
ππππππππ
Sampai di laut, Air hanya duduk memperhatikan pemilik hatinya itu bermain pasir sambil berlari kecil jika kaki putihnya yang tak memakai sandal terkena deburan ombak. Dan saat itu juga Air akan sedikit khawatir, ia takut Hujan terjatuh karna berlarian.
"Jan, makan dulu yuk" teriak Air agar Sang istri mau menoleh padanya.
"Iya... "
Hujan berlari lagi menghampiri Air membuat pria itu berdecak kesal.
"Bisa gak sih gak usah lari, tapi jalan aja?" oceh Air sangat kesal karna rasa khawatirnya.
"Gendond deh kalo gitu" pinta Hujan manja.
"Gak mau, sekarang kamu berat" tolak Air yang langsung membuat Hujan memukuli lengannya.
"Aw! sakit Jan Hujan deres!"
Byaaaarrrr.
Hujan turun secara tiba-tiba membuat Air dengan sigap memeluk istrinya lalu berjalan mencari tempat untuk berteduh.
"Gak. Aku mau main hujan hujanan" tolak Wanita hamil itu melepas rangkulan suaminya.
"Apa sih! masa iya Hujan hujan hujanan. Ya Allah beliebet banget kan ngomongnya" oceh Air dengan nama istrinya sendiri.
Hujan yang tertawa malha berlari menjauh tak memperdulikan teriakn sang suami.
"Jan, nanti kamu sakit"
"Ya ampun!" gumam Air yang sebenarnya ikut senang tapi rasa khawatirnya tentu jauh lebih besar.
.
__ADS_1
.
.
.
Hujan yang meringkuk di atas ranjang terus di peluk oleh belahan hatinya. Tubuh kecil buncitnya kini sedang menggigil menahan dingin meski selimut tebal sudah membungkusnya.
"Nakal sih, gak pernah mau denger" omel Air.
"Aku udah lama gak main hujan hujanan, Ay"
"Ngapain hujan hujanan, nama kamu aja udah Hujan" cetus pria tampan itu lagi.
"Bedalah"
Hatchi....
Hujan yang terus menerus bersin membuat hidungnya kini kian memerah. Air yang tak tega akhirnya memanggil dokter darurat dari rumah sakit miliknya untuk segera datang ke hotel tempat ia menginap melalui helikopter.
"Cuma demam, nanti habis minum obat langsung istirahat ya" ucap sang dokter setelah memeriksa menantu dari Reza Rahadian Wijaya itu.
"Iya, dok"
"Semoga lekas sembuh, saya pamit" sambungnya lagi sambil bangun dari duduk setelah merapihkan alat periksanya.
Air yang mengantar sampai depan pintu langsung kembali masuk.
"Makan dulu ya sedikit, terus minum obat lanjut istirahat. Aku gak mau denger bantahan" ucap Air yang sudah siap menyuapi istrinya.
Hanya enam suap yang berhasil masuk kedalam perut Hujan itupun harus dengan bujuk rayu yang luar biasa dari suaminya yang teramat sabar.
"Di minum dulu obatnya"
Hujan menelan dua butir obat yang di sodorkan Air padanya, rasa pahit dan sedikit manis membuat ia sangat mual tapi Ia harus berusaha memasukkannya kedalam perut tanpa di muntah kan.
__ADS_1
"Sekarang tidur ya bidadarinya Air"
Pria tampan itu Langsung memeluknya dengan sangat erat sampai Hujan harus memukulnya karna sesak.
"Ini sih matiin aku, Ay" protes Hujan meronta ingin di lepaskan.
"Maaf, saking gak mau nya kehilangan kamu" ucapnya sambil terkekeh.
"Aku gak kemana mana, apanya yang kehilangan sih"
"Aku takut gan bisa lama-lama sama kamu, Jan" lirih si Sulung dengan nada bicara sedih namun lembut.
"Gak usah macem-macem, tadi nyuruh istirahat sekarang malah sendiriny ngomong ngelantur" dengus Hujan kesal.
Air mencium kening dan kedua pipi Hujan sebelum gadis itu terlelap.
.
.
.
.
.
.
Aku takut mak othor mencabut nyawaku tiba tiba.
πππππππππ
iya tar gue ganti si Daniel ya kak π€£π€£π€£π€£
like komennya yuk ramaikan
__ADS_1