Air Hujan

Air Hujan
Bab 202


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Cuma uduk, Laba-laba sama kepuruk doang, Yang?" tanya Air pada istrinya yang sedang mengulum senyum.


"Anggap ini cuma pembuka, nanti juga di kantor udah ada berbungkus bungkus makanan dari berbagai hewan" cetus Hujan yang kini tahu kebiasaan suaminya sekarang.


"Hewan gimana?" tanya bunda bingung.


"Nasi goreng seafod, ayam bakar, sate kambing, tongseng sapi, bebek goreng, kerupuk udang, dan juga ikan pedes, iya kan?" seru Hujan dengan tawa kecil ke arah Air yang sedang mengusap tengkuknya.


"Perut kamu jangan terlalu buncit nanti malah jadi lahan perkelahian antar hewan loh, kak" bisik Hujan.


Air menelan salivanya dan langsung menoleh.


"BOHONG" balas si tampan.


.


.


Air mau tak mau akhirnya memakan apa yang sudah di hidangkan padanya dan hanya dalam hitungan menit semua tandas tak tersisa.


"Nambah, Ay?" tawar Bunda yang di jawab gelengan kepala meski sebenarnya ia ingin mengatakan IYA..


"Gak usah bun, kan depan kos-kosan ada tukang bubur sama gado-gado lontong, palingan nanti juga melipir kesana terus bungkus buat nerusin sarapan di kantor" jawab istrinya sambil terkekeh.


"Sayang Hujan banyak-banyak" timpal Air yang langsung memeluk sang istri dari samping dan ciuminya pipi Hujan berkali-kali sampai wanita itu tertawa geli dan malu.


"Tuh, bukannya sadar diri kalau di sindir malah kesenengan makin jadi deh nanti beli banyak makanan" oceh Hujan.


.


.


.

__ADS_1


Air yang hendak berangkat bekerja di antar oleh sang istri sampai depan pintu mobil, ia menciumi seluruh wajah Hujan bertubi-tubi sambil menangkupnya dengan kedua tangan.


"Nanti kalo mau kepasar jangan lama-lama ya, jangan capek-capek sama minum es sembarangan" pesan Air pada Hujan saat bunda tadi meminta izin padanya membawa Hujan ke pasar.


"Ini pasar modern kok, Ay. Bukan pasar tumpah"


"Iya, sama aja karna yang tumpah cukup cinta aku aja ke kamu" balas Air terkekeh lalu menyatukan kening mereka sampai hidung Keduanya pun bersentuhan.


"Ya ampun! Ini pipi buletnya udah kaya baso beranak" ejek Hujan saat mencium pipi suaminya.


"Asal masih ganteng, gak apa apa, Jan Hujan dereeees"


****


Air masuk kedalam mobil lalu menjalankan kereta besi itu menuju kos kosan miliknya lebih dulu sebelum ke perusahaaanya.


Ia yang baru setengah jalan malah justru berbalik arah saat sekertarisnya memberitahukan padanya jika ada rapat dadakan di kantor lewat sambungan telepon.


Kali ini ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karna ia tak lagi mempunyai banyak waktu.


Sampai disana pria tampan itu langsung masuk kedalam ruangan rapat, sudah banyak yang menunggunya termasuk Daniel sang sekertaris.


"Bagaimana, Tuan?" tanya Daniel pada Air yang terliihat begitu resah.


Air hanya menggelengkan kepalanya, urusan mendadak dan mendesak mengharuskannya ia pergi ke luar kota saat ini juga. Air mencoba menghubungi Bumi dan Langit untuk menggantikannya namun ternyata kedua saudaranya pun sama sibuknya.


"Urus semuanya, kita langsung ketemu di bandara dua jam lagi" titah Air yang akhirnya pasrah.


Air yang bangkit dari duduknya langsung ke luar dari ruangan rapat menuju lift, langkah kakinya begitu tergesa agar bisa dengan cepat masuk kedalam kotak besi tersebut, ia akan pulang lebih dulu untuk berpamitan pada istrinya.


Air yang sudah mengirim pesan lebih dulu pada Hujan untuk menanayakan keberadaannya langsung melesat kerumah.


.


.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Hujan saat ia menyambut suaminya di teras.


"Aku mau ke luar kota, besok sore juga pulang, gak apaapa ya" jelas Air dengan menatap kedua manik mata istrinya dengan intens.


"Sama siapa?" tanya Hujan lagi, kini raut wajahnya langsung berubah.


"Sama Daniel"


Hujan menghela nafasnya, jika saja ini bukan urusan pekerjaan tentu ia akan lantang tak mengizinkan.


"Janji langsung pulang ya" pinta ibu hamil itu seraya langsung memeluk sang suami.


"Iyalah, ngapain juga lama-lama" jawab Air sambil terkekeh.


Keduanya masuk kedalam kamar untuk membereskan barang yang akan dibawa Air ke luar kota nanti, tak lupa ia juga berpamitan pada Bunda seraya menitipkan Hujan selama ia tak ada.


"Aku pergi ya, nanti kalau udah sampe sana aku langsung telepon"


"Iya, kamu harus hati hati selama disana."


Pasangan suami istri saling berpelukan dan melakukan drama wajib mereka.


.


.


.


.


.


Cium kening, cium pipi, cium tangan juga peluk manja adalah hal yang paling aku sukai saat ini dari wanita yang masih setia bersamaku.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Jangan cwet cwet kak, tar gak di izinin pergi ma bini 🀣🀣🀣


like komennya yuk ramaikan.πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2