
ππππππππππ
Usai merapihkan diri keduanya bergegas keluar untuk menemui Reza di kamarnya, namun langkah mereka berhenti saat melihat Melisa di depan pintu.
"Mah, papa mendingan?" tanya Air yang di jawab gelengan kepala oleh mamanya.
"Belum sayang" Melisa memeluk Hujan dengan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.
qa"Bawa kerumah sakit, Mah" tawar Air lagi.
"Gak mau katanya, padahal udah di rayu macem-macem"
"Pake rayuan maut dong, Mah, yang bisa bikin papa angguk-angguk geleng-geleng " Air menggoda sambil tertawa terbahak-bahak namun tak lama kemudian justru berubah menjadi jerit kesakitan saat kedua Ratu dalam hidupnya itu menyerangknya secara bersama.
Melisa yang sebenarnya lelah dan juga sakit kepala akhirnya meminta sang menantu untuk membuatkan teh untuk suaminya dan tentu langsung di iyakan oleh Hujan meski ia sendiri tak yakin.
"Aku temenin, yuk" ajak Air yang mengerti jika istrinya itu sedikit ragu.
Setelah Melisa masuk lagi ke kamarnya , Air dan Hujan langsung turun ke bawah menuju dapur untuk membuat satu cangkir teh hangat untuk Reza.
"Segini kemanisan gak?" tanya Hujan sembari menyodorkan satu sendok teh buatannya kedepan bibir sang suami.
"Banget, kan nyobainnya sambil liatin kamu" jawab Air menggoda dan menarik pinggang rampung Hujan.
Ia menyesap bibir ranum sang istri dengan begitu lembut, ada sensasi lain saat ia menyentuh Hujan akhir-akhir ini, rasa yang tak pernah puas, mau dan mau lagi seakan tak ingin berhenti.
"Astaghfirullah, kak"
Hujan langsung mendorong tubuh Air sampai mundur satu langkah karna gadis itu kaget saat ada Bumi yang baru saja masuk kedapur.
Dasar anak bawang....
*****
__ADS_1
"Maaf merepotkanmu" ujar Melisa saat anak dan menantunya masuk dengan membawa nampan berisikan satu cangkir teh hangat.
"Enggak, Mah." jawab Hujan sambil memberikan cangkir tersebut.
"Mas, bangun dulu katanya mau teh hangat" ucapnya membangunkaan Reza yang tertidur dalam dekapannya.
"Posisi paling enak tuh, wajarlah kalo papa susah di bangunin" bisik Air di telinga istrinya.
Reza yang seakan sulit membuka matanya hanya bergeliat kecil, tak ada tanda-tanda pria beranak tiga itu bangun dari tidurnya.
"Pah... bangun, keenakan ya nemplok disitu" ejek Air pada Papanya.
Masih terdengar dengkuran kecil keluar dari mulut Reza yang akhirnya membuat Melisa pasrah dan tak lagi memaksa suaminya untuk bangun.
"Ay, keluar yuk, Papa makin nyenyak" ajak Hujan yang melihat mama mertuanya pun butuh istirahat.
"Kalian nginep ya" punya Melisa yang langsung di iyakan oleh Hujan dan Air.
"Kita keluar dulu ya, Mah" pamit Air.
.
.
"Udah mau malem, cepet banget ya" ujar Hujan saat ia dan sang suami menuruni tangga.
"Mau jalan-jalan, gak?" tawa Air
"Sekalian ambil pisang di rumah utama," kekeh Hujan yang masih kalah pamor dengan si kuning.
"Enggak, nanti ada supir yang anter kesini"
DAEBAK...
__ADS_1
Hujan tertawa sambil bertepuk tangan kecil mendengar perlakuan manis Air pada bantalnya itu.
"Diantaer pake helikopter ya" ejek Hujan.
"Enggak, di anter pake kereta kencana" jawab Air sambil mendengus kesal.
Tawa keduanya berhenti saat mendengar derap langkah seseorang seakan mendekat kearahnya sambil memanggil nama Air
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kak... Papa pengen GRONTOL JAGUNG, cari dan belikan ya.
ππππππππ
Selamat mencari ya sayang...
__ADS_1
like komennya yuk ramaikan