
ππππππ
Hujan yang di tinggalkan begitu saja hanya bisa merutukdirinya sendiri di dalam kamar, pembelaan suamianya membuat ia benar-benar merasa bersala
Kapan gue selingkuh..
Kapan gue selingkuh..
Kapan gue selingkuh...
Kalimat itu terus bedengung di telinganya, belum lagi kilatan amarah di mata Air yang sepertinya begitu kecewa.
"Maafin aku, Ay. Aku bukan mau tuduh kamu gak setia" lirihnya lagi sambil menghapus air matanya.
Sudah hampir jam empat sore tapi nyatanya Air belum juga pulang, dan kali ini ia tak ingin mencurigai apapun itu.
Hujan yang langsung pulang setelah kuliah siangnya hanya bisa menunggu di dalam kamar.
"Kamu yang dulu suka cari perhatian, dan bilang ada dimana dan kemana tapi justru akunya selalu cuek dan beranggapan biasa. tapi sekarang kamu gak ada kabar begini akunya jadi kebingungan, Ay. Aku harus apa?"
Hujan terus mengusap layar ponsel miliknya, berharap Air sekali saja mengirim pesan meski itu hanya satu tanda titik.
Setidaknya Hujan tahu jika sang suami masih mengingatnya saat di luar sana.
Rasa jenuh, panik dan khawatir ia alihkan pada tugas kuliahnya yang lain sambil menunggu kedatangan orang yang paling berarti dalam hidupnya.
CEK LEK
Air membuka pintu kamar dengan sangat pelan, ia tahu jika istrinya sudah pulang.
Pemuda tampan itu menghela nafas dalam-dalam saat melihat Hujan duduk diatas karpet depan TV menghadap Layar laptop beserta beberapa tumpukan buku tebal.
Aku cuma gak mau kamu ikut mikirin masalah ku, Jan.
__ADS_1
Tugas kuliah kamu aja udah bikin kamu kadang suka lupa makan saking banyaknya.
Air kembali menutup pintu dengan pelan, keseriusan Hujan ternyata sampai membuat ia tak sadar jika suaminya kini tengah jalan mendekat kearahnya.
"Maaf" bisik Air sambil memeluk Hujan dari samping, sikapnya yang tiba-tiba tentu membuat gadis halalnya itu tersentak kaget.
"Ay.. Baru pulang?"
Air hanya mengangguk, ia letakan dagunya di atas bahu sang istri yang sudah ia marahi tadi pagi dengan begitu kasarnya.
"Kirain mau pulang ke rumah bunda" ucap Air dengan pelan.
"Ngapain kerumah bunda?" Hujan balik bertanya, dengan sedikit menoleh kearah suaminya.
"Takutnya kamu marah tadi aku abis ngomel, terus pulang kerumah Bunda"
Hujan tertawa, ia balikan tubuhnya lalu menangkup wajah tampan pemuda di hadapannya kini.
"Sayang?" kata Air dengan menautkan alisnya.
"Iya, sayangnya Hujan. Si ganteng yang suka malah malah yang mantan pacalnya tumpah tumpah, tapi alhamdulillah setia kan, Ay" goda Hujan sambil terkekeh.
"Setia lah, gak punya cadangan sekarang mah" jawabnya sambil berhambur memeluk Hujan.
Keduanya saling mendekap, mengesampingkan ego mereka masing-masing bersikap seakan tak terjadi apa-apa meski ada sedikit yang mengganjal dalam hati tapi rasa percaya setidaknya mengalahkan rasa curiga.
Air mengurai pelukannya, ia angkat dagu Hujan agar lebih sejajar dengannya.
Dengan senyum menggoda ia Langsung melu mat habis bibir istrinya dengan begitu lembut, tangan kanan yang tadinya mengusap punggung pun kini beralih ke salah satu bukit kembar, des ah an kecil mulai keluar dari mulut istrinya.
"Maaf ya" ucap Air saat ia melepas pagutannya.
Hujan hanya mengangguk lalu kembali memejamkan mata saat bibirnya kembali di serang.
__ADS_1
Dengan sedikit tergesa ia baringkan tubuh istrinya agar bisa leluasa menikmati setiap inci bagian-bagian yang selalu membuat ia melayag jika menyentuhnya.
PYAAAAARRR...
Satu gelas berisi air putih tak sengaja tersenggol hingga akhirnya tumpah membasahi wajah Hujan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kakaaaaaaaaak!!!!
ββββββββββ
Maennya harus di lapangan bola yang luas π€ͺπ€ͺ
Like komennya yuk ramaikan
__ADS_1