Air Hujan

Air Hujan
bab 105


__ADS_3

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•



Air yang lagi-lagi tak mendapat jatah main-main terlihat sangat lemas dan berantakan saat bangun tidur. Tak ada senyum di wajah tampannya seperti biasa membuat Hujan merasa serba salah.


"Ya udah sini, cepetan!" rayu gadis cantik itu pada Suaminya.


Air menggelengkan kepalanya, ia terlihat sangat malas untuk melakukannya.


"Kenapa sih?" tanya Hujan merasa bingung karna biasanya sang suami tak pernah menolak meski dengan cara apapun itu.


"Perasaan kakak gak enak banget, kenapa ya?" Air balik bertanya sambil memegang dadanya.


"Ada masalah?"


Lagi-lagi Air menggeleng kan kepalanya, Ia sendiri saja tak tahu dengan apa yang ia rasakan saat ini.


"Bumi atau adek mungkin lagi ada masalah, jadi kakak ikut rasain?" Ucap Hujan yang hanya di balas anggukan kecil oleh suaminya.


.


.


.


Jam tujuh semua berkumpul di ruang makan bersiap menikmati sarapan, Air dan Hujan yang hari ini mendapat jadwal hampir sama terlihat lebih santai.


"Kalian berangkat bareng?" tanya Reza pada si anak dan menantunya.


"Iya, selisih hampir satu jam sih," jawab si sulung, jadwal yang sering tak sama membuat Air harus lebih dulu mengantar Hujan ke kampus. Karna jika gadis itu membawa mobilnya sendiri sudah bisa di pastikan jika mereka tak akan bisa pulang bersama kecuali salah satunya meninggalkan mobil di area parkiran kampus.


"Hati-hati di jalan ya" Reza mengusap pipi putra Kesayangannya.


"Iya, Pah"


Selang hampir satu jam semua kembali ke aktivitas masing-masing, Reza, Langit dan Bumi ke kantor mereka masing masing sedangkan Cahaya, Melisa dan Hujan masih di dapur.


"Kak, mau ini gak?" teriak Si bungsu pada kakak sulungnya yang mendapat perintah untuk memberi makan ikan-ikan peliharaannya di kolam.


"Apa?" tanya Air tanpa menoleh.


"Kue bikinan kak Hujan, gak gosong loh" gelak tawa Cahaya mengalihkan perhatian Air.


Ia mendekat dengan langkah santai namun matanya berpusat pada sang istri yang sedang tersenyum bangga.

__ADS_1


"Cobain " Hujan menyuapkan satu iris kecil kue buatannya yang kali ini lumayan tak gagal.


"Enak gak?" tanyanya.


"Kemanisan, makannya depan kamu sih" Air malah merayu sambil mencium sekilas bibir istrinya tepat di depan si bungsu sontak membuat gadis kecil itu menjerit.


"Mamaaaaaaaaa, kakak ciuman!"


Hujan yang tak kuasa menahan malu hanya bisa menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang suami, sedangkan Air malah tertawa dan semakin senang menggoda adik kembarnya itu.


"Mau bawa gak buat di kampus?" tawar Hujan yang tahu jika Air memang hobby makan kapanpun ia mau.


"Buat ngemil, Kak" timpal Melisa sambil membereskan sisa bahan dan peralatan membuat kue tadi.


"Ngemil apa yang enak?" goda pemuda tampan itu sembari mengangkat dagu sang istri yang menggelengkan kepalanya.


Ngemilikin kamu lah...


******


Air membuang nafas kasar saat keduanya sampai di parkiran kampus, adanya pemasangan pipa besar membuat jalan lalu lintas menjadi macet parah dan itu tentu selalu membuat Air kesal.


"Kakak ke bengkel sebentar ya. Gak bisa anter ke kelas" ucapnya setelah mencium kening dan seluruh wajah istrinya yang berakhir ciuman di bibir.


"Ngapain?" tanya Hujan sambil menurunkan tangan suaminya dari salah satu bukit kembarnya. Ia tak ingin Air terpancing dengan keisengannya sendiri.


"Kan sebentar lagi, kak" Hujan memberi alasan agar suaminya tak pergi karena perasaannya mulai tak enak hati.


"Janji cuma sebentar, Ok"


Hujan akhirnya pasrah, ia hanya mengangguk tanpa memberi jawaban apapun.


Setalah memastikan istrinya sudah masuk kedalam gedung fakultas kedokteran, Air kembali melajukan mobil menuju salah satu bengkel yang sebenarnya jarang sekali ia datangi karna sudah menyerahkan semuanya kepada salah satu orang yang bisa ia andalkan.


Hanya tiga puluh menit akhirnya mobil sampai di depan bengkel miliknya. Ia menghela nafasnya saat melihat salah satu usahanya itu tak begitu ramai tak seperti dua bengkel yang lainnya.


Air yang baru turun langsung di sambut ramah oleh para karyawannya termasuk salah satu montir andalan di bengkel bernama Fakhry.


"Wih, bos besar dateng" Ucap pemuda yang lima tahun lebih tua dari Air.


"Baru sempet, Bang" jawab Air yang langsung masuk ke ruangannya bersama orang kepercayaannya itu.


Lima belas menit berlalu, Air kembali keluar sambil berpamitan pada semua pekerjanya, tak lupa ia juga memberi tahukan jika nanti ada makan siang untuk dan beberapa bingkisan untuk mereka semua, tentu itu di sambut baik oleh seluruh karyawannya dan juga Fakhry.


"Mau pulang atau ke kampus, Bos?"

__ADS_1


"Kampus, Bang. Jalanan hari ini macet semua, mana udah siang" keluhan Air saat melihat jam di pergelangan tangannya.


"Bawa motor Abang, gih" tawar Fakhry.


"Lah, nanti Abang pulang pake apa?" tanya Air bingung.


"Gampang, banyak yang bisa bareng nanti" ucapnya sambil menyerahkan kunci motornya.


Air meski ragu tapi akhirnya setuju, ia meminta tolong salah satu karyawannya untuk mengambil jaket dan helm di ruangannya.


"Makasih ya Bang"


Air mulai menaiki motor besar milik Fakhry, Ia melajukannya dengan kecepatan tinggi hampir di atas rata-rata dan tentu itu sangat di larang jika di lakukan di jalanan biasa yang ramai lancar dengan banyaknya pengendara lain juga, sampai akhirnya tiba tiba....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Ganteng banget sampe gak bisa komen 😭😭😭


Cuma di bikin bingung tiba2 apa?


Nyenggol tukang cincau πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan β™₯️β™₯️


__ADS_2