
ππππππππ
Cek lek
Hujan membuka pintu kamarnya dengan cukup keras, di lihatnya sang suami masih mendengkur di atas tempat tidur dengan bantal dan selimut berserak di lantai kecuali pisang kesayangannya yang tetap ada dalam pelukannya.
Ia begitu kesal sampai tak ada niat sedikitpun untuk membangunkan Air meski ini sudah waktunya ia bersiap untuk kantor.
Dengan perasaan yang teramat jengkel ia hanya mengurus Samudera, memandikan bocah montok itu lalu menyusui nya hingga kenyang.
"Dede diem sini ya, MiMoy mau beresin susu dulu" pesan Hujan pada Baby Bear yang ia duduk kan di karpet bulu depan TV.
Iyyaah
Bocah tampan yang seakan mengerti dengan perasaan ibunya yang sedang tak baik-baik saja itupun hanya diam bermain sendiri tanpa merangkak atau berjalan ke mana-mana bahkan Samudera tak bersuara sama sekali membuat Hujan harus berkali-kali menoleh kearahnya untuk memastikan sang anak aman.
"Tunggu sebentar lagi ya, habis ini kita pergi" ucap Hujan sambil memasukkan beberapa botol susu ke dalam tas.
Iyyaaah.
Selesai merapihkan semua keperluan Samudera, Ia pun langsung menggendongnya sambil menarik koper kecil yang sudah di siapkan sedari kemarin.
Hujan menuruni anak tangga dengan sangat berhati-hati.
"Mah, Pah, Aku minta di anter supir ke rumah bunda, boleh?" pinta Hujan pada kedua mertuanya yang sedang duduk berdampingan di meja makan.
__ADS_1
Pasangan suami istri yang masih begitu lengket itu pun diam saling pandang sebelum akhirnya mengiyakan permintaan menantunya.
"Katanya mau bareng sama kakak sekalian berangkat ke kantor?" tanya Melisa memastikan apa yang tadi di ucapkan Hujan.
"Iya, rencananya tadi gitu, tapi kakak masih tidur, Mah" jawab Hujan jujur meski ada alasan lain yang masih ia sembunyikan.
"Ya sudah, papa telepon supir dulu buat siapin mobil"
Hujan hanya mengangguk, selama menunggu ia hanya bisa tersenyum melihat Samudera di ciumi oleh Reza dan Melisa karna jarang sekali mereka ditinggal oleh cucu kesayangannya itu.
"Jangan nakal ya, gak boleh nangis disana. Harus jadi anak baik." pesan Melisa sambil mendekap tubuh montok Baby Bear.
"Nanti telepon Appa ya kalau kangen" timpal Reza seakan tak rela melepas kepergian buntut gajahnya.
Iyyaaah.
Puas memeluk dan mencium Samudera, kini Reza dan Melisa mengantar Hujan sampai ke depan pintu. Banyak pesan yang diberikan oleh mama mertuanya itu yang hanya di jawab anggukan kepala, " Iya, Mah"
"Maaf, aku gak pamit. Tapi setidaknya kamu sudah tahu kemana aku pergi"
.
.
.
__ADS_1
Air yang baru bangun lebih dua jam dari biasanya itu pun ter lonjak kaget saat melihat jam yang yang menggantung di dinding kamarnya, belum lagi saat matahari sudah begitu terik menembus gorden yang belum di buka oleh sang istri
"Jan.. Jan Hujan deres!" panggilnya yang kini sudah duduk di atas tempat tidur sambil mengumpulkan kesadaran.
Tak ada sahutan dari sang istri membuat ia langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi berharap ibu dari anaknya itu ada disana. Namun, nyatanya harapan itu sia-sia saat tak ada siapapun di dalam.
"Kemana sih? katanya mau pergi!" gumamnya, namun ia ia langsung mengernyit dahinya saat sadar sesuatu.
.
.
.
.
.
.
.
Loh, kopernya mana?
πππππππππππππ
Gak ada, udah di gerek bini lo yang lagi kesel dengerin lo ngorok kak π€£π€£π€£π€£π€£
__ADS_1
Jangan nangis, Ok!
Like komenan yuk ramaikan.