Air Hujan

Air Hujan
bab 21


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Jalan kaki aja, yuk" ajak Hujan saat di depan pintu.


"Ogah!" sahutnya cepat.


"Kenapa?, bagus loh, Ay" seru Hujan sambil mendongakkan wajahnya ke langit yang nampak ratusan bintang bertebaran.


"Tar Lo capek, minta gendong!"


"Dih, takut banget sih" dengus Hujan kesal.


Air buru buru merangkul bahu gadis halalnya itu menuju garasi.


Ada dua buah motor terparkir disana.


"Mau yang gede apa yang kecil?" tanya Air pada Hujan.


"Yang kecil aja deh" jawabnya sambil tersenyum.


Air langsung mengambil helm lalu memakaikannya di kepala sang istri begitupun dengan dirinya.


"Pegangan, ntar Lo terbang gue gak tau" kekeh Air, yang masih saja menggoda istrinya.


Hujan memegang ujung jaket Air namun pemuda itu justru menarik tangan Sang istri agar bisa memeluknya pinggangnya.


Ia tersenyum kecil di balik helm.


Dengan kecepatan pelan, motor berjalan begitu lamban menyusuri jalan yang begitu sepi.


Hanya ada mereka berdua karna ini memang pulau pribadi tanpa ada penduduk lain selain para karyawan keluarga RAHARDIAN yang mengurus resort dan lainnya.


"Jangan minta jajan ya, disini gak ada Abang Abang" ucap Air sambil terkekeh.


"Adanya apa dong?"


"Adanya gue sama Lo dan jadi KITA" sahutnya pada sang istri.


Hujan mencubit kecil perut Air namun rasa sakitnya luar biasa sampai membuat Air meringis sakit.


"Lo galak sama gue, gue tinggalin gak bisa pulang nanti" ancam Air sambil mengusap perutnya.


Hujan tak melawan, karna iapun sedikit takut jika ancaman Air benar benar pemuda itu lakukan.

__ADS_1


"Pulang deh" ajaknya kemudian karna rasa dingin yang ia rasa begitu menusuk kedalam tulang.


Air yang menurut akhirnya memutar motornya untuk kembali kerumah. Bangunan mewah tiga lantai dengan fasilitas bagai hotel bintang lima.


.


.


Sampai disana keduanya turun dan masuk kedalam kamar, Air hanya mengganti baju lalu keluar entah kemana.


Hujan yang sudah mengantuk akhirnya bingung karna sang suami belum juga kembali.


"Kemana ya?" gumamnya sambil berjalan mencari keberadaan Air.


Ia terus melangkah menyusuri setiap ruangan rumah megah yang sudah nampak sepi karna waktu sudah lebih dari jam sepuluh malam.


"Jangan bilang kalo pulang! tapi pisangnya ada" bathin Hujan saat keluar dari dapur bersih.


Kini langkahnya menuju kolam renang, dan hasilnya sama, tak ada sosok jahil Suaminya disana.


Hujan yang kesal duduk termenung di ujung tangga, dengan dagu bertumpu di telapak tangannya yang mungil.


Rasa takut kini ia rasakan, Air bisa melakukan apapun termasuk meninggalkannya kapanpun itu.


DEG.


Jantungnya berhenti saat bahunya dipegang seseorang yang ia belum tahu siapa, ia belum berani menoleh sebelum di sapa lebih dulu.


"Lo ngapain?, kenapa gak tidur?" Tanya Air tiba-tiba yang langsung membuat Hujan bernafas lega.


"Ya ampun, Ay.. gue kira Lo ilang!" ucap Hujan dengan memegang dadanya.


Air yang tadinya mengernyit dahi sesaat kemudian langsung tertawa.


"Lah, kan emang dari kemaren kemaren gue tuh ilang, Lo baru sadar?" tanya Air di sela gelak tawanya.


"Ilang kemana?" tanya Hujan, saking bingungnya ia sampai membalikkan tubuhnya agar bisa duduk berhadapan.


"Ilang ke dasar hati Lo" bisik Air tepat di telinga kanan Hujan sampai gadis itu merinding geli.


"Kardus Aqua banget sih, Lo!" dengus Hujan kesal.


Air hanya tersenyum lalu menarik tangan mungil itu untuk bangun.

__ADS_1


"Yuk," ajaknya kemudian


"Kemana?" tanya gadis itu yang ikut berjalan di belakang sang suami.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Melepas keperjakaan gue!


β™₯️β™₯️β™₯️β™₯️β™₯️β™₯️β™₯️β™₯️β™₯️


Asik..asik jos πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ


Periksa kamarnya ya kak tar banyak yang ngintip πŸ˜‚


Like komen nya yuk ramai kan

__ADS_1


__ADS_2