
ππππππππ
Sadis banget lo ya.. udah ngerusak lahan maen gue!!!
Air mengatakannya penuh dengan emosi mengingat sudah hampir seminggu ini ia sama sekali tak menyentuh Hujan karna gadis halalnya itu sedang berhalangan.
Dan dengan kejadian ini sudah bisa di bayangkan jika ia akan mengalami puasa panjang tanpa tahu batas pastinya.
"Lo bisa bayanginnya gak sih perihnya kaya apa?" tanya Air serius.
"Gak bakal tau deh kayanya kalo belom nyobain sendiri, iya kan?" tambahnya lagi dengan menaik turunkan alisnya.
Air memang akan membalaskan rasa sakit istrinya dengan sikap yang sangat tenang, tak membabi buta seperti orang gila.
Si tampan yang hatinya sedang terluka itu berjalan menujukan nakas dekat kursi yang duduki Langit dan Bumi.
"Kalian gak mau bantuin kakak?" tanya Air pada Abang juga Adik kembarnya.
"Enggak!!" jawab mereka berbarengan.
"Jahara sekali anda berdua, membiarkan saya bekerja sendiri" ketus Air dengan tangan ia letakkan di pinggang, perkataannya itu tentu membuat Langit tertawa.
"Udah lanjut sana, Abang ngantuk. kalo udah kelar bangunin ya"
"Eh, enak aja!" protes si sulung sambil menarik tangan Langit.
Langit yang tak dibiarkan tidur kembali duduk disisi Bumi, ia senderkan kepalanya di bahu adik keduanya itu.
"Kak, semalem kita mimpi apa sih. Kok tiba-tiba ada disini terus nonton si kakak lagi main-mainan gitu" bisik Langit.
"Gak tau, Aku kira bakal berantem. Taunya cuma di ceramahin. Bikin ngantuk. Abang bawa permen gak? " tanya Bumi yang sudah menguap berkali-kali.
"Ada Nih" Jawab Langit, ia merogoh kantong celananya.
PLETAK..
"Aku permennya, Abang gagangnya ya" kekeh Bumi saat menyodorkan stik permen pada Langit, sedangkan ia ia sudah lebih dulu meng **** permen pemberian abangnya.
"Haha, untung kamu kakaknya adek ya" Sahut Langit menahan kesal.
.
__ADS_1
.
.
Air yang sudah mencolokkan kabel Clipper hair kini bersiap melayangkan aksinya, target pertama tentu kepada Melan.
"Bang, mau di apain nih rambut jalan tol nya?" tanya Air meminta pendapat pada Langit.
"Ronaldo" jawab Langit asal dengan mata setengah terpejam.
Air mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Melan terus meronta, ia menghindar saat alat cukur berwarna putih itu sudah diarahkan padanya.
"Lo bisa diem gak?, ini tuh alat luar biasa banget. Kalo lo gak mau diem bukan cuma kepala lo yang botak tapi semua bulu di badan lo bisa rontok gak bersisa" sentak Air.
Air mulai menggerakan alat tersebut sambil cekikikan, ia begitu menikmati perannya sebagai tukang cukur dadakan tengah malam.
Melan menunduk dengan berderaian air mata. ia yang lelah meronta kini pasrah saat rambut bule lurusnya berserakan di lantai.
"Selesai...." seru si sulung sambil bertepuk tangan. Ia puas saat melihat kepala Melan yang botak, Ia hanya menyisakan sedikit rambut di atas kening gadis jahat itu.
"Bang, Ronaldo nih" Pekik Air sambil tertawa.
.
.
"Lo mau gue model jalan kitu, diem ya. Jangan banyak bergerak, Ok. nanti hasilnya gak bagus" Air terkekeh dengan imajinasinya sendiri.
Kini dengan lihai nya alat cukur itu kembali memporak-porandakan rambut sebahu milik Sarah. Air membuat kepala Gadis sakit jiwa itu hanya memiliki sedikit sedikt rambut yang tersisa. Ia tak mencukur habis semuanya ia sengaja membuat kepala gadis itu nanti terlihat aneh. dengan Ceplokan Ceplokan bulu di kepala nya.
"Nah kan, kalo mau sakit jangan jiwanya doang, tapi orangnya juga sekalian" Air kembali tertawa.
Sekarang ia menggeser langkahnya kearah Vika, satu-satunya wanita yang paling ia benci di muka bumi ini.
"Lo gue botakin semua aja ya, males gue deket-deket sama lo, Hawanya gue pengen liat lo di telen sama anaconda di sungai Amazone"
"Waaaaawww!!! "
Vika langsung tersentak kaget saat Air tangan air mendekat kearah wajahnya.
__ADS_1
Tak sampai lima menit kini kepala Vika sudah botak bagai bola, tak ada sehelai pun yang tersisa lagi.
Setelah semua gadis di dekatnya kini tak lagi berambut, ia kembali ke dekat nakas untuk mengambil satu bungkusan.
sambil tertawa senang ia mengoleskan cream berwarna putih ke kepala tiga gadis itu.
"Kalian bakal Seumur Hidup kaya gini, gakan punya rambut lagi" ucap Air dengan sangat puas, apalagi saat mereka menjerit histeris di balik lakban yang menutup mulutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekarang giliran kita main masak-masakan, Ok!!!
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Cih.. abis jadi tukang cukur sekarang beralih jadi koki. ππππ
Lo mau bikin apa sih, Ay???
Like komennya yuk..
__ADS_1
Hari ini up banyak banyak.. tapi kalian harus janji like semua babnya ya.
Awas bae lamun khilaf loncat teu di like π€¬π€¬