Air Hujan

Air Hujan
Malu.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Rencana untuk pulang sore hari ke rumah utama pun di manfaatkan Bunda untuk bermain lebih lama dengan Samudera, bocah tampan itu terus saja berceloteh diatas pangkuan Bunda yang banyak melempar pertanyaan tentang kesehariannya, entah itu tentang sekolah atau kegiatan dirumah.


"Kenapa gak pulang setelah makan malam saja, Jan?" tanya Bunda saat Hujan duduk di sebelahnya membawa satu toples yang terbuat dari kaca berisi kue coklat dan strawberry kesukaan Samudera.


"Suamiku ada urusan sore ini, Kami akan ke kos kosan saat sekalian jalan pulang, Bun" jawab Hujan.


Sam yang tadi duduk diatas paha Bunda, kini pindah ke samping Hujan untuk menikmati kue berwarna merah muda favoritnya.


"Ya sudah kalau begitu, jadi sore nanti Bunda tak perlu masak ya" ucap si wanita berkacamata.


"Iya, Bun. Terimakasih sudah mau di repotkan oleh kami semua"


Setengah toples kue strawberry habis dalam dekapan sang putra mahkota. ia tersenyum senang karna perutnya semakin kenyang terisi.


Anak laki-laki itupun berlalu menemui papAynya yang duduk di teras rumah.


"Ntal sore pulang?" tanyanya pada Air yang sedang fokus pada game di ponselnya.


"Iya, kenapa?" Air balik bertanya sambil meletakkan benda pipih miliknya itu ke atas meja. Seasik apapun ia dengan gamenya pasti langsung berhenti saat sang putra datang menghampiri.


"Iya, tapi mampir dulu ya ke kos'an, mau kan?"

__ADS_1


Sam yang memang sebelumnya sudah mendengar dari Hujan saat berbincang barusan dengan Bunda tentu langsung mengangguk kan kepalanya. Ia setuju dengan tawaran yang diberikan pria tampan di depannya itu.


"Ok, tapi nanti beli eskrim tobeli ya" pintanya sambil tertawa kecil hingga deretan gigi putih kecilnya terlihat semua.


Jika tadi Sam yang mengangguk kini giliran Airlah yang melakukannya. Anak dan ayah itu sepakat dengan hasil nego mereka sore nanti.


.


.


.


Jam empat waktu setempat Hujan sudah menyiapkan segalanya, barang-barang ketiganya yang tak terlalu banyak sudah di masukkan Air kedalam mobil mewahnya.


"Hati hati di jalan, datang lah lagi jika sempat dan punya banyak waktu" pesan Bunda saat mengurai pelukannya.


"Tentu, Bun. Kami pulang dulu ya"


Hujan yang masuk ke mobil paling akhir kini sudah memakai seatbelt nya. Ia menoleh sejenak pada Sam yang juga sudah sangat nyaman dengan posisinya di kursi belakang.


.


.

__ADS_1


.


Perjalanan hampir satu jam itupun membawa kereta besi milik sang Direktur Utama Rahardian Grup berhenti di area parkir kos kosan yang sudah di miliki jauh sebelum menikah bahkan bertemu dengan Hujan yang kini menjadi istrinya. Ketiganya pun keluar dan turun dari mobil menuju bangunan bertingkat lantai tiga tersebut.


Air yang menggandeng tangan mungil sang putra lebih dulu menemui penjaga dan pengurus usaha sampingannya itu. Mereka berbincang cukup lama karna ada satu masalah yang harus cepat mereka bahas yaitu tentang arus listrik yang beberapa waktu lalu sempat konslet sampai hampir terjadi kebakaran. Hujan yang menununggu di pos jaga pun hanya duduk bersama Samudera.


"Moy, main ayun ayun yuk" ajak si bocah tampan itu sambil menarik tangan Hujan agar mau bangun.


Hujan yang bangkit pun langsung menuju area bermain anak-anak yang memang sengaja di sediakan. Wanita cantik itupun menyapa beberapa penghuni Kos'an yang sedang mengasuh atau sekedar ikut mengobrol di sore hari seperti ini.


Hujan tak pernah sungkan berbaur dan berbasa basi lebih dulu, ia tak pernah menganggap dirinya diatas saat bersama dengan orang orang dari kalangan menengah. Karna Hujan hanya akan mengangkat kepalanya jika sedang bertemu dengan kaum sosialita kelas atas, itu ia lakukan hanya demi mensejajarkan diri agar tak mempermalukan keluarga Rahardian yang sudah terkenal dengan limpahan hartanya.


Obrolan Hujan dengan beberapa ibu-ibu terhenti saat ia sadar putranya tak lagi berada di sampingnya.


"Loh, dede ngapain di sana?" tanya Hujan yang nampak bingung.


.


.


.


Dede malu di liat liat ciwi telus, Moy...

__ADS_1



__ADS_2