Air Hujan

Air Hujan
bab 49


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air yang langsung membuka kaosnya membuat Hujan bangun dari tidurnya dan meringsek menjauh tapi keningnya berkerut saat ia melihat suaminya itu justru tidak menghampirinya malah berjalan menuju lemari yang terdapat kaca besar.


"Ya ampun! sampe merah begini Lo cubitin sama Lo pukulin Jan?" seru Air saat melihat punggungnya di depan cermin.


"Mana gue liat" sahut Hujan yang akhirnya turun dari kasur.


"Itung coba ada berapa?" pinta pemuda itu.


"Satu..dua..tiga..empat..lima..enam..tujuh" ujar gadis itu sambil menunjuk satu persatu tanda merah Karna ulahnya itu.


"Ketauan sama mama anak gantengnya abis di aniaya begini bisa di gantung di pohong pisang Lo, mau?"


GLEK...


Hujan menelan Salivanya kuat-kuat, ia terkadang lupa dengan siapa ia berhadapan selama ini, putra sulung yang menjadi kesayangan keluarga besarnya.


"Maaf!" lirihnya sambil menunduk.


"Ambil obat gih" titah suaminya yang di jawab anggukkan kecil.


"Ada di box dalam nakas sisi wastafel" tambah Air lagi.


Kini ia berlalu melangkah menuju sofa di dekat kaca jendela besar, Air menyibak kan gordennya dan kini terlihatlah indahnya ibu kota pada siang hari, gedung pencakar langit yang berjejer, bangunan megah nan kokoh bahkan ribuan kendaraan yang bagai semut kecil saat melihatnya dari atas.


"Sini gue salepin" kata Hujan saat datang membawa kotak obat kecil.


"Kirain gak ketemu"


"Masa iya nyari beginian aja susah sih, Ay" sahut Hujan.


Air duduk memunggungi sang istri saat Hujan sudah mengoleskan salep di bagian tubuhnya yang sebenarnya tak apa-apa, karna Hujan merasa tak enak hati iapun akhirnya ikut masuk dalam drama konyol suaminya itu.


"Udah!" kata Hujan sambil menutup obat salep yang masih di pegang.


"Perih gak?" tanya Hujan dengan senyum kecil

__ADS_1


"Perih banget, Jan Hujan dereeeeeees" seru Air dengan wajah menyedihkan.


"Ugh.. kecian! sini...sini"


Gadis itu merentangkan tangannya siap memeluk bayi buaya cengengnya itu, tentu kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Air.


kini kepalanya sudah ada dalam dekapan sang istri.


"Jantung Lo lagi joged joged ya, Jan?" tanya Air yang sedari tadi menikmati irama degupan salah satu organ di dalam tubuh istrinya itu.


"Iya, lagi goyang dumang" sahutnya asal.


Air hanya tersenyum simpul, pelukan istri galaknya itu entah kenapa selalu membuat ia selalu tenang dan damai.


Wanita yang mampu memberinya rasa aman setelah mamanya.


"Ay.."


"Hem..." sahut pemuda itu tanpa berkata.


"Lo tau kan, kuliah gue makan waktu yang panjang alias gak sebentar?" tanya Hujan.


"Buat ambil gelar S1 aja butuh empat tahun, belum gue jadi KOAS nanti, terus di tambah gue kan mau ambil spesialis. Enam tahun minimal gue baru lulus, gak apa-apa, kan?" tambah gadis itu lagi sambil mengusap kepala suaminya.


"Gak apa-apa, asal Lo belajar yang bener" kata Air yang semakin terbuai dalam dekapan Hujan.


"Gimana gue mau bener, kalo Lo nya gangguin gue mulu" ketus Hujan.


Air tergelak, ia mendongak kan wajahnya sampai tatapan mata keduanya saling bertemu.


"Maaf.. tadi kan emang benaran Lo telat Jan Hujan dereeeeeees" elak Air yang tak terima di salahkan.


"Lain kali jangan gitu ya, tar gue kuliah gak kelar kelar" kekeh Hujan, entah ada dorongan apa sampai ia berani mencium kening sang suami.


Pemuda itu tersipu malu hingga merona kedua pipinya, air semakin menenggelamkan kepalanya lagi diatas bukit kembar sang istri.


"Jadi gak Ay, main mainnya?" goda Hujan.

__ADS_1


"Enggak!"


"Lah.. kenapa?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mak othornya lagi pundung dadakan!!!


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Makanya jangan mancing-mancing emosi gue kak...

__ADS_1


Udah ah males!!!


Like komen nya yuk ramai kan


__ADS_2