Air Hujan

Air Hujan
bab 126


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹


Air terus mengusap pipi Hujan yang sedang tertidur di sofa kamarnya di apartemen, niat hati hanya sekedar mampir untuk mandi ternyata ia di kejutkan dengan melihat sang istri meringkuk tanpa selimut.


Sayangnya Kakak..


Dengan sangat hati-hati dan pelan, Air mengangkat tubuh Hujan untuk ia pindahkan ke kasur agar sang istri bisa tidur dengan nyaman.


"Tunggu ya, kakak mandi dulu" ucapnya kemudian mencium kening gadis halalnya yang sangat terlelap.


Air bergegas ke arah kamar mandi, tubuhnya sudah sangat Lengket dengan debu, keringat dan juga air mata Nisa selama di rumah sakit tadi, ia berdiri dibawah guyuran air showwer yang begitu dingin dari atas kepalanya.


Tubuh polosnya sekarang begitu segar setelah bersih, dengan hanya memakai Bathrobe ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil ia berjalan ke arah lemari.


"Kak.. "


Air menoleh kearah suara, ia tatap sang istri yang kini tengah duduk dengan bantal di atas pangkuannya.


"kok bangun?" tanya Air, ia langsung menghampiri Hujan, wajahnya begitu datar tanpa senyum.


"Darimana?" Hujan langsung bertanya, nada bicaranya begitu dingin.


"Banyak, gak cuma satu tempat" jawab Air santai sambil mengulum senyum, ia begitu gemas dengan ekspresi istrinya itu.


Bukan menjelaskan ia malah naik ke atas kasur, melepas Bathrobenya lalu masuk kedalam selimut, Hujan hanya bisa memperhatikan dengan menautkan kedua alisnya.


"Yuk tidur" Ajak Air setelah ia menguap.


"Eh.. pisang kakak mana?" tanyanya yang baru ingat dengan benda keramatnya itu.


"Gak ada!" jawab Hujan ketus dengan tangan sudah melipat di dada.


"Gak ada kemana? " Air langsung menyibakkan selimutnya berharap si kuning tertimpa oleh bantal yang lainnya.


"Ada di rumah Bunda"


Air langsung menghentikan aksi mengacak-acak tempat tidur saat mendengar Hujan mengatakan jika si pisang tak ada di kamarnya.


"Kok gak dibawa, kalo pulang ke sini harusnya bawa"


"Gak inget! aku cuma mikirin kamu mana perduli sama si pisang" cetus Hujan lagi, kini ia malah memalingkan wajahnya karna tak kuasa melihat suaminya seperti mendadak jadi orang kebingungan.


"Jahat banget sih kamu!" rutuk Air kesal.

__ADS_1


"Kakak yang jahat, udah pergi gak bilang pas pulang malah nanyain pisang! istri kakak aku apa pisang?" tanya Hujan mulai emosi.


"Kamulah" jawabnya cepat namun dengan sorot mata menahan jengkel.


"Ya udah ayo tidur"


Hujan merapihkan lagi bantal dan selimut yang sudah di berantakan, ada beberapa yang berserak di lantai karna ulah sang suami tadi


"Gak mau!"


"Kenapa?, bukannya tadi ngajak tidur?, capek kan pasti abis jalan-jalan ke banyak tempat tanpa kasih kabar istrinya!" sindir Hujan sambi mencibir kearah suaminya.


"Gak gitu, Jan Hujan Dereeeeeeeeees!" geram Air melihat Hujan Seakan-akan mengejeknya.


"Sama aja! Aku lagi kesel gak usah ngerengek! " ancam Hujan dengan tegas.


Air yang sudah berkaca-kaca langsung berhambur memeluk perut sang istri.


"Pisang kakak" lirihnya mulai terisak


"Bodoamat!"


"Kamu jahat, pisang kakak disana sendirian. Kan kasian Jan Hujan Dereeeeeeeeees"


"Awas, kak" usirnya karna merasa geli.


"Gak mau! pisang kakak dulu, Jan" rengeknya di sela isak tangisnya.


"Gak ada! kan tadi aku bilang kalo dirumah bunda" jelas Hujan lagi.


"Huaaaaaaaa... Hujan nakal"


Hujan meringsek ke sisi nakas untuk meraih ponselnya.


"Kamu mau telepon siapa? , suruh Bumi ambil pisang kakak dirumah bunda ya" pintanya dengan sangat memohon.


"Gak mau, tar Bumi marah-marah" jawab Hujan.


"Terus kamu mau telepon siapa itu?" tanya Air yang dibuat penasaran.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hallo pak polici..


Ada yang lagi nangis nih..


malahin aja olangnya.. Bicik banget!!!


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾


Jiah sama gesreknya tuh bini 🀣🀣🀣🀣


Gak sekalian panggil tukang balon


Like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2