasarnya suka maen perempuan tetep aja gak akan pernah setia!!!


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Sensi amat sih Jan 🀣


Harus di seblakin kayanya biar seger gak curigaan 😘😘

__ADS_1


Yuk gas keun.. mau pake ceker biar kita bisa jalan2 atau mau sayap biar bisa terbang πŸ€ͺπŸ€ͺ


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2