Air Hujan

Air Hujan
Tanduk dua


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Tok.. tok.. tok..


"Moy, mana ya?" gumam Sam yang berdiri di depan pintu kamar orang tuanya yang tertutup rapat.


"Moy, mungkin tidur atau mandi. Main aja yuk sama Appa" ajak Reza pada cucu pertamanya itu.


Sam yang baru saja pulang dari sekolahnya langsung menghampiri pintu berwarna Putih setelah berganti seragam, tapi sayangnya sudah berkali kali di ketuk tetap tak ada jawaban sama sekali dari si penghuni kamar.


"Main apa? lari lari yuk. Kejar dede ya, Appa tangkep dede, Ok" kata Sam yang sudah bersiap.


"Ok, yuk. Dede hitung dulu ya" timpal Reza dengan isengnya.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, jajah, delapan, sembilan, sepuluuuuuuuuh" Sam pun lari sambil tertawa stelah berhitung, hitungan yang masih sama seperti biasa.


"Buset dah! banyak amat ya ngitungnya!" kekeh Reza saat cucunya itu semakin jauh dari pandangan.


.


.


.


Sudah pukul empat, akhirnya Hujan keluar dari kamarnya dengan jaket tebal membungkus tubuh mungilnya. Ia melipat tangan di dada seakan hawa dingin menusuk sampai ke tulang.


"Kamu demam, Jan?" tanya Melisa saat menantunya itu datang ke halaman samping.

__ADS_1


"Enggak, Mah. Cuma dingin banget" sahut Hujan.


"Pusing?" tanya si Nyonya besar lagi yang di balas geleng an kepala.


"Tadi siang sih sempet pusing, cuma sekarang enggak ko karna udah minum obat" Sebagai calon dokter ia tahu apa yang harus segera ia lakukan serta obat apa saja yang bisa di konsumsi sesuai dosisnya.


"Ya sudah, istirahat saja sana"


"Sam mana? aku belum ketemu dia sejak pulang sekolah tadi" Hujan balik bertanya karna ingat pada putra semata wayangnya.


"Lagi main sama papah, tapi kayanya tadi rewel pengen tidur juga. Paling lagi pelukan di kamar" sahut sang ibu mertua baik hati.


Belum sempat Hujan menjawab, ia di kagetkan oleh suaminya yang tiba-tiba datang. Satu kecupan manis pun mendarat sempurna di pipi Hujan yang terasa hangat.


"Kakak!" seru Melisa dan Hujan berbarengan.


"Pulang atau apa?"


"Pulang, aku kerja gak tenang banget, Entahlah" kata Air sambil memperhatikan raut wajah istrinya yang sedikit pucat.


"Kok bisa? mikirin apa?"


"Mikirin kamu Jan Hujan deres yang takut petir" ucap Air sambil tertawa, sedangkan Hujan dan Melisa malah mencibir.


Dasar Buaya!! ..


Air yang pulang lebih awal dari biasa minta di buat kab makanan sebab tak satu sendok pun makan siang masuk kedalam mulutnya karna rasa gelisah tak beralasan.

__ADS_1


"Suapin!" Pinta Air saat sepiring kentang goreng tersaji di atas meja makan.


"Manja!"


"Bukan manja, Moy. Tapi kamu harus tanggung jawab soalnya udah ngacak ngacak pikiran juga hati aku dari siang, kamu gak kabarin apa-apa ke aku" oceh Air.


Pria itu masih sama, punya tingkat ke posesifan akut yang luar biasa. Tak bisa sedikit pun merasa di abaikan Air akan uring-uringan sepanjang hari. Ia yang tak bisa jauh dari sang pemilik hati tentu akan protes saat Hujan tak membalas pesan atau mengangkat teleponnya.


"Dede mana?" tanya Air saat tak melihat putra semata wayangnya itu.


"Dede sini, Oey" sahut Sam yang baru saja datang dengan wajah masam.


"Eh, kenapa? kok cemberut?" Hujan langsung memangku Sam duduk di kursi lain.


.


.


.


.


.


Appa bikinin dede tanduk dua...


__ADS_1


__ADS_2