
ππππππππ
"Sempit banget, Jan" keluh Air saat ikut berbaring bersama anak dan istrinya di kamar Hujan.
"Muat, Kak. Gak usah banyak protes!" kata Hujan yang tahu jika itu semua hanya modus suaminya.
"Gak bisa gerak gerak" kata Air lagi manja.
Hujan menghela napasnya, jika begini biasanya Air akan meminta hal yang aneh aneh padanya.
"Nanti dede bangun, cepet tidur!" titah Hujan yang mulai mengeluarkan mode garangnya bagai menyuruh tidur pada anaknya sendiri.
"Udah nyenyak banget dia, yuk"
"Yuk, apa?" tanya Hujan pura-pura tak tahu, ia yang tiga malam ini tak melayani suaminya tentu paham apa yang di inginkan oleh Air.
"Kamar mandi yuk"
"Gak ah, ngaco!" tolak Hujan, jika kamar mandi di tempat Air mungkin Hujan menyetujuinya karna luas dan mewah berbeda dengan kamar mandi di tempat Bunda.
Air yang merengut kesal langsung memeluk Hujan layaknya ia memeluk si pisang setiap malam, Hujan hanya terkekeh geli saat kepala suaminya itu tenggelam di lehernya.
"Dede bangun terus nangis awas ya" ancam Hujan karna kebunnya kini sudah di jelajahi oleh tangan Air yang terus mengelus hutan rindang nya.
"Enak gak?"
Hujan hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya saat Air menggelitik sesuatu yang ada dalam kebun kecilnya yang kini sudah sangat basah.
"Udah enak, 'kan? sekarang tidur ya" bisiknya meledek seraya menarik tangannya.
__ADS_1
******
"Hali ini kita pulang?" tanya Sam saat melihat miMoy nya membereskan barang-barang mereka.
"Iya, kan nginepnya cuma dua hari"
"Ntal cini agih apan?"
"Kapan kapan, kalau bunda gak sibuk"
Sam memang baru nampak betah karna ada anak kucing teman ia bermain, Sam akan berlama-lama duduk dekat kardus berisi empat ekor anak kucing warna warni yg baru saja di lahirkan.
"Miong olennya bawa, boyeh?" pintanya memohon.
"No! Appa gak mau ada kucing di rumah" tegas Hujan yang tahu peraturan keluarga Rahardian.
"Appa tak cuka Miong?" tanya Sam aneh, karna ia tak tahu hal ini.
"Nda mahu, Jajah dede" jawabnya menunduk dengan semakin erat memeluk boneka gajahnya itu.
.
.
Sore hadi ketiganya benar-benar pulang kerumah utama saat Air pulang dari kantor, Sam yang diam sedari tadi tentu membuat kedua orangtuanya bingung. Berkali-kali Air dan Hujan bertanya tapi bocah menggemaskan itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sih?" tanya Air lagi pada Hujan, mobil nampak sepi saat putranya iti diam dan merenung.
"Gak tahu, kakak gak janjiin apa-apa, kan?" Hujan balik bertanya yang di jawab gelengan kepala oleh suaminya.
__ADS_1
Sampai di rumah utama ketiganya langsung menuju ruang makan karna semua sudah menunggu kedatangan Air Hujan dan Samudera setelah dua hari pergi kerumah Bunda.
"Tutut cemberut aja kenapa?" tanya Reza saat cucu kesayangannya itu duduk dan memeluknya di atas pangkuan.
"Iya, diem aja tuh dari tadi, lagi puasa bikin ribut ya de?" goda Air sambil terkekeh.
"Dede di nakalin papAy ya?" Melisa yang aneh melihat diamnya Sam tentu ikut angkat bicara sambil melirik tajam kearah sisulung.
"Nda, dede agih binun, Amma" jawabnya masih dengan memanyunkan bibirnya.
"Bingung kenapa?" tanya semuanya berbarengan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Binun.. dede mahu Miong apa Jajah?