Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 61


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Maaf, kak" lirih Hujan pada Air, ia mendekap tubuh suaminya itu meminta ampun atas rasa diamnya yang mengacuhkan selama satu hari kemarin.


"Aku salah karna tak bisa menjaga putraku dan kamu pun salah karna mengabaikanku" balas Air, ia mengusap punggung pemilik hatinya itu dengan lembut.


"Aku harap ini yang terakhir, sayang"


Keduanya berpelukan lama dan erat sampai kembali merasa tenang. Air menghapus kebasahan di wajah cantik Hujan dengan bibirnya, dari kedua pipi sampai berakhir di bibir mungilnya


"Aku mencintaimu, jangan berkata untuk pergi lagi" pinta Air dengan kening saling bersentuhan.


"Aku tak sanggup ditinggalkan, jadi ku mohon tetap bersamaku"


Hujan hanya mengangguk pasrah, apalagi saat Air kembali menciuminya dengan sangat lembut.


*****


Reza dan Melisa yang berada diruang tengah akhirnya memilih untuk berkunjung ke apartemen Bumi yang hanya berbeda lantai dengan mereka, Samudera yang tadi merasa takut dengan pertengkaran kedua orang tuanya pun kini berangsur tenang.


"Sam, baru pertama kayanya denger kakak bentak Hujan" ucap Melisa saat keduanya berada di dalam lift.


"Iya, moga gak trauma, dan gak inget hal ini lagi" jawab Reza yang nampak sangat khawatir.


Ia menciumi pipi Samudera dengan gemas sampai bocah tampan itu terkekeh geli.


Triiiing...


Pintu lift terbuka lebar, Pasangan suami istri yang masih saja romantis itu berjalan beriringan dengan Samudera yang di tuntun dikiri dan kanannya.


"Dedek mau mana?" tanya Melisa.

__ADS_1


Onty Yang.


"Ke Aunty Chaca aja yuk" goda Reza pada Samudera yang langsung menggelengkan kepalanya.


Nda.


Keduanya tertawa karna dengan lantangnya Samudera menolak bertemu anak bungsu mereka.


"Inget kakak sama Adek ya, sampe sekarang gak pernah akur" kekeh Melisa membandingkan putranya dengan adik. iparnya itu.


.


.


Reza langsung membuka pintu kediaman si tengah saat sampai disana, Samudera yang di sambut Khayangan langsung di peluk dan di gendong.


"Sayangnya Onty" ucap menantu kedua Rahardian itu sambil mencium pipi keponakannya.


"Bumi udah berangkat?" tanya Reza yang duduk di sofa single, belum adanya buah hati di antara Bumi dan Kahyangan tentu membuat apartemen mereka selalu nampak rapih dan bersih.


"Kak Hujan mana? tadi telepon aku katanya mau kesini ajak main Sam"


Reza dan Melisa pun saling melempar senyum dengan tatapan penuh arti.


"Mau apa kemari?" tanya Melisa.


"Cuma bilang mau main, kak Hujan minta di pesenin bolu gulung kukus, Mah" jawab Kahyangan Jujur, ia yang tak tahu apa-apa tentu mengatakan apa adanya saja.


"Biasanya minta ke mama, 'kan?" tanyanya sambil mengernyit kan dahi.


"Mungkin itu hanya alasan untuk Hujan datang kemari, biarkan saja. Mereka sudah dewasa dan mengerti cara menyelesaikan masalah" kata Reza yang nampak tenang.

__ADS_1


"Masalah apa? mereka bertengkar lagi." tanya Yayang yang kini mulai penasaran meski itu bukan hal yang aneh.


"Entah apa yang mereka ribut kan, sampai terdengar keluar kamar" cetus Reza kesal jika mengingat hal itu.


"Tumben, biasanya paling kejar-kejaran" kekeh Yayang.


"Mereka bertengkar di hadapan Sam, itu yang bikin papa kesal" jawab Melisa yang mengerti dengan perasaan suaminya itu.


"Kalau saja tak ingat dengan Samudera, ingin rasanya papa menghukum mereka berdua" cetus Reza.


"Mau di hukum apa?" tanya Melisa dan Kahyangan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mengelap kaca seluruh gedung apartemen, mungkin.


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€

__ADS_1


Berapa hari baru kelar 🀣


like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2