
πππππ
"Tuan, Nona muda kembali mengamuk" ujar salah satu penjaga saat berpapasan dengan Air didepan pintu.
Air yang mendengar penuturan bodyguardnya itu bergegas masuk kedalam kamar perawatan istrinya.
Ia langsung mendekap Hujan untuk menahan amukan histeris dan jerit tangis yang menggema ke seisi ruangan.
"Tenang ya, jangan takut" bisik Air saat menenggelamkan kepala sang istri di atas dadanya.
"Kakak disini, janji gak akan ninggalin kamu lagi"
Rasa sesal menggelitik hatinya yang seharunya tadi tak pergi keluar bersama Bunda.
Hujan masih sedikit meronta meski tak lagi menjerit, perlahan ia tenang dan kembali tidur setelah suster memberi obat lewat suntikan.
.
.
.
.
Hari kelima akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa Hujan pulang kerumah utama atas saran dokter dan psikiaters karna Hujan membutuhkan ruang yang lebih luas dan tentunya suasana baru yang lebih nyaman mengingat dirumah utama tentu lebih banyak orang yang akan menemaninya keluar dari rasa terpuruk dan takut.
Berada di dekat Hujan tak bisa secar tiba-tiba, bahkan Air melarang orang baru untuk datang meski itu adalah kerabat Hujan, hanya keluarga inti yang di perbolehkan untuk melihat keadannya.
"Kita pulang ya cantik" ujar Air sambil menangkup wajah Hujan yang terlihat tirus, hanya obat dan cairan infus yang masuk kedalam tubuhnya.
__ADS_1
Hatinya selalu berdesir setiap fokus memperhatikan wajah sang istri yang jauh berbeda dari sebelumnya namun harus tetap di akui jika Hujan tetap cantik secara alami.
Hujan yang memang sedari bangun tidur hanya melamun pasrah saja saat suaminya memindahkan tubuh langsingnya dari tempat tidur ke kursi roda, ia yang bagai boneka hidup tentu tak memberontak sama sekali saat di perlakukan sedemikian rupa oleh Air.
******
Empat puluh menit berselang kini tiga mobil mewah sudah masuk kedalam garasi kediaman Rahardian. Air yang diantar kedua orangtuanya dan Anna langsung menggendong istrinya menuju kamar mereka di lantai dua.
"Kita udah nyampe, kamu haus gak?" tanya Air setelah membaringkan tubuh Hujan di tengan kasur, meski tahu semua ucapannya tak pernah di respon tapi ia tak pernah bosan mengajak bicara atau bertanya karna Air yakin jauh di bawah alam sadarnya tentu Hujan masih mengingat semuanya.
"Cepet sembuh ya, kakak kangen di galakin kamu. Cueknya cukup gak bales pesan chat kakak aja, tapi jangan sampe diemin kakak lama-lama begini ya" Ia berbicara tentu sambil menitikan lagi air matanya.
Hujan yang biasanya sering mengomel panjang kali lebar, mencubit serta memukulnya kini berubah menjadi gadis tak bersuara. Tatapan lembutnya berganti menjadi tatapan kosong tanpa makna.
Tapi itu tak mengurangi rasa sayang Air padanya, Hujan tetap menjadi pemilik hatinya apapun kondisinya dan seburuk apa mentalnya kini.
"Besok di rapihin ya rambutnya, biar makin cantik. Biar bintang iri sama kamu" kekeh Air di sela isak tangisnya.
"Jawab dong. Masa di diemin terus ini orang ganteng lagi ngomong, cium nih ya" Ancam Air yang masih tak mendapat respon
"Wah.. beneran pengen dicium"
Air mendekatkan wajahnya, ia ciumi kedua pipi Hujan bertubi-tubi sampai ia tergelak sendiri karna semakin gemas.
" Gak seru ah diem aja" keluhnya saat ia mencoba mengalihkan tatapan Hujan agar melihat matanya.
"Ayo liat sini, kakak disini loh, Jan" Air menangkup wajah istrinya yang berada di bawah kungkungannya.
Hujan yang masih saja mengabaiakannya tentu membuat Air semakin frustasi, ia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri sambil merengek kesal.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
kemarau panjang ini sih...
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
__ADS_1
Timpuk boleh?
Like komennya yuk ramaikan