Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 139


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Air yang terlonjak kaget akhirnya bangun saat mendengar putra kesayangannya itu pura pura batuk.


"Dede kenapa, sakit?" tanya Air panik, ia menangkup wajah Sam untuk memastikan suhu tubuhnya.


"Pucing oey" jawabnya sambiil terkekeh.


Hujan yang tahu jika anaknya itu sedang jahil hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia benar benar gemas dengan tingkah anaknya pagi ini.


"Gak usah banyak alesan oey, ayo mandi" ajak Hujan lagi.


"Nda mahu, dede mahu piyuk papAy" ucapnya yang lalu berhambur memeluk Air keduanya berpelukan sambil bercanda dengan cara Air menggelitik perut Samudera.


"Gili.. oey, gili nih dede. Natal pipis pAy" ocehnya sambil tertawa.


"Sekolah ya, Ok" rayu Air.


"Nda, dede mahu main sama jajah" tolaknya lagi sambil turun dari tempat tidur kemudian keluar sambil membanting pintu seperti biasa.


"Aku tuh takut kejepit tangannya" keluh Hujan, selama ini ia begitu takut hal itu terjadi pada Sam yang begitu aktif dan tak mau diam.


"Anak siapa coba?" goda Air.


"Anak akulah, mang kamu pikir dede anak siapa?" cetus Hujan sambil menyisir rambut setengah keringnya.

__ADS_1


"Berdua sama aku, aku yang bikin itu" selak Air tak mau kalah yang hanya balas cibiran dari istri tercintanya.


.


.


.


Braaaak...


"Dede acuk agih, Oey" teriak si Tutut saat kembali masuk kedalam kamar sang Gajah kesayangan.


"Wah, nda ada olang, jajah dede mana ya?" gumamya sambil terus masuk tapi ia merengut sedih saat tak ada siapapun di dalam kamar besar sang Tuan Rahardian.


Samudera kembali keluar, ia turun dengan lift yang akan membawanya ke lantai bawah. Kotak besi yang hanya dia yang boleh masuk kecuali si bocah bawel itu memang kebetulan tak ada di rumah utama.


Sam terkekeh mendengar bunyi tersebut, tingkahnya begitu menggemaskan mirip seperti Ammanya saat hamil si kembar dia puluh tujuh tahun silam.


Langkah kecilnya kini sudah memutar di ruang bawah yang sepi karna semua pekerjaan yang di lakukan para ART harus sudah selesai sebelum jam enam pagi.


"Appa mana cih? dede cali cali nda temu temu oey" keluhnya yang kini sudah berdiri di depan kamar Tuan Wisnu.


"Cini butan ya?" gumamnya lagi dengan tangan sudah memegang kenop pintu.


Tok.. tok.. tok..

__ADS_1


"Opung, dede boyeh acuk nda? dede mahu cali Appa dede, Appa hilang oey" ucapnya dari balik pintu.


"Appa nda Hilang Oey" bisik Reza yang ternyata sudah berada di belakang cucu kesayangannya


"Ya awoh, dede dadet. Kirain Jajah dede ilang" ujarnya terkejut bercampur senang.


"Hahaha, hilang kemana?" tanya Reza sambil meraih tubuh Sam untuk di gendong lalu di bawa ke ruang tengah rumah utama. Samudera di dudukkan di atas pangkuan Reza bersiap menerima banyak pertanyaan.


"Kenapa belum mandi? Ini sudah jam berapa, sebentar lagi waktunya sarapan dan berangkat sekolah bareng miMoy juga papAy" tanya Reza, ia pikir si tutut sudah rapih dengan seragam sekolahnya tapi justru malah masih memakai piyama tidur.


"Dede nda mahu tekoyah, dede mahu di lumah main ama Appa ya"


"Gak, ini waktunya sekolah, kita main saat dede pulang sekolah. No Debat, paham" tegas Reza.


"Dede tanen Appa oey" rayu Sam memeluk Reza dengan begitu erat sambil mengusel hidung di dada pria ternyaman nya itu.


"Tiap hari ketemu, bobo sama makan sama Appa, gak usah banyak alesan, Ok. Yuk mandi nanti pulang sekolah apa kasih hadiah.


.


.


***Horeeeeeee....


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁***

__ADS_1


Ada yang mau tebak hadiah buat cucu Sultan🀣🀣


__ADS_2