Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 54


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Pokonya kakak pulang kantor langsung kesini ya" pesan Hujan pada suaminya yang sudah ia katakan sebanyak lima kali semenjak Air bangun tidur.


"Iya, Jan. Jan Hujan deres yang takut petir" jawab Air sambil memakai kemejanya.


Jika menurut rencana awal, ini adalah hari terakhir mereka menginap di rumah Bunda dan saat ini juga Hujan sedang sibuk membereskan semua barang-barang yang akan di bawa kembali ke apartemen.


"Dulu bawa pisang aja ribet banget, sekarang makin ribet bawa-bawa gajah!" rutuknya kesal.


Kemanapun mereka pergi, dua benda itu wajib di bawa. Bahkan Air memilih tak membawa baju asal kopernya bisa di isi oleh si pisang, begitu pun dengan Samudera yang akan rewel mencari gajahnya sebelum tidur kecuali ia terlelap dalam dekapan Appanya, si Gajah senior yang gantengnya sampe tembus ke langit ketujuh


#MakinJauhMakinGakBisaCiumKan!


"Nikmatin, Jan! kamu itu wanita pilihan" kekeh Air sambil merayu istrinya yang sedang merengut.


"Ribet, Ay. Apalagi si Gajah gede banget!"


"Kan biar enak peluknya, Moy. Kaya gini nih" ujar Air yang langsung mendekap sang istri dari berlakang dengan tangan kiri mengusap kebun kecil milik Hujan yang semalam baru saja ia datangi sebanyak dua kali.


"Kakak udah gak tidur di kantor lagi, 'kan?" tanya Hujan, ia berusaha menghindari serangan suaminya yang mungkin saja akan menerkam nya lagi.


"Enggak, kan udah gak bergadang" jawabnya dengan hidung bermain di sisi leher Hujan.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu kamar membuat pasangan suami istri itu buru-buru melepas pelukannya, Air duduk di sisi ranjang sedangkan Hujan berjalan ke arah pintu.


Cek lek.

__ADS_1


"Sarapan dulu, sudah siang" titah Bunda yang baru saja pulang membeli sarapan bersama Samudera, bocah tampan yang belum mandi itu pun langsung merangkak saat melihat Hujan di ambang pintu.


"Iya, Bun"


"Dede beli apa?" tanya Hujan saat meraih putra kesayangannya Itu untuk ia gendong.


Weh belly.


"Enak gak? makan yang manis manis terus nanti mandi harus sikat..." Hujan sengaja tak meneruskan ucapnya.


Didi.


Hujan langsung menciumi pipi bulat anak kesayangannya itu sambil masuk kembali kedalam kamar, menyerahkan Samudera pada suaminya


Pay, na?


"Kerja dong, mau ikut gak?"


Hujan menoleh sembari tersenyum kearah dua pria yang teramat ia cintai itu sepenuh hatinya.


"Ngapain ikut? nanti aja kita pulang ke Appa ya" jawab Hujan.


Huleeeeeeeeee....


Samudera bersorak sambil bertepuk tangan saat mendengar MiMoy nya menyebutkan Appa, bocah satu tahun itu memang sedang sangat merindukan kakeknya. Keduanya terakhir bertemu saat di restoran tempo hari lalu dan selebihnya mereka hanya bertatap muka lewat sambungan video call.


"Sarapan dulu yuk, udah siang" ajaknya kemudian.


Ketiganya kini berjalan menuju dapur, sudah ada Bunda yang menyiapkan makanan di atas meja lengkap dengan sarapan untuk Samudera juga. Namun, anak itu menggeleng kan kepalanya saat Hujan mendudukkannya di kursi bayi.

__ADS_1


"Habiskan ya" titah Hujan pada putranya yang lagi lagi menggeleng.


"Kenapa? dede gak mau sarapan"


Susu, Moy.


Samudera yang merengek ingin susu akhirnya membuat Hujan bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah kitchen set.


"De' Kita ke peternakan sapi yuk" ucap Air yang hanya dibalas raut wajah tanpa ekspresi dari putranya itu.


"Ngapain, Kak?" tanya Hujan.


.


.


.


.


.


.


.


Biar si bayi beruang anak buaya titisan buntut gajah ini minum susu langsung dari sapi.


__ADS_1


Bangun bobo udah ganteng banget, makin cinta sama Appanya kan 🀣🀣🀣🀣🀣


__ADS_2