
ππππππππ
Minggu pagi setelah sarapan keluarga Reza berkumpul di taman apartemen, setelah anak-anaknya beranjak dewasa, sudah jarang sekali mereka menginjak kan kakinya disana.
Kesibukan dan banyaknya hal lain adalah alasan yang tak bisa di pungkiri.
"Si kakak mana?" tanya Melisa pada Hujan saat gadis itu duduk lemas dibawa salah satu pohon kecil.
"Tuh.. lagi main sama anak-anak kecil" tunjuk Hujan pada suaminya.
Melisa tersenyum simpul, ada pancaran bahagia di kedua manik matanya sebagai seorang ibu yang selama ini mengurus empat anaknya dengan tangannya sendiri.
"Jan, kamu bahagia selama menikah dengan Kakak?" tanya Melisa tanpa menoleh, Hujan yang baru ingin menegak minumannya sampai tak jadi dan menutup botolnya kembali.
" Kok mamah nanya gitu?"
"Ini semua salah kami yang terlalu memanjakan kakak sampai sebesar ini, sikap manja dan keras kepalanya belum juga hilang. Mama takut kamu lelah"
Bumi yang memang duduk di samping mamanya langsung menatap intens kakak iparnya yang masih terdiam.
"Mah, Aku bahagia kok, mama gak usah khawatir meskipun kita sering bertengkar tapi hanya pada saat itu aja. Gak pernah sampai berlarut-larut" jelas Hujan jujur apa adanya tentang rumah tangganya selama lebih dari satu tahun. Masih tinggal satu atap dengan keluarga tentu baik buruknya hubungan mereka sudah bisa diterka meski orang tua tak pernah mau ikut campur selagi itu hanya perdebatan kecil.
"Selama ini masih aman, kita bisa menyelesaikannya dengan baik. Paling kakak suka ngambek kalo aku sibuk atau sedikit cuekin dia" tambahnya lagi dengan raut wajah malu.
"Kakak itu cuma mau dia yang jadi pusat perhatian, ia gak suka berbagi meski kadang dengan saudaranya sendiri" jawab Melisa mengusap kepala Bumi yang sedari tadi hanya mendengarkan.
"Beruntung dua adiknya sangat mengerti, Bumi sering mengalah dan adek sudah mendapatkan perhatian lebih dari Abang"
Kini mata ketiga kembali menatap Air yang masih asik bermain dengan banyaknya anak kecil, suasana teduh karna matahari belum terlalu terik membuat siapapun betah berlama-lama disana.
"Kalian belum merencakan ingin memiliki anak?" ini pertama kalinya Melisa melontar kan pertanyaan soal anak pada sang menantu.
__ADS_1
"Belum, Mah. kakak minta kita selesai kuliah dulu" jawab Hujan mulai merasa takut
"Kamu pakai pengaman?" tanya Melisa dengan sorot mata sulit di artikan.
Hujan langsung menggeleng kan kepalanya dengan cepat.
"Enggak, Mah. aku takut" ucapnya kemudian.
"Alhamdulillah kalau gitu, kami serahkan semua sama Kalian karna kalian yang menjalankan. Nikmati masa berdua kalian, masalah anak biar Tuhan yang atur segalanya." pesan Melisa yang memang tak begitu mempermasalahkan karna ia pun masih punya gajah yang harus di urus melebihi bayi jika sedang manja.
******
Sebelum makan siang semuanya kembali ke apartemen. Reza dan Melisa langsung masuk dapur karna pria tampan itu ingin menemani KHUMAIRAHnya menyiapkan makan siang, sedangkan Bumi sudah berada di ruang tengah dengan stick PlayStation di tangannya.
kemana Air dan Hujan?
"Emang mau mandi?" tanya gadis itu pada suaminya saat Air membuka baju, keduanya duduk berdampingan di tepi tempat tidur kamar mereka.
"Gerah, mandi dulu" ucapnya yang kini mulai membuka celana.
"Tuh kan.. pegang pegang jadi bangun" ucapnya sembari berdecak pinggang.
"Ih, pegang lengannya doang sih" elak Hujan tak terima di salahkan saat tahu milik suaminya sedang menunjuk kearahnya dengan sempurna.
"Tanggung jawab"
"Mulai dah" dengus Hujan kesal, ia bagai seorang tersangka yang setiap saat di minta pertanggung jawaban.
"Ay.. gak usah macem macem ya" pinta Hujan saat Air menggendong tubuhnya ke tengah kasur.
Bibirnya sudah sibuk menciumi leher sang istri yang harumnya seringkali menggoda jiwa kelelakiannya.
Tangan sudah meraba apa saja yang bisa ia sentuh sesuka hatinya.
__ADS_1
"Pengen" rengeknya manja dengan sorot mata memohon.
Hujan yang ingat hari ini masuk masa suburnya langsung panik saat sang suami meminta haknya Secara mendadak.
"Belom kan?, tuh gak ada apa-apanya?" tanya Air yang kini tengah meraba bagian area sensitif sang istri.
Hujan menelan Salivanya kuat-kuat sambil meremat sepre sisi kanannya.
"Boleh?" pintanya lagi.
"Buang luar ya." jawab Hujan dengan sedikit takut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luar mana???
πππππππππππ
Luar Angkasa kak π€π€π€
__ADS_1
Tar Lo lari tapi awas nabrak π€£π€£π€£
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ