
πππππππ
Ales.
Samudera menjawab ajakan orangtuanya itu dengan nada santai, tapi tetap memasang wajah merengut kesal di atas boneka gajah abu-abunya.
"Kenapa males? ada Appa loh" goda Air.
Apaa na?
"Appa dirumah Onty Chaca, yuk sana. Ada yang mau ketemu dede" timpal Hujan, kali ini ia akan sedikit memaksa anaknya untuk cepat bersiap.
"Mau gak? tinggal ya, dede sama Jajah aja dirumah, ok"
Nda.
Samudera bangun dari tidur malasnya di atas gajah, mendekat kearah Hujan yang sudah merentang kan tangannya.
"Mandi dulu ya, bau asem nih"
Iyaah.
Hujan membawa anaknya menuju kamar mandi, ia bersihkan dengan sangat telaten tanpa berendam karna keluarga suaminya kini tentu sedang menunggu kehadiran sangat putra mahkota Rahardian dirumah Cahaya, anak bungsu sekaligus menantu Satu-satunya Biantara.
Usai mandi dan berpakaian rapih, Kini Air dan Hujan yang membersihkan diri secara bergantian mengingat tadi mereka sempat melakukan hal yang menyenangkan meski tak sampai berlanjut lebih jauh karna panggilan telepon dari Reza..
"Udah belum?" tanya Air memastikan jika anak dan istri nya sudah siap untuk pergi ke apartemen Cahaya.
"Udah, yuk" ajak Hujan yang malah lebih dulu keluar dari kamar menuntun Putranya.
Air yang berjalan mengekor di belakang memcoba menghubungi Bumi untuk menanyakan tentang keberadaan tante Via.
"Gimana, masih disana gak?" tanya Hujan sambil menapaki satu persatu tangga dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Masih, lagi nunggu kita" jawab Air yang dengan sabar menunggu anaknya berjalan lebih dulu.
Keluar dari apartemen kedua orang tuanya, kini pasang suami istri itu bergegas menuju apartemen si bungsu yang hanya berbeda beberapa lantai, Samudera yang di tuntun Air dan Hujan pun berhenti secara mendadak.
"Kenapa?" tanya Air pada putranya.
Apek
..."Badan aka di gedein, nyusu se gentong tapi jalan segitu capek" ledek Air yang langsung mendapatkan cubitan panas dari istrinya. ...
"Sakit, Jan!" keluh Pria tampan itu sambil mengusap lengannya.
"Kakak ih, kalo ngomong" sungut Hujan kesal, ia tak pernah terima jika anaknya di ledek meski oleh suaminya sendiri.
"Iya, ampun. Tapi kenyataan" balasnya sambil tertawa.
Air langsung menggendong Samudera menuju lift yang akan mengantar ketiganya ke lantai tempat tinggal Cahaya dan Langit, Pasangan suami istri yang tak terpisahkan sama sekali dari bayi.
Triiiing.
Huleeeeeeee..
Agih, Pay.
"Gak, nanti aja pas pulang" tolak Air saat Sam ingin mengulangnya lagi.
Pintu apartemen kini semakin dekat dari jangkauan mereka, bahkan sebelum sampai saja benda bewarna coklat itu sudah terbuka lebar.
"Terimakasih" ucap Air dan Hujan pada assisten rumah tangga adiknya itu.
Mereka masuk dengan langkah langsung menuju ruang tamu, sudah banyak orang disana termasuk tante Via yang sedaritadi menunggu.
"Apa kabar, sayang" tanya tante Via pada Hujan setelah memgurai pelukan mereka.
__ADS_1
"Baik, tante. Tante sendiri bagaimana? lama tak bertemu" Hujan balik bertanya, ia benar-benar merindukan sosok wanita yang dulu ada untuknya, kerabat jauh Rahardian yang tinggal jauh di luar negeri.
"Sam, Ganteng banget sih, tante selama ini cuma lihat kamu di video call, kali ini bisa ketemu langsung" ucap Tante Via begitu bahagianya.
"Yuk gendong"
Samudera menggelengkan kepalanya, sedari tadi matanya memang selalu melihat ke arah Reza dengan Cahaya yang bergelayut manja dilengan Appaanya, Si bungsu yang tahu jika keponakannya itu akan menangis malah semakin jadi meledek.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Huaaaaaa.... onty akal...
Berantem aja terooooooos...
__ADS_1
Rebutan gajah sono ππππ
Like komennya yuk ramaikan.