
ππππππππ
"Masih berani makan siang sama si dokter sialan itu?" tanya Air dengan sorot mata tajam.
Hujan yang berada di bawah kungkungannya langsung membulatkan kedua mata sambil otaknya berpikir tentang apa yang dikatakan suaminya barusan.
"Itukan minggu lalu, kenapa di bahas sekarang?" protes Hujan yang baru ingat jika ia memang pernah makan siang di kantin rumah sakit dengan salah satu dokter disana.
"Kakak tunggu kamu cerita tapi nyatanya udah seminggu kamu gak cerita apa apa sama kakak!" sahut Air tak mau kalah, rasa sabarnya berakhir hari ini ketika pemilik hatinya itu mulai mempertaruhkan rasa percayanya.
"Aku lupa, lagian itu cuma makan siang di kantin dan banyak orang, kak. Aku gak sengaja lakuin itu" belanya pada diri sendiri yang masih di bawah kungkungan sang suami.
"Apapun itu, jangan pernah satu meja dengan laki laki lain, PAHAM?!"
Air melanjutkan lagi aksinya, ia kembali melahap dan me re mas sesuka hatinya tak perduli sang istri merintih kesakitan karna ulahnya yang menghisap dengan kuat. Jari telunjuk dan ibu jarinya pun terus memilin puncak gunungnya dengan kasar hingga merah, tubuh Hujan pun langsung banjir keringat, ia terus meremat kain sepre di sisi kanan dan kirinya. Wanita yang sudah memberi dua anak pada Air itu pun hanya bisa pasrah sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak yang seperti mau meledak. Belum lagi saat sang Suami membuka celana jeansnya yang kini tinggal tersisa kain tipis yang menutupi kebun kecil yang sudah sangat basah.
"Keluarin! jangan di tahan!"
__ADS_1
Hujan menggelengkan kepalanya, ia Mencengkram bahu sandaran hatinya itu saat Air memasukan dua jari kedalam kebunnya.
"Ay... Please Ay!"
Air tahu kelemahan wanitanya itu, ia akan mengantar Hujan ke puncak pelepasannya sendiri.
EranG an dan LeNg uhan Hujan terus menggema ke seisi kamar, tak peduli dengan jadwal yang sudah menunggu di kampus atau pun di kantor.
"Ayo lagi, aku suka kalo kamu lagi puas begini" bisik Air.
"Aku capek, Kak. Udah ya" jawabnya dengan napas tersengal dan mata terpejam karna masih menikmati sisa sisa pelepasan yang kesekian kali.
Dinginnya AC tak lagi terasa bagi keduanya yang banjir keringat di atas ranjang yang sudah sangat berantakan.
Air memeluk tubuh Hujan yang polos tanpa apapun namun begitu banyak jejak merah disana. Ia usap buliran keringatnya di kening dan di leher dengan tangannya yang bagai kebas karna sibuk memberi kenikmatan.
"Aku mencintaimu, jangan buat aku tersiksa dengan menahan rasa cemburu, Jan" satu buliran air mata akhirnya tak bisa lagi di tahanan oleh Air yang semakin mendekap istrinya.
__ADS_1
"Maaf, aku minta maaf, Kak. Aku sering mengabaikan perasaanmu" Hujan yang sudah sangat lelah kini malah tambah terharu dan bersalah. Satu kebodohannya adalah menganggap semua hal sepele dan bisa di bicarakan nanti. Ia seakan lupa jika Air type pria yang ingin terbuka dengan segala macam hal yang mereka lalui sepanjang hari saat berpisah jarak.
"Aku paling takut kehilanganmu, aku takut suatu hari nanti kamu tak bisa menundukkan pandanganmu pada pria lain. Lihat aku, Jan. Cukup aku"
.
.
.
.
.
.
Kita sudah bersama cukup lama, ku mohon jangan mudah tergoda dengan yang baru!
__ADS_1