
πππππππ
"Belom, aku mau ke Bank, mau cium sama pegang yang lebih banyak lagi, Boleh?" pinta Hujan dengan begitu polosnya.
Air hanya Bisa tertawa saat Hujan mengutarakan keinginannya jika ia ingin mencium dan melihat banyak uang saat ini juga, bahkan wanita hamil itu dengan jelas mengatakan jika ia ingin ke Bank hanya untuk melakukan itu semua.
"Ngapain jauh-jauh ke sana, dikamar Mama juga banyak" jawab Air.
"Mama simpen uang banyak?" tanya Hujan tak percaya yang di jawab anggukan kepala oleh sang suami.
"Kalau aku mau lihat mama mau kasih gak?"
"Kasih dong, buat cucunya pasti apapun dikasih. Jangankan di liat, di pegang di cium kamu kalo minta semua uangnya juga pasti langsung di kasih Jan Hujan deres!" kekeh Air lagi, ia begitu gemas saat melihat kedua mata Hujan yang berbinar takjub.
"Yuk, kita pulang"
Setelah selesai melakukan ritual wajib bulanan mereka yaitu memberikn santunan dan rejeki pada yang lebih membutuhkan Air dan Hujan langsung memilih Langsung pulang karna di otak Hujan hanya ada
...Duit.. duit.. duit.....
Wajahnya yang tak lepas dari senyum seakan membuatnya jauh lebih cantik secara alami.
Air segera memarkirkan mobilnya saat sampai di lobby apartemen.
Derap langkah keduanya sungguh tergesa menunju sebuah lift khusus Rahardian
"Kata mama dulu waktu hamil kelian, mama tuh bisa naik turun lift sampai enam belas kali"
"Iya, makanya lift yang di rumah utama ada sejarahnya" jawab Air sambil mengelus perut besar sang istri.
__ADS_1
Hujan bergelayut manja di lengan suaminya saat pintu kotak besu itu terbuka.
"Mah... Mama kakak pulang" teriaknya seperti biasa.
"Gada orang, Ay" seru Hujan saat melihat dapur dan ruang tengah tak ada siapapun.
"Di kamar mungkin, kalo mama gak bilang mau pergi bearti ada dirumah" sahutnya sembari menuntun Hujan menaiki tangga dengan pelan-pelan.
Sampai keduanya berada di depan pintu, Air langsung mengetuk kamar kedua orang tuanya.
Tok.. tok... tok..
"Mah.. mama didalem gak?"
"Iya, Kak, tunggu" sahut Melisa dari dalam kamar yang dua menit kemudian langsung membukanya.
Cek lek..
"Udah, Mah, Hujan mau sesuatu bisa tolongin gak?" pinta si sulung yang membuat wanita cantik itu menautkan kedua alisnya.
"Hujan kenapa?, kamu mau apa sayang"
Hujan menoleh kearah suaminya, ia takut sang ibu mertua marah dengan keinginan konyolnya itu.
Tapi Air malah tertawa kecil sambil mengelus lagi perut sang istri.
"Cucu mama pengen liat uang banyak, mama kan biasanya suka simpen uang banyak dirumah" jelas Air pada Melisa yang akhirnya terkekeh.
"Oh, ada. Sini masuk" ajaknya Kemudian. Air dan Hujan tentu langsung mengekor di belakangnya sampai langka keduanya terhenti saat Melisa berjongkok dan membuka pintu nakas samping lemari pendingin dikamarnya.
__ADS_1
"Gak banyak tapi, Jan. Papa suka ngomel kalo mama simpen uang dirumah" kata Melisa sambil mengeluarkan wadah penyimpanan Uangnya yang rapih.
Air menggelengkan kepalanya dengan tangan ia lipat di depan dada, karna ternyata kelakuan mamanya tak pernah berubah sampai hampir memiliki cucu.
"Segini cukup?" tanya Melisa sambil menyodorkan wadah tersebut kehadapan menantunya.
"Kalau kurang nanti suruh kakak tarik tunai di Bank buat nambahin" sambungnya lagi.
"Enggak, ini juga banyak kok, Mah" Jawab Hujan sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
πππππππππ
__ADS_1
Coba cek isi tempat sampah kalian apa aja π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan.