
πππππππππ
"Mauuuuuuuuuuuu"
Air yang baru datang ke kamarnya langsung berteriak setelah membuka pintu, ia sedikit berlari kemudian duduk di sisi Hujan yang sedang menyusui buah hati mereka.
"Aku kapan bisa nengok Oppa?" tanya Hujan pada sang suami yang baru pulang dari rumah utama usai mengantar pria baya itu dari rumah sakit.
"Kapan pun kamu mau, Cantik"
Air terus saja mengganggu Baby Bearnya, memainkan pipi bulat sang putra dan juga menciumi tangannya yang sangat kecil namun harum khas bayi.
"Yang satu nganggur nih, Jan" goda Ai pada istrinya.
"Gak usah macem-macem!"
"Aku cuma mau satu macem, sayang. Yuk mumpung si ganteng tidur" ajaknya yang ingin basah-basahan setelah lebih dari empat puluh hari berpuasa.
"Kalo jam segini gak lama tidurnya" sahut Hujan yang hafal betul dengan kelakuan putranya itu.
"Akunya mainnya sebentar" bisik Air sambil menciumi Hujan dari kuping sampai leher.
Hujan hanya diam, fokusnya kini dibagi dua antara suami yang menggoda dan anak yang sudah terlelap dalam dekapannya.
__ADS_1
Tangan jahil Air kini sudah menyusup kedalam dress yang kini sang istri kenakan, napasnya yang hangat membara membuat Hujan pasrah.
"Aku taro dedenya dulu ya" ucap Hujan tanpa melepaskan dadanya yang masih menyusui Baby Bear.
Hujan bangun dari duduknya, kemudian bejalan menuju box bayi tempat dimana Samudera tidur jika siang hari, meletakkannya secara perlahan agar si tampan kesayangan Rahardian itu tak bangun karna ada bayi besar satunya lagi yang harus ia urus dengan cepat.
Air yang sudah membuka bajunya kini tengah menunggu sang istri di tempat tidur, ia yang baru saja berbuka puasa seminggu lalu tentu akhir-akhir ini seperti orang kelaparan yang baru saja menemukan makanan yang lezat.
"Cepetan, Jan"
Hujan hanya melempar senyum sambil terus melangkah mendekat kearah suaminya, dada polos yang tak mengenakan apapun itu bagai melambai kearahnya ingin segera ia hinggapi karna disanalah tempat terbaik dan ternyaman bagi Hujan.
Wanita cantik itu segera meringsek, tangannya di tarik Air membuat Hujan bingung karna tak di izinkan untuk merebahkan diri.
" kok curang?" protes Hujan yang kini di paksa duduk di atas tubuh sang suami yang sudah berbaring.
"Ini tuh gaya darurat, Jan. Ayo cepet bukain nih udah sakit banget di kurungin. Udah pengen keluar sangkar buat angguk angguk sama geleng-geleng" tawanya sampai bahunya terguncang karna geli sendiri.
"Dih, apaan sih. Gak usah berisik nanti dede bangun!"
Air hanya mengulum senyum, ia benar-benar pasrah apa yang di lakukan istrinya saat ini termasuk saat tangan Hujan mulai membuka celamnya.
Ekor buaya yang menyembul di balik sangkar membuat Hujam terkekeh kecil, di usapnya perlahan sampai Air akhirnya mende sah.
__ADS_1
Baru di gituan aja udah merem melek!!
Pria di bawahnya itu kini membuka kancing dress Hujan, mengeluarkan dua bongkahan daging kenyal yang kini menjadi milik Baby bear, ia memang sudah berbuka puasa di bawah tapi tidak dengan bagian atas. Air harus sabar sampai dua tahun mendatang tak bisa menikmati dua bukit kembar sang istri, ia hanya bisa singgah dan memeberi jejak disana tanpa memainkan kerikil kecil di puncaknya.
"Masukin, Jan" titahnya yang tak lagi kuat saat Hujan memainkannya dengan sangat lembut.
.
.
.
.
Eeeeeeaaaaaakkkkkk
π»π»π»π»π»π»π»
Sukuriiiiiiiiiin. π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Yuk gue tuntun ke kamar mandi, bersolo karir lah engkau wahai bayi buaya cengeng πππ
Like komennya yuk ramaikan
__ADS_1