
πππππππππ
Braaaaakkkk...
Air membuka pintu dengan sedikit keras, ia yang lupa jika sang istri meminta makan tentu sangat bersalah dan langsung kembali ke kamar setelah mengumpat kesal pada Bumi.
"Yang, Lama ya" ucapnya lebih dulu merayu sambil mencium pipi Hujan sekilas.
"Macet dimana sampe lebih dari tiga puluh menit?" tanya Hujan dengan nada kesal.
"Macet di meja makan, tadi Bumi malah ngajak Ghibah" jawab Air jujur seperti biasa.
Air yang tadi meletakkan nampan berisi makanan kini mulai meraihnya lagi, mengaduk sayur dan lauk yang mamanya masak khusus untuk Hujan.
"Teksturnya semua lembut, biar kamu gak cape nguyah kata mamah, apalagi harus gigit gigit" ujar Air sambil menyodorkan sendok kedalam mulut Hujan.
"Hal seperti ini saja harus mamah pikirkan" gumamnya merasa terharu.
Air yang dengan telaten dan sabar menyuapi akhirnya harus menyerah saat Hujan bener-bener tak ingin lagi membuka mulutnya untuk menghabiskan makanannya.
"Udah gak ada rasa, kalah sama sakit" keluh nya sambil meringis mengusap perut besarnya.
"Sabar ya, Kita tiduran yuk nanti aku usapin punggungnya"
Hujan yang mengangguk menyetujui tawaran Air untuk berbaring Langsung berpegangan tangan pada suaminya yang sudah lebih dulu bangun untuk membantunya.
"Hati-hati, Jan"
Air memapah pelan tubuh sang istri menuju ranjang tempat tidur mereka, membaringkan tubuh si ibu hamil ke tengah kasur.
__ADS_1
"Sakit banget ya?, kerumah sakit aja yuk" rayu Air lagi berharap Hujan kali ini mau menurut padanya.
"Disana juga sama aja, 'kan?, aku lebih nyaman dirumah" jawab Hujan yang masih menegangi tangan suaminya.
"Aku gak mau ambil resiko, Sayang"
Hujan tersenyum simpul lalu membaringkan badannya ke samping lalu menutup matanya sejenak saat rasa nyeri itu mulai datang lagi.
"Ayo, kayanya mau usapin punggung aku?" titahnya sambil terkekeh meski sedikit dipaksakan.
"Oh, Iya. Aku lupa!"
Air langsung menyentuh bagian punggung dan pinggang Hujan lalu mengusapnya dengan sentuhan lembut dengan sesekali di pijitnya juga secara pelan seraya membacakan doa untuk kelancaran persalinan istrinya nanti.
Bukan Air namanya jika ia tak menangis melihat rapuhnya sang istri, meski tangisnya kini ia tunjukan pada dirinya sendiri karna tak ingin menambah beban Hujan yang masih meringis kesakitan.
Tok.. tok.. tok..
Air menoleh kearah pintu saat ia mendengar suara papanya di luar kamar.
"Iya, Pah. Masuk" sahut si sulung yang memang tak pernah mengunci pintu jika bukan malam hari atau jika sedang main basah-basahan bersama Hujan pada waktu siang.
Cek lek.
Tak hanya Reza yang datang, tapi ada Melisa juga yang memang selalu ada di sampingnya.
"Masih sakit?, mungkin udah nambah pembukaannya" ujar sang mama yang sudah duduk di sisi ranjang.
"Iya, mah. Tadi sih emang baru pembukaan dua tapi kata dokter lama lama bisa nambah dan lebih sakit" Jawab Air yang memang selalu seksama mendengarkan ucapan sang dokter jika sedang datang memeriksa kandungan Hujan.
__ADS_1
"Iya, memang begitu dan harus Sabar sampai pembukaan sepuluh" balas Melisa memberi pengertian.
"Tuh, Jan. Kita kerumah sakit buat cek lagi ya, Gak apa apa deh kalo mau pulang lagi"
Hujan menghela nafas untuk pasrah dan mengiyakan karna sakitnya memang kini jauh lebih sering dan semakin sakit bagai terpotong antara punggung dan pinggang.
"Ya udah, kakak suruh supir siapin mobil dulu ya"
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa buat tutup semua jalan menuju rumah sakit, kak . Biar cepet sampe!
ππππππππππ
Baby BEAR π»π»π»π»..
__ADS_1
Ampun dah belom juga lahir udah privat semua π€£
Like komennya yuk ramaikan ππ