
πππππππ
"Gak usah deket-deket" protes Air pada Hujan saat gadis itu mencoba menggoda ketika bangun tidur.
"Aku gak ngapai-ngapain loh, Ay" kekeh Hujan yang semakin senang menjahili suaminya.
"Akunya nanti gak kuat, kamu mau tanggung jawab?" oceh Air lagi antara kesal dan gemas dengan tingkah pemilik hatinya itu.
"Mau.. mau..mau.. hahahahha" Hujan tertawa sambil meringsek mendekat, dengan jahilnya ia malah membuka dua kancing bajunya di hadapan Air.
"Astaghfirullah, Jan!!"
"Kakak bacain ayat kursi nih ya lama-lama. Sumpah kamu tuh bikin makin kesel aja" dengus Air sambil menutup wajahnya dengan bantal dan itu membuat Hujan semakin tertawa terbahak-bahak.
Hujan yang baru mendapat halangan dua hari lalu sempat membuat Air uring-uringan, tapi kini ia bukan Air seperti dua tahun lalu yang akan marah atau menangis jika Hujan tak bisa melayaninya.
Cukup mendekap sang istri jauh lebih lama itu sudah bisa membuat ia tenang.
"Ya udah ayo, aku batuin kalo pengen" tawar Hujan pada bayi biaya cengeng nya
"Gak, mau nanti aja biar banyak banyak" tolaknya sambil terkekeh.
"Dih, sombongnya" ejek Hujan memencet Hidung Air yang
mancung.
"Mau gak?, mumpung aku kuliah siang nih" Rayu gadis cantik itu lagi.
"Enggak, Jan Hujan dereeeeeeeeeeeees!"
"Ay, aku tuh curiga kalo kamu begini" cetus Hujan merengut sedih.
__ADS_1
Tubuh langsing yang sebenarnya merasa nyeri di bagian pinggang itu langsung di tarik masuk kedalam dekapannya, ia peluk dengan erat sang istri sambil menciumnya berkali-kali.
"Aku gak mau kamu nahan sendiri, aku gak akan egois sekarang. Jangan curiga terus ya Hujannya Air"
Hujan yang mendengar semua perkataan suaminya hanya bisa tersenyum simpul, Ia begitu senang dengan cara Air yang kini semakin dewasa meski kadang ia juga rindu dengan derai air mata sang suami yang dulu sering menangis karna hal sepele.
Beban tanggung jawab yang semakin bertambah membuat pemuda tampan itu sudah tak memikirkan hal lain kecuali tugas kuliah dan istrinya.
Belum lagi sedikit demi sedikit ia sudah diminta ikut andil dalam perusahaan yang akan ia kelola dua tahun mendatang.
.
.
.
****
"Kak, nanti jadi kerumah utama?" tanya Reza saat sarapan.
"Ya udah, nanti kalau kamu masih disana mama sama papa nyusul ya" timpal Melisa yang dibalas anggukan oleh anak dan menantunya itu.
Usai sarapan Air dan Hujan berpamitan menuju kampus, keduanya berjalan menuju parkiran karna Hujan keukeh ingin naik motor meski Air berkali-kali menolaknya.
"Awas lepas" kekehnya saat memakai kan helm di kepala Hujan.
Air yang lebih dulu naik keatas motor besarnya lalu membantu sang istri juga naik, kini ia mulai menjalankannya menuju kampus.
Hanya empat puluh menit akhirnya sampai juga dengan selamat, Hujan langsung turun sambil mengusap dadanya.
"Nyawaku cuma satu loh, Ay" oceh Hujan Sambil memukulkan jaketnya di dada Air.
"Mang kamu pikir aku punya sepuluh?"
__ADS_1
Keduanya berjalan bersama memasuki gedung fakultas kedokteran lebih dulu karna Air terbiasa mengantar Hujan sampai gadis itu duduk di kursinya dalam kelas.
"Udah ya, Jangan kangen. Kakak tinggal, Ok" pesan sang suami.
"Hem, Iya"
Air menciumi seluruh wajah Hujan tak perduli meski banyak mahasiswa dalam kelas yang melihat.
.
.
Sepeninggal Air, Hujan hanya memainkan ponselnya sambil menunggu dosen datang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ups.. maaf!!
ππππππππππ
__ADS_1
Di maafin kok π€£
Like komennya yuk ramaikan