
πππππππππ
"Udah dong kak, jangan di itungin terus jarinya" ujar Reza pada si sulung yang duduk di sisi box bayi.
"Kakak takut, Pah"
Reza tertawa kecil lalu datang mendekat kearah anak pertama, cucu pertama, dan cicit pertama Rahardian itu.
"Kan dokter udah bilang semua lengkap, apalagi yang kamu takutin sih?"
"Kakak cuma mau mastiin kalo jari tangannya sepuluh, jari kakinya juga sepuluh, Pah. Takut kurang" jawab Air yang memang merasa khawatir sejak Baby Bear masih ada di dalam kandungannya.
"Emang kenapa kok bisa mikir kurang lengkap?" tanya Reza penasaran, ia lalu melirik kearah Hujan namun, sang menantu hanya menggeleng kan kepalanya.
"Kakak kmren bikinin seblak buat Mak Othor tapi ceker Ayamnya kepotong, kakak kepikiran terus, Pah"
Uhuk.. uhuk.
Reza yang memang sedang menyesap kopinya langsung batuk saat mendengar alasan si sulung kenapa merasa khawatir.
"Kamu samain jari tangan anakku sama ceker Ayam?" protes Hujan, kesal.
"Gak gitu, sayang. Kan pas aku potong jari Ayam akunya gak amit-amit"
********
Bayi laki-laki itu terjaga lagi saat Hujan baru saja ingin terlelap, ia yang hanya berdua dengan sang suami akhirnya meminta Air membawa Baby Bear kepadanya lagi.
"Kak, Baby nya bawa sini lagi dong" pinta Hujan, bukan ia tak sanggup bangun, ia hanya sedang merasa kantuk yang luar biasa.
Proses melahirkan normal dan juga Hujan yang memang menurut apa kata dokter dan Mama mertuanya membuat ia lebih cepat pulih dan sehat.
"Iya, tunggu"
__ADS_1
Air yang sama dengannya baru saja ingin terlelap harus turun dari ranjang pasien.
Ranjang pasien? Ya.. keduanya memang sedang berbaring saling memeluk setelah pria tampan itu terus merengek mengatakan merindukan Hujan, padahal jelas jelas sang istri ada bersamanya selama seharian penuh beberapa hari terakhir ini.
"Kenapa gak bobo sih?" ujarnya saat mengangkat sang putra dari box bayi.
"Kita ngantuk loh" protes Air dengan mata hanya setengah terbuka.
Ia yang kini resmi menyandang sebagai Ayah langsung menyerahkan Baby Bear pada Hujan.
"Aku bukain sini" tawar Air untuk membuka tiga kancing baju istrinya sambil tersenyum penuh arti.
Hujan hanya pasrah, ia sedang tak ingin berdebat sama sekali, otaknya hanya ingin bermimpi siang ini karna si tampan yang begitu lucu itu tak hentinya menyusu padanya.
"Kata papa nanti Baby nya kalo udah lahir, aku gak kebagian" ucapnya sambil memainkan pipi Baby Bear.
"Tapi sebelah kanan nganggur tuh kayanya" tambahnya lagi sambil terkekeh.
"Gak usah macem macem, Ay. Gak boleh loh" ancam Hujan, ia takut sang suami bisa nekat mengingat Hujan jarang sekali menolaknya berhubungan kapan pun dan dimana pun itu.
"Biar balapan, aku juga nanti anteng loh kalo kenyang, janji deh gak akan gangguin kamu" godanya lagi.
"Gak mau!" jawab Air cepat.
"Kenapa?"
"Aku masih butuh asupan gizi, Jan Hujan Dereeeeesss!"
Keduanya tergelak bersama, Air akan melakukan hal apapun agar Hujan terhindar dari baby blues syndrome, ketenangan Sang istri kini menjadi prioritas utamanya bukan hanya agar cepat sehat tapi juga agar putranya mendapatkan ASI yang berlimpah.
Ia yang sudan menjadi suami siaga selama lima tahun, kini harus bersiap juga jadi Ayah panutan untuk buah hatinya.
"Ay, kamu udah ada nama belum?" tanya Hujan
"Udah, kenapa?" Air balik bertanya.
__ADS_1
"Siapa?, aku gak sempet mikirin nama kemarin"
"Iyalah, orang kamu sibuk ngitung duit mulu, mana inget cari nama" sindir Air yang langsung membuat Hujan malu dan merona.
"Nikmat banget ya ternyata banyak duit, aku serasa paling cantik karna di kelilingi banyak pria" kekehnya dengan bangga namun, membuat Air merengut kesal.
"Iya, jadi gak salah kan kalo nih orok jadi Baby Bear alias Bayi berUANG!" cetus nya yang kemudian mencium pipi bulat sang putra.
"Terus siapa namanya?" tanya Hujan lagi kembali ke topik utama.
.
.
.
.
.
.
.
.
Samudera ErRainly Rahardian Wijaya.
ππππππππππ
Hahaha.. terjawab sudah nama Baby Bear ya..
Makasih buat kalian yang udah kasih saran nama ya..
Samudera?
__ADS_1
Akhir dari turunnya AirHujan semua bermuara kesana ππ
Like komennya yur ramaikan.