Air Hujan

Air Hujan
bab 103


__ADS_3

♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


"Maaf ya" ucap Hujan saat keduanya sudah membaringkan kepala diatas meja saling berhadapan.


Air mengusap wajah istrinya dengan sangat lembut.


"Bahas nanti aja ya, gue ngantuk"


Air benar-benar sudah memejamkan matanya, ia langsung terlelap dalam hitungan detik.


Hujan hanya biasa memandangi wajah tampan pria yang selama setahun lebih ini bersamanya.


"Aku udah takut gak bisa ketemu kamu lagi" gumamnya pelan namun ada setetes air mata membasahi wajahnya yang masih pucat, Hujan tak tidur semalaman. Ia juga hanya makan siang dan makan malam sedikit bahkan sarapan paginya tadi pun tak di sentuhnya sama sekali.


.


.


.


Air bergeliat kecil saat sang istri mengusap pipi putihnya dengan sangat lembut seperti biasa.


"Ay, bangun. Kelasnya mau di pake" bisik Hujan dengan canggung karena sudah ada beberapa mahasiswa yang ada di dalam kelas.


"Ay...."


"Hem, apa?" jawabnya bingung karna kesadarannya belum semua terkumpul.


"Gue mau masuk, ini juga udah banyak mahasiswanya. Yuk keluar" ajak sang istri lagi memaksa sambil merapihkan barang mereka.


Senyum mengejek dan bisik bisik di belakang sudah sangat biasa bagi Air dan Hujan tapi keduanya tak pernah ambil pusing Selagi tak menyentuh bagian tubuh mereka.


Air dan Hujan keluar dari Kelas yang tadi kosong menuju kelas Hujan di lain gedung, Pemuda tampan itu merangkul bahu sang istri tanpa berbicara apa-apa lagi.


"Gue keparkiran ya, nanti kalo pulang kabarin" pesan Air saat di depan kelas Hujan dan setelahnya ia mencium kening sang istri yang nyatanya membuat riuh beberapa teman teman Hujan di dalam.


Satu tahun pernikahan dan selama itu sikap mereka tak pernah berubah, bisa dibayangkan betapa muaknya para mahasiswa melihat drama perbucinan Air Hujan selama ini dan masih akan berlanjut kurang lebih tiga tahun lagi.


Setelah memastikan Hujan masuk, Air menemui adiknya di perpustakaan yang baru saja keluar dari kelas. Bumi menatap tajam kearah sang kakak yang Sedang mendekat kearahnya.


"Bolos terus!"


"Ngantuk banget, dek" kekeh Air yang menyandarkan kepalanya di bahu Bumi.


"Bukan semalem tuh nyenyak banget ya?" sindir kembarannya.


"Hahaha, tapi pas liat Hujan langsung ngantuk"


Bumi mencebikkan bibirnya, ia sudah sangat malas menanggapi ke bucinan Air yang levelnya di atas rata-rata tanpa ia sadari ia pun sering melakukan hal yang sama jika bersama kekasihnya dulu.


.

__ADS_1


.


.


Jam empat sore Hujan menghampiri Air di parkiran, Pemuda tampan itu sudah sejak tadi berada di atas motor menunggu sang istri datang.


"Apa?" tanya Hujan bingung saat Air memberikan paperbag padanya.


"Jaket, nanti kedinginan cuma pake kaos"


"Makasih ya ganteng"


"Ih....lagi dong!" goda Air yang selalu senang jika Hujan memanggilnya dengan sebutan Ganteng.


"Makasih yah genteng!" Hujan mengulanginya tapi kali ini dengan kalimat yang berbeda.


"Nyebelin!" dengusnya kesal.


Pasangan suami istri itu tak langsung pulang ke apartemen, mereka mampir sebentar ke bengkel karna Air ada urusan sebentar disana.


Hujan duduk di teras depan menunggu Air yang sedang berbicara serius dengan dua orang yang entah siapa.


Cukup lama ia menunggu hingga hampir satu jam lamanya, langit yang tadinya terik kini berangsur menguning pertanda senja datang.


"Yuk" Ajak Air tiba-tiba mengangetkan Hujan yang sedikit melamun melihat jalanan yang mulai padat di hadapannya.


"Udah?" tanya gadis cantik itu yang di jawab anggukan dari sang suami dengan bonus senyum kecil juga di sudut bibirnya.


"Disini?" tanya Air saat Hujan menunjuk salah satu kedai pinggir jalan.


"Iya, wanginya sampe sini, Ay" kekehnya tak sabaran.


"Dasarnya aja laper" ledek Air sambil membuka helm di kepala sang istri.


Mereka makan di salah satu meja di luar kedai, Hujan sengaja ingin duduk disana karna ingin melihat hiburan para pengamen jalanan yang sudah bersiap memperkenalkan suara indah mereka.


"Lo nyanyi sana, Jan" ledek Air pada istrinya


"Nyanyi apa?" tanya Hujan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Satu satu Hujan sayang Air...


Dua dua juga saya Air..


Tiga-tiga tetep sayang Air ..


Satu dua tiga sayang Air semua"


Hujan tertawa saat mendengar suaminya bernyanyi sungguh mirip dengan anak-anak di taman kanak-kanak.


Suaranya sangat lucu belum lagi wajah yang di buat sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Emang kata siapa gue sayang Lo?" goda Hujan yang kini menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya.


"Kalo Lo gak sayang, Lo gak akan bertahan. Makasih banyak buat rasa sabar Lo yang luar biasa, Jan Hujan dereeeeeees" jawab Air dengan mata berkaca-kaca.


"Kangen gak?" tanya Hujan dengan nada bergetar ia pun sedang sekuat tenaga menahan tangis karna terharu.


Air masih diam, ia justru menunduk karna air matanya tumpah mengalir di kedua pipinya.


"Kangen gak sama Hujan?" tanya gadis itu lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Naik kuda kerumah temen.


Ya udah iya... aku kangen!!!!



💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Lagi nangis masih sempet pantun 🤔🤔🤔


Cuma kakak Ay yang begitu 🤭🤭🤭


Sayang kakak banyak banyak.


biar bisa cium bapaknya , 😂😂😂


Like komen nya yuk ramai kan ❤️🙏

__ADS_1


udah 4 part loh 😭😭😭


__ADS_2