Air Hujan

Air Hujan
bab 231


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Abang disuruh Papa kasih ini buat Hujan" jawabnya santai sambil meletakan tas keranjang biru ke atas meja makan di hadapan adik dan Bunanya.


"Abang dari pasar?" tanya Melisa.


Pria tampan itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk wanita yang sudah membesarkannya lebih dari dua puluh tahun itu.


"Kok pake keranjang?" Air bertanya sambil mengernyitkan dahinya.


"Gak tahu, Papa"


Air mengeluarkan semua gepokan uang tersebut dari d koordinasialam tas keranjang yang biasanya di pakai ibu-ibu belanja di pasar.


"Ngapain di bongkar sih, kak?!"


"Ya kali ada bonusnya, haha" gelak tawanya malah membuat Langit dan Melisa mencebikkan bibirnya.


"Udah dikasih masih ngarep bonus!" sindir sang mama.


Air yang kembali membereskan uang tersebut dengan cara memasukkannya lagi langsung membawanya ke kamar untuk di berikan pada Hujan si Miss MONEY dadakan.


.


.


.


Cek lek


"Jan Hujan Deres!" panggil Air setelah ia membuka pintu kamarnya di lantai atas.


"Sayang, kamu di dalem?" tanya Air lagi di depan pintu kamar mandi.


"Iya, kak. Aku lagi pipis" sahut Hujan yang sehari bisa bolak balik berkali-kali ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil.


Air menghempas kan bokongnya di sofa depan TV, mengambil toples yang berisi berbagai macam permen dan rasa.


Satu menit dua menit tiga menit, Air menoleh lagi ke pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.

__ADS_1


"Jan.. Kok lama?" teriak Air yang dibuat sedikit khawatir.


"Sayang, Jan" dengan rasa penasaran Air pun bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu yang tertutup rapat dimana ada pemilik hatinya didalam.


Cek lek


"Sayang"


Air tak lagi mengetuk pintu, tapi ia langsung membukan nya karna khawatir dan panik.


"Kamu ngapain?" tanya Air saat melihat istrinya malah tengah berendam di bathtub.


"Gerah, Ay" ujarnya sambil terkekeh.


"Bikin panik aja, nyahut dong kalo aku panggil, Jan" oceh Air yang kesal.


"Maaf.. sini mandi berdua" ajak si ibu hamil menggoda.


Air menggeelengkan Kepalanya.


"Tumben, kenapa?"


.


.


.


Hujan yang sudah menyelesaikan ritual mandinya langsung mengenakan dress piyama berkancing hingga bawah, perutnya yang sudah besar otomatis menjadikan bajunya sedikit terangkat di bagian depannya dan itu membuat Air hanya bisa membuang nafas kasar.


"Ditengok kasian, gak di tengok lebih kasian" gumam Air saat Hujan berjalan pelan kearahnya yang sudah kembali duduk di sofa.


"Apa sih, liatinnya gitu banget?" tanya si ibu hamil yang kini sudah memeluk sang suami dari samping.


"Gak apa-apa, sayang kamu banyak banyak"


Hujan tersenyum simpul, begitu banyak yang ia lalui bersama pria yang kini sedang ia dekap dalam pelukannya.


Tak selalu bahagia memang, tetap ada tangis dan kecewa yang menyelimuti rumah tangga mereka termasuk adanya wanita lain yang sering datang silih berganti menggoda keteguhan Cinta suaminya, rasa takut terus menghantui perasaannya yang terkadang selalu berfikir tak pernah pantas mendampingi sosok Putra sulung Rahardian.

__ADS_1


"Kok ngelamun?, mikirin apa? Papa kasih kamu uang sampe satu tas jinjing tuh," ujar Air yang baru ingat hal itu.


"Iya, kah. Mana?" tanya Hujan yang langsung mengedarkan pandangannya.


"Tuh dekat lemari di tas warna biru, nanti aku ambilin deh kamu diem sini ya,, Jan Hujan deres" pinta Air yang tak ingin istrinya banyak bergerak.


Air bangun dari duduknya berjalan ke lemari yang disisinya ada keranjang berwarna biru berisikan uang pemeberian Papanya yang di bawa oleh Langit.


"Banyak banget, Kak" seru Hujan yang tak percaya saat Air mengeluarkan isinya segepok demi segepok.


"Iya biar kamu puas liatnya" jawab Air sambil mengejek.


.


.


.


.


.


.


.


Tapi sekarang aku pengen liat uang logam koin seribu yang ada gambar pohon kelapanya, Ay!!



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Udah ah halu nya πŸ™ˆπŸ™ˆ


Bisa gila mikirin duit mulu 🀣🀣🀣🀣


Ini novel receh ya.. mohon maaf jika kurang berkenan dengan kehaluan ithornya yang gabut banget


Like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2