
ππππππππ
Air keluar dari toilet dengan langkah tergesa dan langsung duduk, Hujan yang sadar dengan gelagat suaminya pun langsung menodongnya dengan banyak pertanyaan.
"Kenapa? mules?" tanya Hujan.
"Enggak"
"Terus kenapa mukanya begitu?" tanyanya lagi saat ia tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh sang suami.
Air hanya tersenyum kecil, lalu mencondongkan wajahnya ke telinga Hujan.
"Celana kakak gak bisa di kancingin, tadi kancingnya lepas" bisik Air.
Hujan yang mendengar penuturan suaminya langsung tertawa kencang namun dengan sigap Air menutup mulut sang istri dengan telapak tangannya.
"Berisik ih!" ketus pria yang kini memiliki pipi bulat bak bakso beranak.
"Awas nanti dia nongol geleng-geleng loh, kak" ledek Hujan di sela gelak tawanya.
"Gak lah kalo kamunya gak buka gerbang kebon" cetus Air kesal.
Hari yang sudah hampir larut malam membuat keduanya memutuskan untuk pulang, namun mereka harus tetap mencari pesanan yang di pinta papanya lebih dulu yaitu rujak serut.
"Cari kemana malem malem begini" gumam Air yang sudah menjalankan mesin mobilnya
"Aku coba cari online ya"
Air hanya mengangguk sambil mendengarkan gumaman gumaman kecil yang terlontar dari bibir istrinya dan entah dari mana ide jahilnya pun muncul seketika.
Ia menepikan mobilnya di jalan yang lumayan sepi dan langsung menyergap sang istri dengan sedikit menindihnya.
__ADS_1
Hujan yang kaget hanya meronta sebentar dan akhirnya pasrah saat bibirnya terus di lu mat lembut, apalagi saat tangan halus Air mulai nakal masuk kedalam bajunya.
Punggung halus Hujan langsung menjadi sasaran awal dimana ia akan membuka pengait tutup dua bukit kembar area favoritnya itu.
Ia tersenyum menyeringai saat melepas ciumannya, karna bibirnya kini akan menjelajah ke leher jenjang Hujan sebelum ia akan lebih turun lagi ke gumpalan daging kenyal yang kini semakin menantangnya.
"Kak.. jangan disini" pinta Hujan saat Air membuka setengah kancing kemejanya.
"Pengen sekarang" jawabnya dengan nafas berat, gejolak kelelakiannya seakan tak bisa lagi ia bendung.
"Aku takut, Kak. Pulang aja yuk terusin dirumah"
"Tanggung, kamu juga udah pengen, kan?" Air justru balik menggoda karna kini tangannya sudah menyentuh ke bagian bawah yang lebih sensitif.
Hujan menggeleng sambil memejamkan matanya, ia tak bisa membayangkan semerah apa wajahnya kini karna menahan malu, Ia yang mengelak justru semakin di goda suaminya yang tahu karna sudah berhasil di sentuh.
Wajah tampan sang direktur itu kini sudah tenggelam di salah satu bagian daging kenyal milik istrinya, Ia bermain bagai bayi yang kehausan.
Air takan melepasnya jika belum puas.
"Gantian, Jan" pintanya yang bangun dari atas tubuh setengah polos Hujan.
Air yang sudah memposisikan duduknya mulai meminta sang istri agar mau bergantian singgah sebentar.
Hujan yang memang jarang melakukannya masih nampak ragu.
"Ayo, Jan Hujan dereeeees" rengek Air pada istrinya yang masih tertegun melihat tanpa belum mau menyentuh.
"Sekarang?" tanya Hujan polos.
"Nanti, abis ganti presiden" jawab Air asal.
__ADS_1
"Kapan itu?, berapa tahun lagi ya. Emang udah ada kandidatnya?" ucap Hujan yang membuat Air kesal.
"Kapan-kapan! Urus ini dulu cepetan bair makin tegak berdiri" titah Air yang sudah tidak tahan.
"Kenapa juga harus berdiri?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Iyalah... karna di dalem kebon kamu gak di sediain kursi.
πππππππππππ
Jongkok kak πππ
Jungkir balik juga ga apa2 kalo udah kecapean maju mundur cantiknya π€π€π€π€
Aish.. ngomong apa sih!!
__ADS_1
Like komennya aja lah banyak2...