
π»π»π»π»π»π»
Dengan langkah tergesa Air menuruni anak tangga menuju dapur tempat dimana kedua orangtuanya berada, Ia mencium pipi kanan kiri mamanya yang sedang sibuk memilah dan memilih sayuran yang akan di masaknya nanti saat makan siang sambil di selingi obrolan ringan bersama sang suami.
"Kakak mau kemana?" tanya Reza saat ia pun mendapat ciuman yang sama dari si sulung.
"Mau main bentar, Pah" jawabnya singkat kemudian berlalu menuju pintu utama.
Namun langkahnya berhenti sejenak di ruang tengah saat melihat adik kembarnya masih asik bermain PlayStation, Ide jahil pun mulai menjalar di otaknya yang sedang tak beres kali ini.
"Apa sih!!" sentak Bumi saat Air mengacak-acak rambutnya dengan iseng sambil lewat.
Air hanya menjulur kan lidahnya untuk membalas ocehan kesal Bumi.
.
.
.
Motor besarnya melaju dengan kecepatan sedang menuju bengkel yang sekaligus dijadikan markas tongkrongan teman-temannya, tempatnya begitu nyaman maka dari itu tak pernah sepi pengunjung, jadi jangan heran jika dari penghasilan satu bengkel saja membuat rekeningnya selalu buncit.
"Tumben nongol?" tanya salah satu temannya saat Air baru saja datang.
"Biar gak di bilang sombong" kekehnya sambil menarik kursi.
"Cih.." timpal yang lain berbarengan, ada yang mencibirnya dan ada juga yang tertawa.
"Nanti jam dua ada yang latihan balap buat minggu depan nonton yuk, Ay" ajak salah satu temannya lagi dari semasa Sekolah Dasar.
__ADS_1
"Dimana?," tanya Air yang mulai antusias.
"Tempat biasa" sahutnya cepat sembari menepuk bahu teman kecilnya itu.
"Makanya jangan ngelonin bini mulu, Ay" ejek yang lain sambil tergelak.
"Gak usah banyak omong kalo belom tau rasanya punya pacar halal, Woy!" balas Air tak mau kalah, Ia sudah biasa mendapatkan ledekan seperti itu karena memang benar adanya jika semenjak menikah waktu bersama teman-teman tongkrongannya sedikit berkurang kecuali teman yang masih satu kampus dengannya.
Setiap hari ia berkutat dengan buku dan laptop belum lagi sesekali mengecek usaha sampingannya, tentu jatah libur ia pakai sebaik mungkin bersama dengan sang istri.
Saling ledek, gelak tawa, dan candaan begitu riuh terjadi di bengkelnya tapi semua itu tak membuat Air lupa dengan sosok Hujan yang kini ia tinggal dikamar nya sendiri. Ada rasa sesal yang ia rasa saat pergi tadi, tapi penolakan sang istri begitu aneh baginya, karna semenjak menikah ini pertama kalinya Hujan meminta hal konyol seperti tadi yang bahkan ia sendiri tak tahu alasannya.
"Ada masalah?" tanya Boby yang tiba-tiba duduk di sisinya.
"Segini rame nya tapi Lo datar aja gitu, gak yakin gue gak ada apa-apa"
Ia tak pernah sesumbar Sembarangan kecuali kepada orangtuanya, aib pertengkarannya akan ia sembunyikan serapih mungkin.
.
.
"Ayo, Ay.." ajakan temannya membuyarkan lamunan Air , ia yang terkejut reflek menoleh.
"Ayo, nanti telat"
Pemuda tampan yang sedang resah itu hanya mengangguk lalu memakai kembali jaketnya, berjalan bersama teman-temannya menuju motor mereka masing-masing.
Hampir satu jam perjalanan akhirnya semuanya sampai di tempat latihan ajang balap motor, sudah banyak penonton yang memadati area sisi jalan karna latihan akan segera di mulai.
__ADS_1
"Kesana yuk. Gue kenalin sama yang balapnya" salah satu teman Air langsung menarik tangan Air. Ia hanya ikut dan mengekor di belakangnya.
"Ay, kenalin nih"
"Air.." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
.
.
.
.
.
.
.
Diandra!
πππππππππ
Gak kecantol kan, kak π€π€
Gak usah cari tantangan lagi ya π
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ
__ADS_1