
ππππππππ
Hujan yang sejak pukul sebelas malam mengompres kening Suaminya, tak sedetik dan sejengkal pun beranjak dari sisi Air yang terbaring sedikit menggigil diatas ranjang.
"Kamu tidur juga, Jan. Aku udah gak apa-apa" lirih Air dengan suara serak.
Weekend kali ini keluarga kecilnya memang tak berniat untuk keluar rumah karna Air harus mengecek satu persatu usaha sampingannya, mulai dari puluhan kos'annya, beberapa bengkel dan resto yang semua ia miliki jauh sebelum menjadi seorang Direktur di Rahardian Grup.
Air yang ingin semua dengan cepat ia jangkau akhirnya memilih menaiki motor besarnya. Namun, siapa sangka jika hujan deras turun tanpa di duga dan sangat mendadak membasahi seluruh tubuhnya yang kebetulan hanya memakai kaos oblong tangan panjang.
"Badanmu masih panas, Kak." jawab Hujan sangat khawatir.
"Aku udah enakan, nih keluar keringet banyak banget"
Hujan tetap menggeleng, ia yakin jika suaminya hanya merayunya saja agar cepat istirahat.
"Ya sudah, kita tidur sama-sama ya" ajak Air saat melirik jam. sudah lewat tengah malam.
Hujan yang tadinya bersikeras menolak akhirnya tak kuasa menolak lagi saat sang suami sudah menepuk bagian dadanya yang selalu menjadi tempat ternyaman bagi Hujan selama bertahun-tahun.
"Ayo cepat, aku ngantuk" ajak Air lagi.
Hujan langsung memeberikan senyum terbaiknya, ia langsung meringsek naik keatas ranjang dan tenggelam di balik selimut yang sama.
.
.
.
Appa, na?
"Lagi pipis, ayo bobo lagi" jawab Melisa saat Sam terbangun.
Reza dan Melisa yang tahu jika anaknya sore tadi sedang kurang sehat, tentu langsung mengambil alih Samudera untuk tidur dengan mereka.
Ama ih.
__ADS_1
Melisa hanya tersenyum simpul, ia usap wajah bulat sangat cucu yang terlihat kesal karna gajahnya hilang.
Cek lek.
Appa dede...
Sam langsung bertepuk tangan saat melihat Reza keluar dari kamar mandi, ia tertawa begitu senangnya sampai Melisa akhirnya sangat gemas padanya.
"Kok bangun?" tanya Reza sambil jalan mendekat.
Bobo.
"Iya, ayo bobo lagi"
Reza meringsek naik keatas ranjang, menarik tubuh Sam ke dalam pelukannya, hanya butuh waktu lima menit kedua mata bayi montok itu kembali terpejam nyenyak terbuai mimpi.
"Untung bangunnya pas aku bersih-bersih, bukan pas lagi piknik" kekeh Reza pada Khumairahnya yang nampak sudah tak kuat menahan kantuk.
Reza mencium tangan Melisa, mereka yang baru saja mereguk nikmatnya puncak pelepasan kini tinggal saatnya mengistirahatkan diri.
*****
Sarapan pagi ini, tanpa Air dan Hujan.
Keduanya memilih sarapan di kamar karna kesehatan si sulung yang masih sedikit demam. Samudera menikmati makan paginya dengan begitu lahap meski tiga puluh menit lalu ia baru menghabiskan susu satu botol besar.
"Abis makan kita jalan-jalan pagi ya" ajak Reza yang langsung di jawab anggukan kepala.
Iyyaaah.
" Mau kemana?" tanyanya lagi.
Aman culus.
"Jauh amat, hahahaa" timpal Melisa yang selalu tertawa saat mendengar obrolan suami dan cucunya.
__ADS_1
Usai sarapan Reza benar-benar membawa pergi Samudera ketaman kota, pekerjaan mantan presiden direktur itu hanya menghabiskan waktu bersama cucu kesayangannya, jadi tak salah jika keduanya begitu sulit di pisahkan terlalu lama.
"Dede anak baik ya" Reza terus saja mengajaknya berbicara dengan Samudera berada dalam gendongannya.
Iyyaaaah..
"Udah besar nanti harus lebih sukses dari Appa juga papAy ya" pesannya lagi
Iyyaaaah..
"Dede ganteng, pinter, dan baik anaknya siapa?"
Appa jajah..
"Ya ampun" Reza yang tak bisa menahan lagi tawanya Langsung menciumi kedua pipi samudera.
"Dede selain lucu, lalu apa lagi?"
.
.
.
.
.
.
Emesh..
Pengen nyocol pipinya sama sambel delan de'ππ
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1