Air Hujan

Air Hujan
bab 213


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


"Jangan buang tenaga dan waktumu untuk hal yang tak penting, lihat mataku bukankah hanya ada kamu disana?" tegas Air yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku hanya tak suka ada wanita lain menatapmu seperti tadi" ketus Hujan mulai berkaca-kaca, semakin besar kandungannya semakin ia takut kehilangan pria yang selalu menjadi sandarannya itu.


Air terkekeh gemas mendengar pengakuan Hujan, karna dulu gadis itu tak pernah mengaku jika sedang memendam cemburu padanya. Ia hanya diam seribu bahasa mengangguk dan menggeleng menjawab semua pertanyaan sang suami.


"Aku gak bisa larang orang buat liat aku, tapi aku bakal berusaha semampuku buat jaga pandangan ku sendiri ke wanita lain, udah ya jangan marah. Kita kesini mau liat sunset kan?" Rayu Air mencoba menenangkan Hujan saat satu tetes air mata pemilik hatinya itu jatuh kena tangannya yang masih melingkar di perut buncit sang istri.


Hujan mengangguk paham, bahkan ia menyandarkan kepalanya di dada Air yang kini berdiri tegak.


Masih terlalu siang memang untuk menunggu sunset maka itu Air mengajak Hujan untuk masuk.


Di sofa berukuran panjang, Air merebahkan kepalanya di atas paha istrinya, ia hadapkan wajah tampannya tepat di depan perut buncit Hujan.


"Kamu masih marah?" tanya Air dengan mata terpejam, ia sedang menikmati sentuhan lembut tangan sang istri di kepalanya.


"Enggak, aku percaya padamu" jawab Hujan dengan nada pelan.


"Sebenarnya gak akan ada pihak ketiga yang masuk kedalam rumah tangga kita kalau gak ada diantara aku atau kamu yang melayaninya, mau sesusah apapun orang ketiga itu berusaha. Tapi kalau gak di izinin dia tetep gak mungkin bisa masuk meski mungkin aja ada celah, dan tentunya kita akan baik-baik saja, kan" ucap Air yang takut jika Hujan masih memendam cemburu.


"Aku paham, aku minta maaf mungkin sudah keterlaluan menyikapinya" lirih Hujan tak enak hati meski ia tahu jika Air tak mempermasalahkannya.


"Teruskan, aku suka kamu cemburu asal dalam batas wajar. Aku merasa jika aku begitu berharga untukmu" Kekeh Air yang berbicara apa adanya, perubahan sikap Hujan beberapa waktu lalu memang membuat ia merasa tak berarti sedangkan Hujan sudah menjadi segalanya.

__ADS_1


"Cemburu ku hanya sebatas diam"


"Itu tentu karna kamu sangat merasakannya, kan?" godanya lagi yang kini sudah membuka kedua matanya.


"Iya, dan itu rasanya sakit, Sakit sekali, Ay"


Air kembali menutup matanya saat Hujan pun melanjutkan sentuhannya.


"Itu juga yang aku rasakan saat aku cemburu, tak jauh beda denganmu. Bahkan mungkin lebih parah" ketus Air meski itu jarang terjadi padanya. Siapapun tak akan berani mendekati Hujan saat tahu jika ia adalah wanita milik pewaris Rahardian.


"Lebih bagaimana?, kamu pasti akan Berkelahi, kan. Mematahkan tangan dan kakinya. Lalu jika kamu juga ikut terluka tentu aku juga yang akan susah merawat dan mengobatimu" cetus Hujan bagai semua pernah terjadi padahal itu hanya bayangannya saja.


"Aku akan kirim pria yang menggoda mu itu langsung ke neraka lewat jalur VVIP,Jan Hujan dereeeeeessss" balas Air tak kalah ketus dan serius, Tentu penuturannya itu membuat Hujan tertawa terbahak-bahak.


"Aku tahu rasa sakitnya cemburu itu seperti apa makanya, aku tak akan membuat mu merasakannya, Sayang" goda Air dengan senyum manisnya.


Hujan mengernyitkan dahinya saat Air tak melajutkan bicaranya.


"Karna apa?" tanya Hujan penasaran.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Karna perasaan cemburu tuh kadang serba salah, di ungkapin berantem, di pendem sakit, di tahan sesek.


Dan...


Yang aku tahu, kalau wanita itu bisa memendam cintanya hingga puluhan tahun tapi gak sanggup menahan


cemburunya walau sesat.. bener, gak?



🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Nah.. sekali kali ngobrol nya begini nih.. berfaedah ya AIR HUJAN 🀣🀣🀣🀣🀣


Adem gak bikin cenat cenut.

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2