
πππππππ
Reza dan Melisa yang masuk lagi ke kamar usai sarapan kini duduk saling berhadapan di atas ranjang mereka, Pria tampan itu memegang kedua tangan Khumairahnya yang lebih hangat dari biasanya.
"Sakit banget ya, Ra?" tanya Reza lembut, hatinya mencelos saat melihat pemilik hati dan raganya itu terpejam merasakan sakit.
"Gak begitu, kok. Gak apa-apa" jawabnya pelan.
"Jangan pernah bilang gak apa-apa, kalau sakit bilang sakit, Ra"
"Aku udah minum obat, nanti juga sembuh. Kamu jangan khawatir, Mas"
Melisa yang sedari semalam memang tak enak badan tetap memaksakan diri membuat sarapan meski hanya roti bakar yang ia suguhkan untuk suami, anak dan menantunya.
Reza yakin kini tekanan darah istrinya sedang naik, tapi begitu sulit untuk di rayu pergi ke rumah sakit.
"Aku mau istirahat, lihat Sam mungkin Hujan kerepotan. Mas"
"Untuk saat ini menjagamu jauh lebih penting, Sayang"
Ya, di. otak Reza tentu hanya memikirkan isterinya saja, ia yang ikut sakit saat belahannya sakit tentu tak akan mau beranjak sedikit pun dari sisi Khumairahnya.
"Aku akan memaksaku untuk ke rumah sakit, kali ini tak ada penolakkan, Ra. Aku ke kamar Hujan dulu" ucapnya yang lalu meringsek turun dari ranjang.
Tok... tok... tok...
"Jan.. Hujan" panggil Reza sedikit keras sambil mengetuk pintu bercat putih itu.
"Iya, Pah" sahut Hujan sedikit berteriak.
Cek lek
Hujan menautkan kedua alisnya saat melihat gurat cemas di wajah tampan papa mertuanya.
"Ada apa?" tanya Hujan, ia menghalau tangan Sam yang ingin berpindah gendongan ke Appanya.
"Papa mau bawa ke rumah sakit, kamu sendiri gak apa-apa?" Reza balik bertanya, ia juga memikirkan cucu dan menantunya yang akan hanya berdua saat ia pergi nanti. Mengingat Khayangan sedang berada di rumah utama dan Cahaya sedang menemani Langit ke luar kota.
__ADS_1
"Gak apa-apa, nanti aku ke kantor kakak aja deh" ucapnya yang serba salah, ia akan jenuh menjaga Sam sendirian.
"Ya sudah, tetap hati hati ya. Nanti papa akan siapkan supir untukmu kesana"
Hujan hanya mengangguk, ia kemudian ikut mengekor di belakang Reza untuk melihat keadaan mama mertuanya.
Amma apa?
"Amma sakit, Appa mau ke ibu dokter dulu ya"
Ntut Appa.
"Nanti ya, kalau sekarang Dede sama Mimoy dulu" jelas Hujan pada putranya.
Nda.
Melisa yang masih bisa mendengar perbincangan Sam dan Hujan hanya tertawa kecil, sedang Reza tak berani mendekat sekali saja tangannya menempel pada Buntut gajahnya sudah bisa di Pastikan ia tak akan mau lepas lagi.
.
.
.
"Kita ke kantor papAy yuk" ajak Hujan yang mulai merasa bosan.
Yuk.
"Ngapai ke sana?"
Ecim belli
"Ish, es kirim terus nih maunya" protes Hujan sambil menciumi pipi bulat Samudera.
Ia lalu membuka baju anaknya untuk diganti ke pakaian yang lebih rapih, tubuh putih montok yang hanya memakai pampers itu pun sangat menggoda Hujan untuk itu di ciumi perutnya
Apun Moy.
__ADS_1
Giyi...
Samudera yang tertawa menahan geli tentu semakin membuat Hujan gemas, belum lagi wangi khas bayi yang seolah menjadi candu.
"Dede diem sini ya, Moy mau telepon papAy dulu"
Iyaah..
Hujan berjalan ke arah nakas samping tempat tidur untuk meraih ponsel nya, meninggalkan sang buah hati yang belum di pakaikan baju karna akan lebih dulu menghubungi suaminya.
Lama Hujan menelepon Air sampai ia tak sadar apa yang sedang di lakukan Samudera sampai anak itu tak mengeluarkan suara sama sekali.
"Ya ampun! dede lagi apa?" teriak Hujan.
.
.
.
.
.
.
.
Epes Moy
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Kelakuanmu de'
Jadi pengen ngelonin Appanya πππ
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.