
ππππππππ
Hari ini bertepatan dengan acara tujuh bulanan Hujan yang di adakan di rumah utama sesuai permintaan Oppa yang pastinya tak ada satupun yang berani membantah apalagi ini adalah Cicit pertamanya yang sudah sangat ia tunggu dan menjadi alasan pria baya itu untuk selalu sehat.
Ia selalu berdoa agar bisa menimang semua cicitnya lagi lebih dulu sebelum kembali ke pangkuanNya.
"Udah cantik, Sayang" bisik Air saat memeluk Hujan dari belakang.
"Iyakah?, sebesar ini masih cantik?" tanya Hujan tak percaya diri, ia berkata sambil mengusap perutnya yang besar.
"Kamu cantik hati, dan itu yang membuat ku jatuh cinta setiap hari padamu"
"Emang beda?" tanya Hujan lagi.
"Tentu, cantik wajah kalo bertambah umur pasti akan terlihat perubahannya tapi jika cantik hati mau kamu setua apapun akan tetap cantik" ucap Air dengan Menatap intens ke arah istrinya seakan ia begitu mengagumi sosok wanita di hadapannya kini.
"Tapi laki-laki selalu memandang fisik" cetus Hujan yang langsung membuat air tersenyum simpul.
"Iya, tapi semua laki-laki tentu ingin memiliki pendamping yang baik untuknya dan untuk anak-anaknya kelak karna semua orang tahu jika surga di telapak kaki ibu dan itu seorang wanita" tambah Air lagi.
Tak ada yang membahagiakan hati si ibu hamil kini kecuali mendengarakan kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya.
Tok.. tok.. tok..
"Kak.. sudah siap belum?" panggil Melisa sambil mengetuk pintu kamar si sulung.
"Iya, Mah." sahut Air sambil mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Yuk, Kita keluar dan mengaminkan semua tamu yang datang kasih banyak doa untuk kita terutama untuk si Baby"
Hujan mengangguk kecil, meraih tangan suaminya yang terulur di hadapannya.
Pasangan suami istri itu kini keluar dari kamar menuju lantai bawah, Hujan menolak saat Sang suami menawarkannya naik lift untuk turun ke ke ruang tamu yang kini sudah nampak ramai karna Oppa dan papanya begitu banyak mengundang tamu, teman, anak yatim dan para janda tua untuk memeriahkan acara pengajian tujuh bulanan sang menantu pertama Keluarga Rahardian yang membuat para gadis merasa iri karna Hujan selalu di perlakukan bak Tuan Putri oleh semua orang.
"Kamu duduk aja ya, jangan terlalu lelah " pesan Melisa pada Wanita yang kini mengandung cucu pertamanya itu.
"Iya, Mah"
Hujan yang di temani Bundanya hanya duduk di sofa saat para tamu menyalami dan mendoakannya.
Senyum bahagia tak lepas dari wajah cantiknya yang kini berbalut gamis dan pashmina putih
"Sebanyak ini kah yang menyayanginya juga buah hatinya?" gumam Hujan sambil menghapus buliran cairan bening dari sudut matanya.
Acara pengajian, Ceramah dari beberapa ustadz dan santunan sudah selesai di bagi bagi, kini saatnya makan makan bagi siapapun yang hadir tanpa pengecualian.
Tak ada yang di bedakan karna semua bersatu di lantai bawah, halaman depan dan samping yang memang begitu luas.
"Sayang makan dulu yuk" ajak Air pada Hujan yang sedikit terlihat letih.
"Aku mau minum dulu" pinta Hujan yang langsung di iyakan oleh Air dengan sigap.
"Aku ambil dulu"
__ADS_1
Calon ayah itu segera menuju meja tempat air putih tersaji karna Hujan diminta untuk mengurangi beberapa jenis minuman manis kecuali busmah asli itupun tanpa gula.
Namun langkahnya terhenti saat ia melihat kembarannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bumi bawa siapa?
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Bawa tukang pecel Ay... katanya lo belom bayar π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.