Air Hujan

Air Hujan
bab 51


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hampir pukul empat sore keduanya baru sampai di apartemen, Air lebih dulu keluar dari mobil untuk mengambil barang mereka dari bagasi, satu koper dan tentunya tas yang berisi bantal Kesayangannya.


"Yuk" ajak Air setelah semua sudah di keluarkan.


Keduanya berjalan beriringan dengan langkah santai, hanya perlu memencet satu tombol kini mereka sudah sampai di lantai ia dan keluarganya tinggal.


Senyum lebar terlihat jelas di wajah pemuda itu saat membuka pintu karna ada mamanya yang sudah berdiri menunggu.


"Mamanya kakak....." serunya seperti bocah sekolah dasar.


"Sayangnya mama!" balas Melisa yang sudah merentangkan tangan siap memeluk anak sulungnya itu


"Kangen mama banyak-banyak"


"Apalagi mama, sampe tumpah tumpah kangenin kamu" kekeh Melisa.


Hujan hanya bisa tersenyum melihat anak dan ibu itu begitu mesra melepas rindu, pada mereka berpisah baru 2 hari dua malam.


"Sayang.." sapa Melisa pada menantunya itu setelah mengurai pelukan si sulung.


"Mah..."


"Kalian istirahat dulu sana, mama mau masak untuk makan malam" titah Melisa pada anak mantunya.


"Iya, Mah" jawab keduanya berbarengan.


Air dan Hujan Langsung menuju lantai atas kamar mereka setelah Melisa berlalu ke dapur, Air menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar adiknya yang sedikit terbuka.


"Bu...." panggilnya dengan hanya melongok kan kepala setelah meminta Hujan lebih dulu masuk kedalam kamarnya.


"Hem, apa?" jawab Bumi yang hanya menoleh.


"Kenapa?" tanya sang kakak pada kembarannya itu.


"Aku?, gak apa-apa"


Air mengangguk kecil, kemudian menutup pintu kamar Bumi dengan rapat.


Cuma kamu yang kakak pikirin sekarang


Kenapa harus nekat bertahan?

__ADS_1


******


Air yang merebahkan diri di tengah kasur sibuk bermain ponsel, bertukar pesan dengan para teman tongkrongannya yang akan mengadakan acara yang rutin mereka lakukan setiap tiga bulan sekali, salah satu di antara mereka akan bergiliran menyewa sebuah cafe untuk menghabiskan waktu semalaman berkumpul bersama-sama.


"Ay.." panggil Hujan setelah merapihkan barangnya.


"Hem, Apa?"


"Tadi siapa?, pacar Lo?" tanya Hujan, akhirnya ia bertanya juga.


"Gak tau"


"Loh, kok gak tau?" tanya Hujan bingung.


"Gue tuh bingung kalo di tanya pacaran, soalnya status doang gue pacar mereka tapi nyatanya rumah mereka aja gue gak tau" kekeh Air masih dengan posisi terlentang memainkan benda pipihnya.


"Emang gak pernah jalan atau main, gitu?"


"Gak sempet, kebanyakan. Lagian gue sibuk"


Air menceritakan semuanya secara terbuka pada sang istri, tak ada yang ia tutupi sama sekali..Semua pertanyaan Hujan di jawabnya dengan begitu santai tanpa ada rasa takut jika gadis halalnya itu marah.


"Mau sampe kapan begini?"


Dengan langkah pelan, Air datang menghampiri sang istri yang begitu sexy kali ini, baju oblong dengan rambut basahnya sungguh sangat menggairahkan jiwa kelelakiannya dan juga miliknya yang perlahan mulai uyek uyekan 🀭


.


.


"Nanya apa tadi?"


"Apa?" Hujan balik bertanya.


"Mau sampe kapan gue begini?" Air mengulang pertanyaan yang istrinya tanyanya tadi.


Hujan mengangguk, ia memberanikan diri menatap intens kedua manik mata suaminya yang malah begitu teduh ia rasa.


"Kenapa harus mikirin hubungan gue yang gak jelas? yang penting kan gue gak macem macem. Gue selalu sama Lo" jelas Air yang sudah merapatkan tubuh mereka.


"Tapi gue cuma mau Lo milik gue satu-satunya, Ay"


"Egois banget, Lo" kekeh Air sambil mengangkat dagu Hujan

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yang penting kan gue gak berbagi hati apalagi berbagi ranjang...



Kaaaaaakk..


sisa kuah seblak masih ada nih. boleh gue siram ke Lo gak?


meni teu sopan ka kolot ngarujak bibir di umbar kitu 😭😭😭😭. gustiiiiiiiiii...


Pan akoh hayang 🀭🀭

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan β™₯️


__ADS_2