
πππππππππ
"Moga besok Sam gak rewel"
Air yang mendengar ucapan Hujan pun langsung menoleh, ia juga melirik koper kecil dekat lemari pakaian yang sudah sedari siang disiapkan oleh Hujan, istrinya itu begitu antusias saat tahu jika Anna baru saja pulang dari luar kota.
"Kalau rewel nanti pulang lagi" sahut Air.
"Emang kamu pikir aku gak bisa buat nenangin anakku sendiri?!" timpal Hujan yang tak suka dengan jawaban suaminya, ia yang jarang sekali bertemu dengan Anna tentu sangat senang saat wanita itu mengabari jika sudah berada dirumah.
"Aku gak bilang gitu, Jan!"
"Iya, tapi seakan mengarah kalau aku gak bisa ngurus anak!" balasnya dengan meninggikan nada bicaranya.
Air yang terkejut dengan sikap Hujan sampai mengernyitkan dahinya, ia hampiri wanita yang sudah melahirkan dua anak untuknya itu lebih dekat.
"Kamu kenapa?" tanya Air sambil mencekal lengan Hujan.
"Gak apa-apa!" jawabnya sambil melepas cekalan Air yang terasa sedikit nyeri.
Hujan melengos pergi keluar dari kamarnya menuju lantai bawah karna masih ada dua adik iparnya disana.
.
.
"Sam tidur?" tanya Kahyangan saat melihat menantu pertama Rahardian itu baru turun dari tangga.
"Iya, capek banget kayanya"
"Abang kalau ajakin Sam bercanda kadang gak kira-kira, kalau belum nangis gak mau berenti" timpal Cahaya yang dibuat kesal oleh Langit.
"Sam itu bikin gemes, main sama dia tuh gak cukup sebentar" kekeh Kahyangan yang sampai saat ini belum di beri kepercayaan untuk mengandung keturunan Rahardian.
#Ups.
__ADS_1
Hujan dan Cahaya pun langsung berhambur memeluk gadis cantik berhijab navy itu, sampai Yayang akhirnya terkekeh sendiri saat dua saudara iparnya itu bersikap begitu manis.
"Nanti dikasih langsung kembar banyak, gak dapet dari kakak Ay mungkin turunan kembarnya ada di Bumi" kata Hujan sambil tergelak.
"Aamiin, berapa pun akan aku terima dengan senang hati, anak itu adalah rejeki dan anugerah yang paling indah." sahut Kahyangan sambil membayangkan betapa sempurnanya nanti rumah tangga ia dan Bumi dengan kehadiran seorang anak.
"Kita akan melahirkan dan membesarkan para keturunan Rahardian dengan sebaik mungkin, yang sabar ya" ucap Hujan yang belum mengurai pelukannya dari samping.
"Huaaaaaa... aku gak ikutan!" rengek si bungsu tiba-tiba.
"Loh, kamu kenapa, Dek?" tanya Hujan dan Kahyangan pada Cahaya secara berbarengan.
Aku kan lahirinnya buntut BIANTARA...
*******
Hujan yang bangun lebih pagi dari biasanya sudah rapih dan bersiap membantu mertuanya menyiapkan sarapan, sampai Melisa menautkan kedua alisnya saat sang menantu datang secara tiba-tiba.
"Sam belum bangun?" tanya Melisa, semenjak ada Baby Bear Hujan hanya di tugaskan untuk mengurus bocah menggemaskan itu.
"Jadi hari ini kerumah bunda?"
"Iya, sekalian bareng sama kakak" sahut Hujan lagi, ia nampak ikut sibuk menyiapkan sarapan pagi.
"Satu minggu hanya di rumah bunda atau mau ke tempat lain juga?"
Hujan diam sesaat, ia pun belum tahu apa rencananya nanti disana karna yang ia tahu, ia hanya akan pulang ke tempat ia dibesarkan selama ini.
"Entah, Mah. Biasanya bunda yang minta saudara yang dateng karna kalau buat keluar bunda udah gak mau," ucap Hujan.
"Kenapa?"
"Mungkin lelah, selama ini udah sering keliling buat kerja." jawabnya hanya menebak.
Melisa hanya mengangguk paham, pandangan kedua menantu Rahardian itu pun beralih saat Reza datang menggendong Baby Bear yang terisak sedih.
__ADS_1
Moy....
"Dede kenapa? Kakak kemana, Pah?" tanya Hujan yang bingung karna Samudera datang bersama mertuanya.
"Pingsan kali!" sahut Reza yang terlihat kesal.
"Serius, Mas?" tanya Melisa panik.
"Kalo gak pingsan nih anak nangis pasti denger, Ra!"
Hujan membuang nafas kasar, bukan ia tak tahu tapi ia hanya menutupi apa yang ia tahu.
"Aku keatas dulu, mah, pah" pamitnya sambil menggendong anak kesayangannya yang mulai tenang.
Hujan menaiki tangga satu persatu dengan perasaan kesal, ada yang mengganjal di hatinya selama beberapa hari ini yang belum ingin ia ungkapkan.
.
.
.
.
.
.
.
Semoga kepergianku membuatmu SADAR!
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Eh... ntar si kakak di gondol readers loh Jan π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.