
ππππππππ
"Selamat menjadi ibu lagi ya, Cantik. Kamu wanita paling hebat karna nyatanya Tuhan sangat percaya padamu."bisik Air sambil memeluk istrinya.
Hujan hanya mengangguk pasrah karna entah apa yang harus ia katakan saat ini, hanya ada air mata yang lolos begitu saja di wajah pucatnya.
"Aku bahagia, di dalam rahimmu ada anakku lagi. Terima kasih untuk semua pengorbanan dan rasa sabarmu untuk selalu menjadi yang terbaik untuk kami"
Dokter dan suster yang melihat dan mendengar pun seakan tak bisa menahan haru mereka, jika dua minggu lalu keduanya begitu sangat menggemaskan bagai pasangan yang sedang mengalami 'kecelakaan' tentu berbeda dengan hari ini, pasangan suami istri yang sedang menerima lagi anugerah terindah itu, justru menyikapinya dengan begitu dewasa dan berlapang dada meski ini adalah sebuah kejutan yang tentunya di luar rencana mereka.
"Apa ada yang harus dikhawatirkan, Dok?" tanya Air yang ingin secara detail tahu keadaan calon bayinya.
"Semua bagus dan normal, Nona muda bisa datang dua minggu lagi untuk pemeriksaan secara rutin seperti biasa" jawab Dokter.
"Baiklah, kami permisi. Terima kasih"
Air langsung menggandeng tangan Hujan yang ia tahu jika istrinya kini begitu sangat lemas. Air bahkan merangkulnya dengan kuat saat kepala Hujan bersandar di dadanya.
"Jangan banyak berfikir macam-macam, nikmati prosesnya" ucap Air saat keduanya sudah memasuki kotak besi.
"Aku hanya takut tak bisa membagi waktu dan perhatianku pada kalian, kak" Hujan berkata sambil menghela napas berat. Ia yang biasa sendiri dan sepi mana tau rasanya berbagi, bahkan kasih sayang untuk orangtua pun ia berikan semua pada sosok Bunda sebagai satu-satunya yang selama ini mengurusnya sejak bayi.
"Aku yakin kamu bisa, kamu juga harus tetap menyayangi dan memperhatikan dirimu juga" pesan Air sembari mencium kening Hujan untuk menenangkan hati gadis halalnya itu.
.
.
__ADS_1
Selesai memeriksa kandungan keduanya memutuskan untuk mampir ke rumah utama karna kedua orangtuanya membawa Samudera kesana atas permintaan Oppa yang sedang kurang sehat. Mobil melanju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang ramai lancar.
Tiiiiiin..
Gerbang tinggi yang menjulang sekarang terbuka lebar, terlihatlah kini kediaman mewah bak istana milik keluarga Rahardian yang masih di tempati oleh Tuan Besar Wisnu Rahardian Wijaya.
"Katanya lagi pada kumpul, kok sepi?" gumam Hujan saat tak ada mobil tambahan di garasi kecuali kendaraan milik mertuanya.
"Belum dateng kali. Yuk cepetan aku laper banget" ajaknya sambil membuka seatbelt.
Keduanya pun turun dari mobil menuju pintu samping garasi yang akan langsung terhubung ke ruang tengah, terlihat sepi tak ada siapa pun sampai akhirnya Air dan Hujan memutuskan naik ke lantai atas.
"Eh beneran gada orang" ucapnya lagi.
"Kakak lewat samping, coba lewat pintu utama pasti rame" cetus Hujan yang akhirnya berjalan lebih dulu menuju kamar mereka.
Air yang tak ikut dengan Hujan malah justru memutar langkahnya menuju kamar Reza dan Melisa. Pintu yang sedikit terbuka membuat nya bisa sedikit melongok kedalamnya.
"Mah.. mamanya kakak" panggil nya masih di ambang pintu, ia tak berani masuk jika belum di izinkan.
"Iya, kak" sahut Melisa sedikit berteriak dari dalam.
"Baby Bearnya kakak ada gak?"
"Gak ada!" jawab Melisa yang langsung membuat Air bingung sampai harus mengernyitkan dahinya.
"Kok gak ada, terus adanya apa?" tanya Air penasaran.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Buntut Gajah..
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Aih... pawang gajah kalo ngomong suka gda filter π€£π€£
__ADS_1
Gemoy banget dah ah.. jadi pengen cium Appanya.
Like komennya yuk ramaikan.