
π±π±π±π±π±π±π±π±π±π±
Nisa langsung terkulai lemas saat mendengar ucapan dokter yang mengatakan jika seorang nenek yang ia urus selama satu bulan ini telah pergi meninggalkannya dengan cara bunuh diri, kaget dan tak percaya menyelimuti hati Nisa. Ada sesal juga yang ia rasakan.
"Harusnya aku gak tinggal Mak Jum sendiri, Kak"
"Harusnya aku cek lebih sering dikamarnya"
"Harusnya aku urus dia dulu sebelum aku ke dapur"
Itulah kalimat kalimat penuh sesal yang keluar dari mulut Nisa yang kini dipeluk Air di lantai rumah sakit.
Gadis itu baru merasakan sakitnya ditinggal secara mendadak oleh orang yang ia urus dengan tulus meski dalam waktu yang singkat
"Jangan gitu, Nanti Mak Jum gak tenang kalo kamu nangisin" rayu Air yang bingung sendiri.
Ia merogoh kantong celananya untuk mencari ponsel tapi benda pipih itu ternyata tak ada disana.
"Apa mungkin di jaket?" Gumamnya sambil mengingat ingat.
Air melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah hampir sore dan itu tandanya Hujanpun sudah pulang dari kampus bersama supir pribadi mamanya.
Ia membawa Nisa duduk lagi di kursi tunggu agar gadis itu bisa lebih nyaman di pelukannya.
Sepuluh menit berlalu tak ada lagi isak tangis keluar dari mulut Nisa, gadis itu jauh terlihat lebih tenang sekarang.
"Kamu tunggu disini ya, kakak mau urus semuanya dulu. Nanti kita pulang ke Panti"
Nisa mengurai pelukannya, ia kini duduk bersandar sambil menatap punggung Air yang semakin jauh berjalan darinya.
.
.
.
Setelah mengurus semuanya Air bergegas menuju mobilnya diparkiran rumah sakit berniat mengambil ponsel yang sepertinya tertinggal disana usai ia menerima telepon dari Nisa tadi.
"Mana ya" gumamnya saat merogoh kantong jaketnya.
__ADS_1
"Ini dia" serunya lagi saat mendapatkan apa yang ia cari.
"Yah... mati sih! " umpat Air kesal saat ponselnya ternyata kehabisan baterai.
Pemuda tampan itu menghembuskan nafas kasar, ia ingat pada istrinya yang pasti saat ini sedang menunggu kabar darinya, karna Air hanya mengatakan akan pergi sebab ada urusan.
Aku dirumah sakit, lagi ngurus almarhum dulu ya sayang
Air mengucapkannya dengan mata terpejam seraya tangan memegang dadanya sendiri, Ia yakin jika istri yang amat ia cintai itu bisa mendengar suara hatinya.
******
Nisa yang duduk di samping Air hanya diam tak berbicara apapun selama perjalanan ke TPU membuat Air berkali-kali menoleh ke arah gadis itu.
"Ikhlasin, Mak Jum pasti bahagia disana" ucap Air setelah menghembuskan nafas berat.
"Apa dia gak seneng ya aku urus? sampe harus bunuh diri? "
"Nis.. kamu gak boleh punya pikiran kaya gitu." sentak Air yang kesal dengan ucapan tak masuk akal Nisa karna Air tahu jika gadis itu amat bisa di andalkan.
"Akunya ngerasa bersalah banget, Kak"
Disana ambulan yang membawa jenazah dan juga ada beberapa pengurus serta warga yang siap membantu acara pemakaman almarhumah.
"Udah siap semua?" tanya Air pada dua orang pria dengan cangkul di tangan mereka.
"Siap, Den"
Air mundur beberapa langkah saat pintu mobil dibuka dan jenazah mulai di keluarkan, Ia takut sungguh sangat takut.
Papa.. kakak lemes!!
.
.
.
Usai acara pemakaman, berdoa dan pemberian penghormatan terakhir semuanya langsung kembali ke Panti termasuk Air yang juga ikut kesana.
__ADS_1
Jam sembilan malam akhirnya Air berpamitan untuk pulang setelah menyerahkan beberapa tugas untuk para pengurus Panti selama satu minggu ke depan tentang doa bersama untuk Almarhumah Mak Jum nantinya.
"Hati-hati di jalan ya, kak" pesan Kak Aish pada pemuda tampan berhati malaikat itu.
"Iya, kalian istirahat ya" Balasnya sebelum menuju mobil.
Air yang merasa sangat lelah langsung menjalankan mesin mobilnya, ia hanya ingin segera membersihkan dirinya saat ini juga. Rasa penat dan pusing pun sudah mulai ia rasakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan bilang ketiduran di sofa cuma karna nungguin kakak ya Jan Hujan dereeeeeessss!!
Besok-besok jangan ngilang lagi yak kakπ€£π€£π€£
Tar gue pakein kalung yang ada krincingannya biar kalo lo geser dikit ketahuan π π
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1