Air Hujan

Air Hujan
bab 40


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air benar benar terlelap dengan memegang tangan Hujan, semua kembali normal sampai kelas pertama selesai, Hujan berusaha tak mempedulikan saat ada saja yang menyindirnya secara tak langsung, apalagi ia tahu persis ada satu temannya yang memang masih berstatuskan kekasih suaminya, dan ada dua yang sudah menjadi mantan Air.


"Ay, bangun" bisik Hujan saat dosen sudah keluar dari kelas.


Tak ada sahutan, pemuda itu benar-benar bagai orang pingsan saat tertidur.


"Lo emang gak ada kuliah hari ini?" tanyanya masih berbisik.


Drama Air dan di dalam kelas tentu membuat sebagian mahasiswa menjadi Riuh.


Yang jomblo meronta-ronta dan yang memiliki pasangan tentu menjadi uring-uringan.


Semua orang tahu jika Air tak pernah melakukan hal semanis ini pada saat berpacaran.


Mengantar kekasihnya sampai kelas sembari merangkul bahu itu adalah batas maksimal yang di tekankan oleh Air.


.


.


.


Hampir lima belas menit akhirnya pemuda itu membuka matanya, wajahnya seperti bayi tak berdosa meski ia sudah melakukan kesalahan hari ini, jika mungkin mahasiswa lain yang berbuat entah hukuman apa yang akan di berikan.


"Kok sepi?" tanyanya polos.


"Udah selesai" sahut Hujan, ia mencoba melepas genggaman suaminya Karna merasa keram dan sakit, tiga jam dalam posisi yang sama tentu kini hanya rasa nyeri yang ia rasakan.


"Kok cepet?" ucapnya sambil merenggangkan otot.


"Lo gak kuliah?, udah siang nih"


"Gak, ah. Tanggung. Lo ada kelas lagi gak?" tanya Air.


"Ada, dua jam lagi" jawab Hujan ketus.


Air tersenyum penuh arti, otaknya langsung tak beres dan tiba-tiba konslet saat tahu masih ada dua jam waktu yang di miliki istrinya.

__ADS_1


"Lumayan, Cukuplah dua jam"


"Apa yang cukup?" tanya Hujan bingung saat tangannya di tarik oleh sang suami.


Banyak pasang mata melihat Air dan Hujan yang tergesa menuju parkiran, salah satunya adalah Bumi, Adiknya itu sampai mengernyitkan dahinya.


"Kak...." panggil si anak tengah yang memiliki sifat tenang dan tak banyak tingkah.


Air dan Hujan reflek menoleh.


"Mau kemana?" tanya Bumi.


"Urusan suami istri, anak bawang gak boleh tau" jawab Air yang langsung pergi lagi.


*****


pasangan muda itu kini sudah ada dalam mobil mewah milik Hujan pemberian mahar dari sang suami.


Hujan tak banyak bicara meski segudang tanya hinggap di kepalanya, ia hanya menurut dan ikut entah kemana ia akan di bawa saat ini.


Sebuah bengkel yang terlihat nampak ramai, disini lah mereka berada.


Air mendudukkan sang istri di salah satu sofa dalam ruangan di lantai dua.


Keduanya nampak serius, apalagi saat Air menyalakan laptopnya diatas meja kaca.


Ia hanya sesekali menjawab karna selebihnya hanya mendengar penuturan orang tersebut.


Tak ada raut wajah menggemaskan atau senyum menggoda seperti biasanya.


Jadi ini sisi lain dari dirinya?


Nampak tenang dan dewasa jauh dari sikap manja dan konyol..


Hujan terus memperhatikan sikap lain suaminya, hal yang baru ia lihat selama mengenal sosok Air dalam hidupnya.


Air kali ini memposisikan diri sebagai seorang atasan yang sedang menerima laporan dari karyawan yang mengelola bengkelnya.


Di umurnya yang muda ia memang sudah memiliki berbagai usaha kecil.

__ADS_1


.


.


"Yuk" ajak Air tiba-tiba yang membuat lamunan Hujan. buyar seketika.


"Udah?" tanya gadis itu.


"Udah, Hayu cepetan ih" rengeknya lagi yang mulai pada sifat aslinya.


"Kemana?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Main main Air Hujan.. kita basah-basahan!!


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Pantang ada kesempatan nih anak...

__ADS_1


Gak bisa liat bini nganggur 🀭🀭🀭🀭


Like komen nya yuk ramai kan ❀️


__ADS_2