
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Hayu,, Jan kita kabur!"
Air menarik tangan Hujan keluar dari kamar orang tuanya sebelum ia mendapat semburan dari gajah berserta pawang dan para cebong lainnya.
"Tangkep, Kak" titah Reza pada Bumi yang sebernarnya masih terkejut.
"Hah? Iya pah"
Si sulung yang sudah berlari lebih dulu sempat bersembunyi di dekat lift karna ia tahu pasti akan di kejar oleh Adik atau Abangnya seperti yang sudah-sudah terjadi padanya.
"Kenapa sih, Kak?" tanya Hujan saat tubuh langsingnya di rapatkan di tembok.
"Diem! Jangan bersuara" pinta Air yang menghalangi Hujan sampai tubuh keduanya saling menempel.
"Gak usah ngumpet, pergi sana!" cetus Bumi yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat mereka dengan tangan melipat di dada.
"Hahaha, wakilin kakak buat dengerin papa ngomel ya wahai adik kembar kesayangan" ucap Air sambil terkekeh.
Tatapan datar dan santai Bumi malah membuat bulu halus Hujan meremang seketika.
"Yuk" ajak Air lagi.
"Kemana?"
"Jalan-jalan, Laper butuh makan biar jadi tenaga nanti semangat nengokin bayi" jawabnya yang kembali merangkul bagi Hujan setelah Bumi lebih dulu pergi..
Senyum tak lepas dari Wajah Air tapi tidak dengan Hujan, Gadis itu masih merasa tak percaya dengan yang terjadi barusan.
"Aku hamil loh, Kak" gumam Hujan saat keduanya sudah berada dalam mobil.
"Iya, Hasil kerja kerasku dua tahun, puasa dua tahun dan bonus beberapa bulan akhirnya jadi bayi" jawab Air yang menatap lekat sang istri yang menunduk.
"Kenapa, bukannya kamu mau punya anak?" tanya Air sambil mengangkat wajah Hujan.
__ADS_1
"Iya, tapi masih belum percaya aja, secepat ini?"
Air membawa tubuh Hujan kedalam dekapannya, ia ciumi pucuk kepala sang istri berkali-kali untuk menenangkan.
"Kalo kamu gak ngejaga, mungkin anak kita udah dua" ujarnya sambil tergelak jika mengingat ia harus pura pura bodoh saat meminta haknya.
"Ih.. masih nyindir aja. Nyebelin" ketua Hujan yang sering marasa malu sendiri tapi ia melakukan itu tentu ada alasannya.
"Rejekinya baru dikasih sekarang, yang penting kalian sehat"
Hujan hanya mengangguk dalam dekapan suaminya, Air menarik tangan Hujan untuk sama-sama menyentuh perut yang masih rata namun siapa sangka kini ada kehidupan baru di dalam sana.
*******
"Jadi menantu kami hamil?" tanya Melisa.
Wanita cantik yang kini masih shock itu selalu menyebut status Hujan di depan semua orang, ia ingin Hujan merasa di akui dan di hargai dalam keluarga Rahardian tanpa hanya menyebutkan namanya saja.
"Iya, Nyonya. Nona muda positig mengandung" jawab Sang dokter sambil menunjukkan alat tes kehamilan yang tadi di berikan Hujan.
"Tuan besar kemungkinan sedang mengalami morning sickness atas kehamilan Nona muda"
"Kok bisa?, dulu saat saya hamil si kembar memang suaminya saya mengalami syndrom couvade atau kehamilan simpatik, tapi ini kan.... " Melisa yang nampak bingung tak lagi bisa berkata-kata.
"Syndrom couvade atau kehamilan simpatik memang sering terjadi pada pasangan suami istri dan itu lumrah, tak jarang juga bisa dirasakan antara ibu dan anak lainnya tergantung pada siapa ikatan kuat itu terjalin dan tak ada masalah jika masih dirasakan oleh orang-orang terdekat termasuk keluarga inti" jelas dokter yang sebenarnya ingin tertawa karna keunikan keluarga Rahardian.
"Baiklah kalau begitu, saya sudah tuliskan resep untuk diminum Tuan besar meski hanya mengurangi rasa mual saja karna morning sickness akan hilang di trimester kedua kehamilan"
Dokter yang pamit pulang pun di antar oleh Langit sedangkan Melisa dan Cahaya mendekat kearah Reza.
"Sabar ya, Mas" ucap Melisa sambil mencium kening suaminya, ia ingat lagi betapa tersiksanya Reza saat ia hamil dan setelah puluhan tahun kini Reza merasakan lagi.
"Kenapa aku, Ra?, mereka yang bikin loh!" protes Reza yang kesal.
"Hujan hamil saat kita mau pergi, kalo dia sendirian disini kalau ada apa-apa gimana?, calon cucu mu mau minta kita jagain mamanya, Mas"
__ADS_1
Reza hanya membuang nafas kasar, jauh dalam relung hatinya tentu ia bahagia dengan kabar kehamilan menantu kesayangannya itu tapi ia hanya merasa AUTHOR sedang tak adil padanya.
Cek lek..
Pintu terbuka dan kini Bumi yang datang, langkah pelannya menghampiri kedua orang tua dan adik bungsunya di ranjang
"Ketangkep gak tuh cebong?" tanya Reza pada ditengah.
"Enggak, Pah" jawab Bumi
"Terus kakak kemana sekarang?" kini sang mama yang bertanya
.
.
.
.
.
.
.
.
Puncak....
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Jadi yang honeymoon siapa π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan..
__ADS_1
Asal bukan tukang parkir aja yang ngidam, iya gak kak ππ