Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 76


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚



"Sini botolnya, itu udah habis de" pinta Hujan pada Samudera.


Anak pertama kesayangannya itu baru saja bangun dari tidur tapi sepertinya tak ada niatan untuk turun dari box bayinya meski Hujan sudah merayunya berkali-kali.


"Kita berendem yuk, mandi yang bersih" ajak Hujan.


Kali ini ia dan Air akan pergi ke luar kota, karna pasangan suami istri itu akan meresmikan salah satu Pusat Kesehatan Masyarakat yang baru selesai di bangun, Jika istri seorang Direktur perusahan besar kebanyakan berlomba membangun cafe atau villa, lain halnya dengan Hujan yang mengoleksi beberapa Puskesmas dan klinik di pinggiran kota ataupun pedalaman desa.


Yuk. beundem.


Samudera merangkak untuk mendekat, ia tertawa saat MiMoynya terus menciumi leher putihnya.


.


.


Lima belas menit membersihkan diri, kini saatnya Samudera dan Hujan bersiap lalu turun ke lantai bawah menunggu Air yang kini sudah di jalan arah pulang.


Hujan menuntun bayi montoknya itu berjalan menuruni tangga dengan sangat hati hati.


Atu


Ima


Nem


Jujuh


Jajah


Puyuh

__ADS_1


Huleeeeee


Hujan tertawa mendengar hitungan anaknya yang berantakan tak berurutan. Namun, itu menjadi sangat mengemaskan bagi siapa pun yang mendengarnya, apalagi saat Sam menyelipkan kata Gajah di antara angka yang disebutkan nya tadi.


"Salah dong, De'. Bukan begitu" kekeh Hujan saat berada di tangga terakhir.


Tak ada siapa pun di ruang tengah membuat Sam mendongakkan wajahnya.


Appaa


"Appa lagi di rumah Onty Chaca" Jawab Hujan yang paham dengan yang tanyakan putranya.


Onty


"Iya, dede tadi kan belum bangun" tambahnya lagi sambil berharap Samudera tak merengek ingin kesana juga.


Ammaaa


"Sama, Amma juga kesana. Kan Appa sama Amma satu paket"


Ceklek


PapAy, Huleeeeee


Samudera menyambutnya dengan tepuk tangan seperti biasa, Air yang sudah tersenyum sedari masuk langsung mencium anak dan istrinya secara bergantian.


"Aku mandi dulu ya sebentar"


"Iya, nanti sekalian bawa turun koper, Gajah sama pisang juga" titah Hujan sambil mencibir, malas rasanya selalu membawa dua benda besar itu setiap ingin menginap kemana pun.


.


.


Ketiganya kini sampai di kota tujuan, kali ini Air dan Hujan sengaja tak menginap di Hotel seperti biasanya melainkan di villa yang lumayan cukup besar di lereng gunung.

__ADS_1


Udara yang nampak begitu dingin membuat Hujan harus memberikan baju hanya untuk putranya agar tetap hangat.


"Untung aku bawa baju Beruang sama Dinasaurus buat Sam" ucap Hujan saat berada di dalam kamar.


"Emang masih muat?"


Hujan hanya mengangguk, lalu berjalan kearah kamar mandi setelah mendudukkan Samudera di di tengah ranjang.


Air yang berbaring disisi putranya itu pun mulai memejamkan matanya karna rasa lelah selama hampir empat jam perjalan.


Ia yang tak suka memakai jasa supir lebih rela harus berkali-kali istirahat agar leluasa bersama anak dan istrinya tanpa orang lain di dekat mereka, terlebih sifat Air yang kadang jahil sering menggoda istrinya.


"Dede gak bobo? papAy bobo tuh"


Samudera menggelengkan kepalanya, ia nampak kebingungan lalu merangkak mendekat.


Appa na?


"Appa gak ikut, dede sama MiMoy juga papAy dulu ya" ucap Hujan sambil mengelus kepala bayi beruangnya.


Bobo.


"Dede ngantuk? bobo sana Gajah dulu ya"


.


.


.


.


Iyyaaah.


__ADS_1


Gajah seniornya lagi gue keukepin nih de' 🀣🀣🀣


Like komennya yuk. ramaikan.


__ADS_2